Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah dunia berakhir turun lebih dari 2% pada perdagangan Selasa (29/9/2026), tertekan tanda-tanda pemulihan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman berikutnya turun US$ 2,69 atau 2,6% menjadi US$ 102,59 per barel.
Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 3,22 atau 3,5% menjadi US$ 89,38 per barel.
Baca Juga: Harga Emas Spot Rebound 1%, tetapi Masih Dibayangi Suku Bunga The Fed
Meski terkoreksi, harga minyak masih mencatat kenaikan sepanjang September. Brent berada di jalur penguatan sekitar 13% pada bulan ini, sedangkan WTI diperkirakan naik sekitar 4%.
Penurunan harga minyak terjadi setelah investor mencermati tanda-tanda meningkatnya kembali arus ekspor minyak dari Timur Tengah.
Saudi Arabia telah kembali melakukan pemuatan tanker minyak dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah setelah mengaktifkan kembali East-West Pipeline.
Senior Vice President of Trading BOK Financial Dennis Kissler mengatakan, peningkatan aliran minyak melalui jalur tersebut memberikan tekanan terhadap harga minyak.
“Arus minyak melalui East-West Pipeline Saudi meningkat. Negosiasi AS dan Iran juga terus berlangsung dan meski posisi kedua pihak tampak masih berjauhan, keduanya mencari jalan keluar,” ujar Kissler.
Baca Juga: Rekor Sejarah! Gadis Kecil 11 Tahun Ini Jadi Women Grandmaster Catur Termuda
Menurut dia, semakin banyak minyak yang kembali mengalir dari kawasan Timur Tengah, semakin berkurang posisi tawar Iran dalam negosiasi.
Data Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah dari negara-negara produsen di Timur Tengah meningkat menjadi 16,328 juta barel per hari pada September.
Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari.
Perkembangan tersebut memberikan sinyal bahwa gangguan pasokan minyak akibat konflik mulai mereda.
Namun, investor masih mencermati risiko gangguan pasokan karena konflik dan ketidakpastian negosiasi antara AS dan Iran belum sepenuhnya berakhir.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya membantah laporan bahwa dirinya menawarkan keringanan sanksi dan pelepasan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah konkret terkait program nuklir Iran.
Baca Juga: Manchester City Klaim Punya Bukti Kuat, Siap Lawan Putusan Premier League
Di pasar produk olahan, harga kontrak diesel di Eropa bergerak turun tipis. Sebaliknya, kontrak diesel AS naik 2,6%.
Pemerintah AS juga mendorong Uni Eropa untuk mengurangi persediaan diesel darurat guna membantu menekan harga global.
Pemerintahan Trump menyebut sejumlah negara anggota Uni Eropa belum mengeluarkan minyak dan produk olahan dari cadangan mereka sesuai komitmen.
Di AS, Trump juga mempertimbangkan pelonggaran aturan yang memungkinkan penjualan diesel merah secara lebih luas.
Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu sebagian konsumen menghindari pajak bahan bakar federal dan menjadi salah satu alternatif dari rencana pelarangan ekspor diesel.
Sementara itu, berdasarkan jajak pendapat awal Reuters, persediaan minyak mentah dan bensin AS diperkirakan turun pada pekan lalu. Persediaan produk distilat diperkirakan tidak mengalami perubahan berarti.
Baca Juga: Daftar Medali Indonesia di Asian Games 2026: Raih 30 Medali, Termasuk Emas Leo/Daniel
Perkembangan persediaan minyak AS serta data ekspor Timur Tengah akan menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan gambaran lebih lanjut mengenai keseimbangan pasokan dan permintaan minyak global.














