kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.887   40,00   0,22%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

Taiwan dan Korea Selatan Jadi Bintang Baru Bursa Asia, Ini Kata Goldman Sachs


Rabu, 03 Juni 2026 / 08:20 WIB
Taiwan dan Korea Selatan Jadi Bintang Baru Bursa Asia, Ini Kata Goldman Sachs
ILUSTRASI. Bursa Korea Selatan / (REUTERS/Kim Soo-hyeon)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Optimisme terhadap saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) di Asia masih berlanjut.

Namun, Goldman Sachs memperingatkan bahwa risiko koreksi pasar juga semakin meningkat setelah reli kuat yang terjadi sepanjang tahun ini.

Baca Juga: SpaceX Targetkan Harga US$ 135 per Saham pada IPO, Berpotensi Raup Dana US$ 75 Miliar

Melansir Reuters dalam riset yang dirilis Rabu (3/6/2026), Goldman Sachs meningkatkan rekomendasi investasi untuk pasar saham Taiwan menjadi overweight serta menaikkan target indeks saham Korea Selatan.

Bank investasi tersebut menilai kawasan Asia Utara menawarkan prospek pertumbuhan laba perusahaan yang paling kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Kami lebih memilih Asia Utara, di mana pertumbuhan laba perusahaan paling kuat," tulis tim analis Goldman Sachs yang dipimpin oleh Timothy Moe, Chief Asia-Pacific Equity Strategist sekaligus Co-Head of Macro Research.

Menurut Goldman, investor saat ini semakin fokus pada perusahaan yang mampu mencatatkan pertumbuhan laba maupun pendapatan yang kuat.

Sebaliknya, saham yang gagal memenuhi ekspektasi pertumbuhan cenderung ditinggalkan pasar.

Baca Juga: Iran Klaim Serang Markas Armada Kelima AS, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas

Taiwan dan Korea Selatan Jadi Favorit

Goldman menaikkan target indeks saham Taiwan (TAIEX) menjadi 51.000 dari sebelumnya 45.000, yang mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 12% dalam 12 bulan ke depan.

Sementara itu, target indeks saham Korea Selatan (KOSPI) dinaikkan menjadi 12.000 dari sebelumnya 9.000, mencerminkan potensi kenaikan hingga 36,3%.

Di sisi lain, Goldman menurunkan rekomendasi saham H-shares Hong Kong menjadi market weight, meskipun tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk saham A-shares yang diperdagangkan di pasar domestik China.

Baca Juga: Mythos, AI Penemu Celah Keamanan Siber yang Memikat Dunia, Bagaimana Indonesia?

Reli Saham Asia Ditopang AI

Goldman mencatat bahwa indeks MSCI Asia Pacific ex-Japan telah naik sekitar 27% sejak awal tahun. Namun, kenaikan tersebut sangat terkonsentrasi di Korea Selatan dan Taiwan.

Jika kedua pasar tersebut dikeluarkan dari perhitungan, indeks yang sama justru tercatat turun sekitar 4% sepanjang tahun berjalan.

Menurut Goldman, perbedaan kinerja tersebut terutama dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni sensitivitas terhadap guncangan pasokan energi akibat konflik Iran dan eksposur terhadap sektor teknologi AI.

"Asia Utara memiliki perlindungan yang lebih besar terhadap guncangan energi akibat perang Iran serta menjadi pusat utama perdagangan saham AI. Sebaliknya, Asia Selatan lebih rentan terhadap kenaikan harga energi dan memiliki sedikit emiten yang terkait AI," tulis Goldman.

Saham-saham produsen chip AI dan perusahaan teknologi menjadi pendorong utama penguatan pasar di Taiwan dan Korea Selatan dalam beberapa bulan terakhir.

Baca Juga: Kevin Warsh Berjanji Ikuti Tradisi Terbaik The Fed, Sambil Mencari Perubahan

Risiko Koreksi Meningkat

Meski masih optimistis terhadap prospek jangka menengah, Goldman mengingatkan bahwa reli pasar saat ini semakin sempit dan mulai menunjukkan tanda-tanda spekulasi berlebihan.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah lonjakan dana kelolaan pada produk leveraged exchange-traded funds (ETF), yang umumnya digunakan investor untuk mengambil posisi agresif di pasar.

Karena itu, Goldman menyarankan investor mempertimbangkan strategi lindung nilai (hedging) terhadap kemungkinan koreksi pasar, terutama di Korea Selatan dan Taiwan yang telah mencatat kenaikan signifikan.

Baca Juga: Tuai Kritik dari Parlemen, Dana Persenjataan Trump US$ 1,8 Miliar Tidak Dilanjutkan

"Put spread collars di Korea dan Taiwan dapat digunakan untuk melindungi portofolio dari risiko koreksi setelah kenaikan tajam dan munculnya tanda-tanda peningkatan spekulasi," tulis para analis Goldman Sachs.

Meski demikian, Goldman menilai tren investasi terkait AI masih menjadi tema utama yang menopang pasar saham Asia dalam jangka menengah, terutama di kawasan Asia Utara yang menjadi pusat rantai pasok semikonduktor global.


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×