kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.700   114,00   0,65%
  • IDX 6.470   -252,97   -3,76%
  • KOMPAS100 859   -34,67   -3,88%
  • LQ45 638   -20,11   -3,06%
  • ISSI 234   -8,67   -3,57%
  • IDX30 362   -9,19   -2,48%
  • IDXHIDIV20 447   -8,29   -1,82%
  • IDX80 98   -3,68   -3,61%
  • IDXV30 127   -2,61   -2,01%
  • IDXQ30 117   -2,43   -2,04%

Bursa Asia Melemah, Obligasi Tertekan Seiring Kenaikan Harga Minyak


Senin, 18 Mei 2026 / 11:45 WIB
Bursa Asia Melemah, Obligasi Tertekan Seiring Kenaikan Harga Minyak
ILUSTRASI. Bursa Asia anjlok akibat ketegangan geopolitik. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi global. Investor juga mulai bersikap hati-hati menjelang laporan keuangan raksasa chip AI, NVIDIA Corporation, pekan ini.

Laporan Reuters menyebutkan, serangan drone memicu kebakaran di pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab. Sementara itu, Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat tiga drone di tengah meningkatnya tensi kawasan.

Presiden Donald Trump juga memperingatkan bahwa Iran harus bertindak cepat untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Di sisi lain, Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi global masih ditutup hampir sepenuhnya. Iran disebut tengah berupaya memperkuat kontrol atas jalur laut yang dalam kondisi normal dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.

Analis Capital Economics memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz berpotensi menguras cadangan minyak global dengan cepat.

“Penutupan tersebut dengan cepat menguras persediaan minyak global,” tulis Capital Economics dalam laporannya.

Baca Juga: Perang Iran Picu Lonjakan Harga Solar, Anggaran Sekolah di AS Tertekan

Mereka memperkirakan harga minyak Brent dapat melonjak ke kisaran US$ 130 hingga US$ 140 per barel apabila gangguan pasokan terus berlangsung hingga akhir Juni.

Bahkan, jika Selat Hormuz tetap ditutup hingga akhir tahun dan harga minyak bertahan di sekitar US$ 150 per barel sampai 2027, kondisi tersebut berisiko mendorong inflasi Inggris dan zona euro mendekati 10%, memaksa bank sentral kembali menaikkan suku bunga dan memicu resesi global.

Pada perdagangan Senin, harga minyak Brent naik 1,9% menjadi US$ 111,34 per barel. Sementara minyak mentah AS menguat 2,3% ke level US$ 107,84 per barel.

Yield Obligasi Melonjak

Kenaikan harga energi juga memukul pasar obligasi global. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi 15 bulan di 4,631% setelah melonjak 23 basis poin pekan lalu.

Sementara yield obligasi tenor 30 tahun mencapai 5,159%, tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Di Jepang, yield obligasi juga menyentuh level tertinggi sejak 1996 setelah pemerintah mengusulkan penerbitan utang baru guna mendanai stimulus fiskal tambahan untuk meredam dampak ekonomi perang AS-Israel melawan Iran.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor bahwa bank sentral global, termasuk Federal Reserve, akan kembali memperketat kebijakan moneter demi mengendalikan inflasi.

Pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed tahun ini berada di kisaran 50%.

Bursa Asia dan Wall Street Terkoreksi

Indeks saham Asia ikut tertekan. Indeks Nikkei Jepang turun 1,1% setelah pekan lalu terkoreksi 2% dari level tertinggi historis.

Saham Korea Selatan melemah 0,1%, sementara indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,9%.

Sebaliknya, saham unggulan China relatif stabil meskipun data ekonomi terbaru mengecewakan. Penjualan ritel China pada April hanya tumbuh 0,2%, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 2%.

Output industri China juga hanya naik 4,1%, menunjukkan pemulihan ekonomi yang masih lemah.

Kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 0,6%, sedangkan futures Nasdaq melemah 0,8%.

Baca Juga: Produksi Batubara China Turun 1% pada April 2026, Pasokan Masih Ketat

Nvidia dan Walmart Jadi Sorotan

Fokus investor pekan ini juga tertuju pada laporan keuangan NVIDIA Corporation yang dijadwalkan rilis Rabu mendatang.

Ekspektasi pasar terhadap perusahaan chip AI terbesar dunia tersebut sangat tinggi di tengah lonjakan permintaan semikonduktor untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan atau AI.

Saham Nvidia telah melonjak 36% sejak posisi terendah pada Maret lalu, sementara indeks semikonduktor Philadelphia menguat lebih dari 60%.

Selain Nvidia, pasar juga menantikan laporan keuangan sejumlah peritel besar yang dipimpin oleh Walmart untuk mengukur daya tahan konsumsi masyarakat di tengah tingginya harga energi.

Di pasar mata uang, dolar AS cenderung menguat karena dianggap sebagai aset likuid utama di tengah meningkatnya aversi risiko global. Selain itu, status Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih memberikan keuntungan relatif dibandingkan Eropa dan sebagian besar negara Asia.

Sementara itu, harga emas justru melemah 0,2% menjadi US$ 4.527 per ons dan belum banyak mendapat dorongan sebagai aset safe haven di tengah eskalasi geopolitik global.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×