Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Sejumlah kapal tanker yang mengangkut produk minyak dan gas alam cair (LNG) mulai melakukan pergerakan melalui Selat Hormuz dalam sepekan terakhir, sebuah perkembangan yang relatif jarang terjadi di tengah masih terbatasnya lalu lintas energi di jalur pelayaran strategis tersebut.
Melansir Reuters Rabu (3/6/2026), data pelacakan kapal menunjukkan dua tanker pembawa produk minyak berhasil keluar dari Selat Hormuz, sementara sebuah kapal LNG telah memuat kargo di Uni Emirat Arab (UEA).
Baca Juga: PMI Jasa China Naik ke 54,4 pada Mei 2026, Permintaan Domestik dan Ekspor Menguat
Pergerakan tersebut menjadi sinyal awal bahwa aktivitas energi di kawasan Teluk mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meski arus pengiriman masih jauh di bawah kondisi normal akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global biasanya melewati perairan tersebut.
Data dari Kpler dan LSEG menunjukkan kapal tanker jenis Aframax, Cy Victorious, yang membawa sedikitnya 80.000 metrik ton atau lebih dari 508.000 barel bahan bakar minyak sulfur tinggi (high-sulphur straight-run fuel oil), keluar dari Selat Hormuz pada 30 Mei.
Kapal tersebut sebelumnya memuat kargo di pelabuhan Khor al Zubair, Irak, pada awal April dan diperkirakan tiba di Malaysia pada paruh kedua Juni.
Baca Juga: Ekonomi Australia Melambat, Tumbuh 0,3% pada Kuartal I 2026
Sementara itu, tanker jenis Long Range 2 (LR2), Sti Elysees, yang membawa produk minyak bersih dari Kuwait sejak akhir Februari, juga tercatat keluar dari Selat Hormuz pada 29 Mei. Namun, tujuan akhir kapal tersebut belum diketahui.
Di sektor LNG, kapal Marigold yang dikelola Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) memuat kargo di fasilitas LNG Pulau Das, Uni Emirat Arab, pada 24-25 Mei, menurut perusahaan analisis energi Vortexa.
Vortexa menjelaskan bahwa kapal tersebut mematikan transmisi Automatic Identification System (AIS) pada 3 Mei sebelum melakukan pelayaran menuju Selat Hormuz tanpa sinyal pelacakan.
Praktik tersebut kerap dilakukan sejumlah kapal ketika melintasi jalur yang dianggap berisiko tinggi.
Marigold merupakan kapal terakhir dari empat kapal LNG yang dikendalikan ADNOC yang berhasil melintasi Selat Hormuz untuk kembali memuat kargo.
Tiga kapal lainnya, yakni Mraweh, Al Hamra, dan Umm Al Ashtan, telah lebih dulu melakukan perjalanan keluar masuk selat tersebut dalam kondisi AIS tidak aktif.
Baca Juga: Yen Tembus Level Kritis 160 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Perkuat Greenback
Data Kpler menunjukkan, Marigold terakhir terdeteksi berada di sisi timur Selat Hormuz pada 1 Mei sebelum akhirnya memuat LNG di Pulau Das pada 25 Mei.
ADNOC menolak memberikan komentar mengenai posisi maupun rute pelayaran armadanya dengan alasan kebijakan perusahaan.
Di sisi lain, empat kapal LNG yang belum memuat kargo (ballast LNG tanker) dilaporkan bergerak menuju pintu masuk timur Selat Hormuz dan saat ini menunggu di kawasan tersebut.
Menurut analis LNG senior Vortexa, Ashley Sherman, kapal-kapal tersebut tiba di lokasi antara 30 hingga 31 Mei.
Sherman menilai pergerakan itu mencerminkan munculnya harapan pasar terhadap kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz secara lebih luas serta peluang tercapainya kesepakatan perdamaian di kawasan.
Salah satu kapal, Al Hamra, kembali mendekati Selat Hormuz setelah mengirimkan muatan LNG dari Pulau Das ke India pekan lalu.
Baca Juga: Damai Masih Jauh, Konflik Iran-AS Kembali Panaskan Kawasan Teluk
Sementara itu, tiga kapal yang dikendalikan QatarEnergy, yakni Al Areesh, Al Khuwair, dan Al Marrouna, mulai bergerak dari perairan sekitar India dan Sri Lanka menuju Selat Hormuz pada 25-27 Mei.
Hingga kini, QatarEnergy belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait pergerakan armadanya.
Meski sejumlah kapal mulai kembali beroperasi, arus perdagangan minyak dan LNG melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas.
Pelaku pasar energi global terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah karena setiap perubahan kondisi keamanan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi dunia dan pergerakan harga minyak.













