Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (5/5/2026) setelah sebelumnya melonjak tajam, seiring munculnya sinyal bahwa Amerika Serikat (AS) mulai melonggarkan blokade Iran di Selat Hormuz.
Penurunan harga terjadi setelah operasi militer AS membuka peluang terbatas bagi jalur pelayaran di kawasan tersebut, yang selama ini menjadi titik krusial distribusi energi global.
AS pada Senin (4/5) meluncurkan operasi untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Baca Juga: China Balas AS, Gunakan UU Anti-Sanksi untuk Lindungi Kilang Minyak
Perusahaan pelayaran Maersk melaporkan kapal pengangkut kendaraan berbendera AS, Alliance Fairfax, berhasil keluar dari Teluk dengan pengawalan militer AS. Keberhasilan ini meredakan sebagian kekhawatiran gangguan pasokan minyak.
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent kontrak Juli turun 0,5% menjadi US$113,93 per barel, setelah sehari sebelumnya melonjak 5,8%.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 1,5% ke level US$104,87 per barel, usai naik 4,4% pada sesi sebelumnya.
Analis pasar KCM Trade Tim Waterer menilai, keberhasilan kapal Maersk melintas menunjukkan adanya peluang jalur aman, meski masih terbatas.
“Ini membantu meredakan kekhawatiran terburuk terkait gangguan pasokan. Namun, ini masih bersifat insidental, belum mencerminkan pembukaan penuh,” ujarnya.
Baca Juga: Intel dan Samsung Masuk Radar Apple untuk Chip iPhone, Dominasi TSMC Terancam?
Meski demikian, ketegangan di kawasan belum mereda. Iran dilaporkan melancarkan serangan di Teluk untuk merespons langkah AS, termasuk menyerang sejumlah kapal komersial dan memicu kebakaran di salah satu pelabuhan minyak utama di Uni Emirat Arab.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas global setiap harinya, sehingga setiap gangguan langsung berdampak signifikan terhadap pasar energi dunia.
Penurunan harga minyak pada Selasa juga dipengaruhi aksi ambil untung (profit taking) setelah reli tajam sehari sebelumnya. Namun, analis menilai risiko geopolitik masih menjadi penopang harga.
“Penurunan ini lebih mencerminkan profit taking, bukan perubahan fundamental. Premi risiko geopolitik terkait Selat Hormuz masih sangat kuat, sehingga potensi penurunan harga tetap terbatas,” kata analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.
Dalam jangka pendek, harga minyak diperkirakan bergerak konsolidatif seiring pelaku pasar mengevaluasi perkembangan konflik dan sinyal diplomatik yang beragam.
Baca Juga: Harga Emas Pulih dari Level Terendah Lebih dari 1 Bulan, Tembus ke US$ 4.541,4
Sebelumnya, CEO Chevron Mike Wirth memperingatkan potensi kekurangan pasokan minyak secara fisik di berbagai belahan dunia akibat penutupan Selat Hormuz.
Di sisi lain, Goldman Sachs juga mencatat bahwa stok minyak global mendekati level terendah dalam delapan tahun terakhir, seiring percepatan pengurasan cadangan komersial dan strategis.
Kondisi ini menunjukkan tekanan pasokan masih kuat dan berpotensi terus menopang harga minyak di tengah ketidakpastian geopolitik yang berlanjut.













