kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.785.000   -13.000   -0,46%
  • USD/IDR 17.823   4,00   0,02%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Trump Bantah Iran-Oman Akan Kendalikan Selat Hormuz, Ancam Oman dalam Negosiasi


Kamis, 28 Mei 2026 / 05:39 WIB
Trump Bantah Iran-Oman Akan Kendalikan Selat Hormuz, Ancam Oman dalam Negosiasi
ILUSTRASI. Donald Trump pada Rabu (27/5/2026) membantah laporan bahwa Iran dan Oman akan bersama-sama mengelola lalu lintas kapal di Selat Hormuz. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (27/5/2026) membantah laporan bahwa Iran dan Oman akan bersama-sama mengelola lalu lintas kapal di Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Pernyataan Trump menjadi sinyal bahwa negosiasi antara AS dan Iran masih jauh dari kata sepakat.

Reuters melaporkan, komentar itu muncul setelah televisi pemerintah Iran melaporkan telah memperoleh rancangan tidak resmi kesepakatan yang memungkinkan jalur pelayaran komersial melalui Selat Hormuz kembali normal dalam satu bulan, dengan Iran dan Oman mengelola lalu lintas kapal secara bersama.

Kerangka kesepakatan tersebut juga disebut mencakup pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan penarikan pasukan militer AS dari sekitar wilayah Iran.

Namun Trump menegaskan tidak akan ada satu negara pun yang mengendalikan jalur strategis tersebut. Bahkan, ia sempat melontarkan ancaman terhadap Oman, negara yang selama puluhan tahun memiliki hubungan militer dan ekonomi erat dengan AS.

“Tidak ada yang akan mengendalikan selat itu. Itu perairan internasional dan Oman akan bersikap seperti negara lain, atau kami harus menghancurkan mereka. Mereka paham itu,” kata Trump dalam rapat kabinet yang dihadiri media.

Gedung Putih dan Kedutaan Oman di Washington belum memberikan tanggapan atas pernyataan tersebut.

Baca Juga: Trump: Iran dan Oman Tak Akan Mengendalikan Selat Hormuz, Kesepakatan Sulit Tercapai

Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengatakan retorika Trump tidak akan membuat Iran mundur dari tuntutannya untuk tetap memperkaya uranium, memiliki kewenangan atas Selat Hormuz, dan memperoleh pencabutan sanksi.

“Jelas Trump sedang mencari jalan keluar dari kebuntuan strategis ini dengan bergantian mengeluarkan ancaman dan ajakan kesepakatan,” tulis Azizi di platform X.

Saling balas pernyataan tersebut menunjukkan kedua negara masih memiliki perbedaan besar, meskipun Gedung Putih beberapa hari terakhir sempat memberi sinyal bahwa kesepakatan awal bisa segera tercapai.

Perang yang telah berlangsung selama tiga bulan itu telah menewaskan ribuan orang dan mendorong lonjakan harga energi global sejak dimulai pada 28 Februari melalui serangan AS dan Israel.

Trump berulang kali menyebut kesepakatan damai sudah dekat sejak gencatan senjata berlaku pada awal April.

Salah satu titik utama perdebatan adalah status Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang menangani sekitar seperlima lalu lintas minyak dan gas alam cair dunia.

Selain itu, pembongkaran program nuklir Iran dan pencabutan sanksi ekonomi juga menjadi isu utama dalam negosiasi.

“kami akan mengawasinya, tetapi tidak ada yang akan mengendalikannya. Itu bagian dari negosiasi yang sedang berlangsung,” ujar Trump.

Trump juga mendorong Saudi Arabia, Qatar, Pakistan, Turkey, Egypt, dan Jordan untuk bergabung dalam Abraham Accords yang menormalisasi hubungan dengan Israel sebagai bagian dari kesepakatan damai. Namun negara-negara tersebut menolak.

“Saya bahkan tidak yakin kita perlu membuat kesepakatan jika mereka tidak mau menandatangani,” kata Trump.

Televisi pemerintah Iran juga melaporkan rancangan kesepakatan mencakup penarikan pasukan AS dari kawasan sekitar Iran, meski isu keberadaan tentara AS di Timur Tengah masih perlu dibahas lebih lanjut.

Tonton: Kesehatan Donald Trump Jadi Sorotan Bagaimana Kondisi Kesehatan Jelang Usia 80 Tahun

Gedung Putih langsung membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai “rekayasa total”.

Harga minyak sempat jatuh lebih dari 5% setelah laporan televisi Iran itu muncul, sebelum akhirnya memangkas sebagian penurunannya.

Saat ini AS memiliki sekitar 15.000 personel militer yang terlibat dalam blokade terhadap Iran, ditambah ribuan pasukan lain di pangkalan kawasan Teluk seperti di Qatar, United Arab Emirates, dan Bahrain.

Sementara itu, program nuklir Iran belum masuk dalam rancangan kesepakatan tahap awal. Iran menyebut isu nuklir akan dibahas pada putaran kedua negosiasi.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir.

Di sisi lain, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyebut hanya 23 kapal, termasuk tanker minyak dan kapal kontainer, yang melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Jumlah itu jauh di bawah rata-rata normal sebelum konflik yang mencapai 125 hingga 140 kapal per hari.

Perang ini juga mulai memicu tekanan politik domestik terhadap Trump. Sejumlah survei di AS menunjukkan konflik tersebut tidak populer di mata publik, kurang dari enam bulan menjelang pemilu paruh waktu yang akan menentukan apakah Partai Republik tetap menguasai DPR dan Senat AS.

Tabel: Poin Utama Konflik dan Negosiasi AS-Iran

Isu Utama Perkembangan
Kontrol Selat Hormuz Trump menolak Iran dan Oman menguasai selat
Status Negosiasi Kesepakatan damai masih sulit tercapai
Tuntutan Iran Pengayaan uranium dan pencabutan sanksi
Sikap AS Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir
Dampak ke Harga Minyak Sempat turun lebih dari 5%
Lalu Lintas Hormuz Hanya 23 kapal lewat dalam 24 jam
Pasukan AS di Kawasan Sekitar 15.000 personel
Dampak Politik Trump Perang tidak populer jelang midterm




TERBARU

[X]
×