Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – DUBAI. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya agar tidak melancarkan serangan besar baru. Teheran mengklaim telah memperoleh informasi mengenai persiapan serangan tersebut.
Komando pusat militer Iran melalui media pemerintah pada Minggu (20/9/2026) menyatakan, setiap serangan baru akan dibalas dengan serangan berkelanjutan terhadap pangkalan dan kepentingan AS.
Iran juga memperingatkan bahwa negara-negara sekutu Washington di kawasan akan dianggap sebagai pihak yang terlibat dalam konflik.
Militer Iran tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai informasi yang disebutnya sebagai indikasi adanya rencana serangan AS.
Peringatan tersebut muncul setelah serangkaian serangan drone dan rudal terhadap Arab Saudi, yang semakin meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS pada Sabtu (19/9/2026) mengeluarkan peringatan keamanan terkait potensi eskalasi yang tidak terduga di Timur Tengah.
Dalam peringatan tersebut, warga negara AS diminta meningkatkan kewaspadaan serta mengantisipasi kemungkinan pembatalan penerbangan dan penutupan wilayah udara.
Perang AS-Iran Belum Menunjukkan Tanda Berakhir
Hampir tujuh bulan setelah perang AS-Iran berlangsung, belum terlihat adanya kesiapan dari kedua pihak untuk membuat konsesi besar yang diperlukan guna mengakhiri konflik.
Situasi tersebut turut menambah tekanan terhadap pasar energi global yang sudah berada dalam kondisi ketat. Konflik antara AS dan Iran juga terus berdampak terhadap sejumlah krisis lain di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Houthi Klaim Serang Riyadh dengan Rudal dan Drone, Asap Membubung Dekat Bandara
Pada Sabtu (19/9), kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan ke ibu kota Arab Saudi, Riyadh, serta sebuah fasilitas minyak utama di Yanbu, pelabuhan Saudi di kawasan Laut Merah.
Serangan tersebut terjadi setelah kelompok Houthi dilaporkan memperoleh kemajuan besar di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman, menyusul kembali berkobarnya perang saudara di negara tersebut pada bulan ini.
Video Reuters memperlihatkan kepulan asap hitam besar membubung dari kawasan sekitar bandara internasional utama Riyadh setelah terdengar sejumlah ledakan di ibu kota Arab Saudi pada malam hari.
Pemerintah Arab Saudi belum memberikan komentar terkait insiden maupun klaim Houthi tersebut. Namun, koalisi pimpinan Saudi yang memerangi Houthi menyatakan telah menggagalkan serangan lain yang menyasar wilayah kerajaan.
Peringatan keamanan Departemen Luar Negeri AS juga menyebut aktivitas permusuhan Houthi terhadap Arab Saudi, termasuk ancaman terhadap bandara sipil.
Departemen Pertahanan AS belum memberikan tanggapan langsung terhadap permintaan komentar Reuters mengenai pernyataan Iran terkait dugaan adanya serangan AS yang sedang dipersiapkan.
Arab Saudi Hadapi Dilema Menghadapi Houthi
Peningkatan serangan Houthi menempatkan Riyadh dalam situasi yang sulit. Arab Saudi harus mempertimbangkan apakah akan terus melakukan serangan udara terhadap kelompok tersebut untuk mencegah penguasaan wilayah Yaman yang lebih luas atau mengurangi operasi militer dengan harapan dapat mencegah serangan drone terhadap infrastruktur penting.
Kemajuan Houthi di sepanjang pesisir Yaman juga memiliki implikasi terhadap jalur perdagangan internasional.
Pasukan Houthi kini berada di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Posisi tersebut memberikan kelompok tersebut akses yang lebih besar untuk mengendalikan pelayaran antara Laut Merah dan Asia, sekaligus membuka kemungkinan terhadap gangguan pada jalur perairan strategis tersebut.
Di sisi lain, Iran telah melakukan blokade terhadap sebagian besar pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi ini membuat ekspor energi dari kawasan Teluk yang kaya minyak semakin sulit mencapai pasar global.
Gangguan tersebut menambah tekanan terhadap harga minyak dunia, terutama karena kawasan Teluk merupakan salah satu pusat utama pasokan energi global.
Baca Juga: Serangan Drone Guncang Moskow, 4 Orang Tewas di Tengah Pemilu Rusia
Blokade Pelabuhan Iran Tekan Ekonomi
Tekanan terhadap sektor energi juga datang dari tindakan AS terhadap Iran. Blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran menghambat Teheran dalam menjual minyaknya ke pasar internasional.
Situasi tersebut turut memperburuk tekanan terhadap perekonomian Iran yang terdampak perang dan berbagai pembatasan perdagangan.
Meski konflik telah menimbulkan kerugian besar bagi berbagai pihak, belum terlihat tanda-tanda bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai pada Juni akan kembali diberlakukan.
Kesepakatan tersebut runtuh pada Juli setelah Iran dan pihak lawan berselisih mengenai sejumlah ketentuan dalam perjanjian.
Iran pada Minggu kembali menegaskan bahwa mereka tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sampai persyaratan dalam kesepakatan Juni, berdasarkan interpretasi Iran, dipenuhi.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan Iran harus terus menjalankan dua jalur sekaligus, yakni perlawanan militer dan diplomasi.














