Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Eksodus pengungsi dan migran dari Maroko ke wilayah Spanyol di Ceuta bisa menjadi salah satu krisis perbatasan paling mematikan di Eropa sepanjang tahun ini.
Mengutip laporan Reuters pada Minggu (2/8), sedikitnya 72 orang dilaporkan tewas setelah puluhan ribu warga Maroko nekat menyeberang melalui laut maupun jalur darat menuju enklave Spanyol di Afrika Utara.
Peristiwa yang berlangsung sejak Kamis (30/7) itu memicu kekhawatiran di Uni Eropa dan memaksa Spanyol memperketat pengamanan di wilayah perbatasannya.
Lebih dari 50.000 orang memasuki Ceuta hanya dalam hitungan hari, menjadikannya salah satu gelombang migrasi terbesar yang pernah terjadi di perbatasan Eropa-Afrika.
Apa Itu Ceuta?
Ceuta merupakan wilayah otonom milik Spanyol yang berada di pesisir Afrika Utara dan berbatasan langsung dengan Maroko. Bersama Melilla, Ceuta menjadi satu dari dua perbatasan darat Uni Eropa dengan benua Afrika.
Letaknya yang strategis membuat Ceuta selama bertahun-tahun menjadi salah satu jalur utama bagi para migran yang ingin memasuki Eropa.
Banyak di antara mereka mencoba mencapai wilayah tersebut dengan berenang, menggunakan pelampung, atau memanjat pagar pembatas di perbatasan.
Baca Juga: Daftar Negara dengan Utang Pemerintah Terbesar 2026: AS Nomor 1, Indonesia Ke-19
Mengapa Warga Maroko Menyeberang ke Spanyol?
Banyak migran mengaku terdorong oleh kondisi ekonomi yang sulit. Mereka juga dipengaruhi informasi yang beredar di media sosial mengenai peluang memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik di Spanyol.
Pemerintah Maroko dan Spanyol sama-sama menyebut maraknya disinformasi di media sosial serta aktivitas jaringan penyelundup manusia sebagai pemicu utama eksodus tersebut.
Laporan Al Jazeera menggambarkan bagaimana unggahan di media sosial, terutama Instagram, membuat banyak anak muda percaya bahwa mereka bisa dengan mudah masuk ke Spanyol dan memperoleh pekerjaan maupun bantuan keuangan.
Beberapa migran bahkan mengaku siap mencoba lagi meski sudah dipulangkan ke Maroko.
Otoritas Spanyol menyatakan sedikitnya 72 orang meninggal dunia, sebagian karena tenggelam saat berenang menuju Ceuta, sementara lainnya tewas akibat berdesakan ketika berusaha melewati pemecah ombak dan pagar perbatasan.
Selain korban meninggal, lebih dari 1.000 orang juga harus mendapatkan perawatan medis akibat luka maupun kelelahan.
Di sisi lain, Kementerian Dalam Negeri Maroko melaporkan angka korban yang lebih rendah, yakni 11 orang.
Baca Juga: Trump Ancam Selidiki Uni Eropa Setelah Google Didenda US$1 miliar
Mayoritas Migran Sudah Dipulangkan
Pemerintah Spanyol menyebut lebih dari 48.000 migran telah kembali ke Maroko dalam waktu 48 jam, sementara ribuan lainnya dipulangkan secara bertahap sepanjang akhir pekan.
Sementara itu, laporan Associated Press (AP) menyebut pada Minggu kondisi Ceuta mulai berangsur normal. Pertokoan, restoran, dan kawasan wisata kembali beroperasi, meski aparat keamanan masih melakukan pencarian korban di perairan sekitar kota.
Namun, sebagian migran masih bertahan di kawasan perbukitan sekitar Ceuta. Beberapa di antaranya mengaku akan mencoba kembali memasuki wilayah Spanyol jika ada kesempatan.
Sebanyak 22 negara anggota Uni Eropa mengirim surat yang menyerukan langkah bersama untuk memperkuat pengamanan perbatasan eksternal blok tersebut.
Spanyol juga memperketat patroli polisi dan militer di Ceuta, termasuk memasang penghalang terapung sepanjang sekitar 500 meter di perairan dekat perbatasan guna mencegah penyeberangan baru.
Baca Juga: Uni Eropa Jatuhkan Sanksi terhadap Bursa Kripto HTX, Diduga Bantu Rusia













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
