Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pakistan disebut telah menyampaikan proposal perdamaian baru dari Iran kepada Amerika Serikat (AS) di tengah upaya diplomasi yang masih menemui jalan buntu dalam konflik di Timur Tengah.
Proposal tersebut disebut memiliki sejumlah kesamaan dengan usulan sebelumnya yang telah ditolak oleh Presiden AS Donald Trump, meski Teheran menilai Washington mulai melunakkan sikap pada beberapa isu.
Baca Juga: Yield Obligasi AS Sempat Tembus Tertinggi 14 Bulan, Lalu Terkoreksi
Sumber Pakistan yang terlibat dalam komunikasi antara kedua pihak mengatakan proses negosiasi masih sulit karena masing-masing pihak terus mengubah posisi tawar.
“Iran dan AS terus mengubah goalpost. Kami tidak punya banyak waktu,” ujar sumber tersebut kepada Reuters Senin (18/5/2026).
Keterlibatan Pakistan dalam mediasi dilakukan setelah negara tersebut menjadi tuan rumah satu-satunya putaran pembicaraan damai bulan lalu, menjadikannya kanal komunikasi tidak langsung antara Teheran dan Washington.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengonfirmasi bahwa pandangan Iran telah disampaikan kepada AS melalui Pakistan, meski tanpa merinci isi proposal.
Baca Juga: Ekonomi ASEAN Terancam, US$ 13,1 Miliar Pajak Hilang Akibat Rokok Ilegal
Dalam usulan terbaru, Iran disebut kembali mendorong penghentian perang, pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, serta pelonggaran sanksi maritim. Isu paling sensitif seperti program nuklir akan dibahas pada tahap berikutnya.
Namun, menurut sumber Iran, AS dikabarkan mulai menunjukkan fleksibilitas, termasuk rencana pelepasan sebagian aset Iran yang dibekukan di luar negeri serta kemungkinan pelonggaran terbatas aktivitas nuklir sipil di bawah pengawasan internasional.
Di sisi lain, media Iran Tasnim melaporkan bahwa AS juga mempertimbangkan pelonggaran sementara sanksi minyak selama proses negosiasi berlangsung, meski belum ada konfirmasi resmi dari Washington.
Konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan ini memicu ketegangan global, terutama setelah gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Baca Juga: Pakistan Kerahkan 8.000 Tentara dan Jet Tempur ke Arab Saudi di Tengah Perang Iran
Presiden Donald Trump sebelumnya menegaskan tekanan terhadap Iran agar segera menyepakati kesepakatan, bahkan menyebut situasi semakin mendesak.
Sementara itu, Iran menyatakan siap menghadapi berbagai skenario, termasuk kemungkinan eskalasi militer, di tengah upaya diplomasi yang masih rapuh dan belum menghasilkan kesepakatan konkret.












