Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - LONDON. Kinerja Carlsberg di paruh pertama tahun ini tidak sesuai prediksi. Perusahaan bir asal Denmark ini melaporkan laba operasional di semester I-2026 sebesar 7,45 miliar krona Denmark, sekitar Rp 20,59 triliun. Realisasi tersebut berada di bawah ekspektasi analis, sebesar 7,55 miliar krona.
Kendati begitu, Carlsberg memprediksi laba setahun penuh bisa mencapai kisaran batas atas dari target yang ditetapkan. Laba setahun penuh masih bisa menguat karena manfaat dari akuisisi Britvic terealisasi lebih cepat dari yang diperkirakan.
Produsen bir terbesar ketiga di dunia setelah Anheuser-Busch InBev dan Heinekenini mengakuisisi Britvic, sebagai bagian dari langkah strategis beralih ke bisnis minuman non-alkohol. Menurut laporan Reuters, Rabu (19/8/2026), Carlsberg memperkirakan pertumbuhan laba operasional organik tahunan berkisar antara 4% dan 6%. Sebelumnya, perusahaan memproyeksikan pertumbuhan antara 2% dan 6%.
"Kami berpendapat bahwa minuman ringan memberikan dorongan pertumbuhan yang lebih kuat dibandingkan bir," ujar Jacob Aarup-Andersen, CEO Carlsberg, dalam paparan publik, seperti dikutip Reuters, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: Hollywood Ketar-ketir, Microdrama Justru Tumbuh dan Raup Miliaran Dolar
Produsen bir Kronenbourg 1664 dan Tuborg ini menyatakan akan merealisasikan sekitar 50% dari total sinergi senilai £ 110 juta, sekitar Rp 2,66 triliun, yang diharapkan dari Britvic pada tahun ini. Sebelumnya, perusahaan ini memperkirakan hanya akan merealisasikan sebesar 30%-40% dari total sinergi.
Carlsberg sebelumnya menyatakan mengambil sikap hati-hati terhadap proyeksi tahunan karena gejolak geopolitik mengancam tingkat permintaan, termasuk konflik di Timur Tengah. Konflik tersebut semakin membebani daya beli konsumen, yang sebelumnya telah menyebabkan sebagian dari mereka mengurangi konsumsi minuman.
Cuaca buruk terutama yang baru-baru ini terjadi di China, serta gejolak geopolitik lainnya seperti perang Ukraina dan kebijakan tarif Amerika Serikat, ditambah dengan perubahan kebiasaan minum, juga turut menghambat penjualan.














