kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.641.000   -14.000   -0,53%
  • USD/IDR 18.035   45,00   0,25%
  • IDX 5.873   -113,12   -1,89%
  • KOMPAS100 763   -18,32   -2,34%
  • LQ45 583   -12,03   -2,02%
  • ISSI 203   -3,37   -1,63%
  • IDX30 330   -6,18   -1,83%
  • IDXHIDIV20 410   -5,48   -1,32%
  • IDX80 87   -1,95   -2,19%
  • IDXV30 111   -1,67   -1,48%
  • IDXQ30 107   -1,52   -1,40%

Tak Kalah dari Pemain, Wasit Tempuh 12-13 Km dalam Satu Laga Piala Dunia


Kamis, 09 Juli 2026 / 06:00 WIB
Tak Kalah dari Pemain, Wasit Tempuh 12-13 Km dalam Satu Laga Piala Dunia
ILUSTRASI. Piala Dunia - Wasit (REUTERS/Henry Romero)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - ​Saat sebuah pertandingan Piala Dunia ditentukan oleh keputusan pada detik-detik terakhir, wasit dituntut selalu berada di posisi yang tepat untuk melihat setiap insiden.

Tugas tersebut tidaklah mudah, terutama ketika mereka harus menghadapi cuaca panas dan lembap di Miami hingga udara tipis di Kota Meksiko.

Baca Juga: Justin Bieber Gabung BTS, Madonna dan Shakira di Halftime Show Final Piala Dunia

Di balik sorotan terhadap para pemain yang memburu gol, para wasit juga berlari hampir tanpa henti.

Menurut FIFA, seorang wasit rata-rata menempuh jarak 12 hingga 13 kilometer dalam satu pertandingan, setara dengan jarak yang ditempuh banyak pemain lapangan.

Karena tuntutan tersebut, FIFA mengubah pendekatan dalam mempersiapkan perangkat pertandingan untuk ajang sepak bola terbesar di dunia.

"Persiapan wasit untuk Piala Dunia 2026 dimulai hampir empat tahun lalu," kata FIFA kepada Reuters.

Selama masa persiapan, para wasit menjalani serangkaian tes kebugaran secara berkala. Intensitas latihan pun ditingkatkan secara signifikan dalam enam bulan menjelang turnamen.

Tantangan yang dihadapi tidak hanya soal jarak tempuh.

Dalam satu pertandingan, seorang wasit bisa bertugas di Miami yang panas dan lembap, lalu beberapa hari kemudian memimpin laga di Kota Meksiko yang berada di ketinggian lebih dari 2.200 meter di atas permukaan laut.

Belum lagi perjalanan udara, perbedaan zona waktu, dan perubahan suhu yang membuat tuntutan fisik mereka menyerupai atlet olahraga ketahanan (endurance).

FIFA menyebut pengalaman pada ajang Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat menjadi bekal penting untuk mempersiapkan para wasit menghadapi kondisi cuaca panas, kelembapan tinggi, dan perbedaan zona waktu selama Piala Dunia 2026.

Baca Juga: Trump Sebut Kesepakatan Iran Berakhir, Militer AS Kembali Gempur Iran

Latihan Menyerupai Situasi Pertandingan

Program latihan para wasit mencakup peningkatan daya tahan, kekuatan, kecepatan, kelincahan, dan akselerasi.

Seluruh latihan dirancang menyerupai situasi pertandingan, sementara tim ahli memantau setiap sprint, detak jantung, hingga proses pemulihan tubuh.

Tujuannya sederhana, yakni memastikan wasit selalu tiba di lokasi kejadian sebelum momen krusial terjadi.

Baca Juga: Harga Emas Melemah Setelah Trump Sebut Kesepakatan dengan Iran Telah Berakhir

Berbagai penelitian menunjukkan kelelahan dapat menyebabkan posisi wasit menjadi kurang ideal, sudut pandang menyempit, serta memperlambat reaksi.

Kondisi tersebut berpotensi memicu kesalahan yang bisa dikenang sepanjang sejarah Piala Dunia.

Karena itu, FIFA kini memperlakukan wasit layaknya pemain profesional.

Tim perwasitan Piala Dunia terdiri dari 52 wasit utama, 88 asisten wasit, dan 30 video match officials (VMO) yang berasal dari 50 asosiasi anggota FIFA.

Selama turnamen, mereka bermarkas di Miami dan menjalani program yang berfokus pada latihan fisik, nutrisi, pemulihan, serta persiapan teknis.

Mereka didukung oleh 12 tenaga medis, 10 fisioterapis, serta seorang koki yang memiliki spesialisasi nutrisi olahraga.

Performa mereka dipantau menggunakan perangkat GPS untuk mengukur beban latihan, sensor detak jantung untuk mengetahui tingkat intensitas aktivitas, hingga tes kadar laktat darah guna mengevaluasi kondisi tubuh setelah berlatih maupun memimpin pertandingan.

"Kami menggunakan perangkat pelacak data dengan standar yang sama seperti yang digunakan para pemain," ujar FIFA.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih dari US$ 1 per Barel, AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran

Pemulihan Jadi Bagian Penting

Dalam tiga hari menjelang pertandingan, para wasit menjalani simulasi pertandingan disertai latihan akselerasi dan kecepatan dengan intensitas tinggi.

Setelah pertandingan usai, fokus beralih ke pemulihan fisik.

"Dua hari setelah pertandingan didedikasikan untuk latihan pemulihan aktif, pijat, dan cryotherapy agar proses pemulihan berlangsung lebih cepat dan efektif," kata FIFA.

FIFA juga memperkenalkan suplemen hidrasi serta menyesuaikan jadwal latihan untuk mengurangi paparan sinar matahari secara langsung.

Meski jarang menjadi sorotan, penelitian menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga pergerakan wasit dalam pertandingan level elite merupakan lari berintensitas tinggi. Detak jantung mereka bahkan sering mencapai 80% hingga 100% dari kapasitas maksimal.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Saham Jatuh Pasca Trump Sebut Kesepakatan Sementara Iran Berakhir

Di saat yang sama, mereka harus terus mengamati pergerakan pemain, mendeteksi potensi pelanggaran, membaca pola permainan, dan mencari sudut pandang terbaik, sering kali sambil berlari cepat.

Risiko cedera pun tetap mengintai. Pada laga fase grup yang dimenangi Amerika Serikat 2-0 atas Australia, wasit asal Jerman, Felix Zwayer, mengalami kram pada masa injury time hingga terjatuh di lapangan.

Pemain dari kedua tim bersama salah seorang asisten wasit membantu meregangkan kakinya sehingga ia dapat menyelesaikan pertandingan.

Memasuki babak perempat final, perhatian publik memang tertuju pada para pemain. Namun di balik setiap momen penentu pertandingan, selalu ada seorang wasit yang berlari mengejar permainan, menyadari bahwa satu tiupan peluit dapat mengubah jalannya sejarah.




TERBARU

[X]
×