kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Trump Klaim Kesepakatan Damai Iran Sudah Dekat, Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali


Minggu, 24 Mei 2026 / 13:23 WIB
Trump Klaim Kesepakatan Damai Iran Sudah Dekat, Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali
ILUSTRASI. Trump sebut kesepakatan damai Iran akan buka Selat Hormuz. Kantor berita Iran justru membantah dan punya klaim berbeda. (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/ISLAMABAD/NEW DELHI. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa memorandum kesepahaman terkait kesepakatan damai Iran yang “sebagian besar telah dinegosiasikan” akan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, klaim tersebut dibantah oleh kantor berita Iran, Fars.

Dalam unggahan di media sosial Truth Social pada Sabtu (23/5/2026), Trump menyebut kesepakatan yang sedang dibahas akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang penutupannya telah mengguncang pasar energi global sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan perang terhadap Iran pada Februari lalu.

Trump tidak menjelaskan secara rinci poin lain dalam kesepakatan tersebut. Namun ia mengatakan, “Aspek dan rincian akhir dari kesepakatan saat ini sedang dibahas dan akan segera diumumkan.”

Meski demikian, kantor berita Fars melaporkan pada Minggu dini hari bahwa kesepakatan itu justru akan memberi Iran kewenangan untuk mengelola Selat Hormuz. Fars juga menilai pernyataan Trump terkait selat tersebut “tidak sesuai dengan kenyataan.”

Baca Juga: China Kirim Astronaut untuk Misi Setahun di Stasiun Luar Angkasa

Program Nuklir Iran Jadi Fokus Negosiasi

Media Amerika Serikat Axios melaporkan bahwa Washington dan Teheran semakin dekat mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa pungutan biaya selama perpanjangan gencatan senjata 60 hari.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran disebut dapat kembali menjual minyak secara bebas, sementara negosiasi juga akan dilakukan terkait pembatasan program nuklir Iran.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat dikabarkan akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran serta memberikan pelonggaran sanksi tertentu terhadap ekspor minyak Iran.

Draf kesepakatan juga mencakup komitmen Iran untuk tidak mengejar kepemilikan senjata nuklir dan bersedia bernegosiasi mengenai penghentian program pengayaan uranium serta penghapusan stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi.

Laporan The New York Times menyebut proposal tersebut memuat “komitmen yang tampak jelas” dari Iran untuk melepaskan cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi. Namun, rincian teknis mengenai mekanisme pelepasan stok tersebut akan dibahas pada putaran negosiasi berikutnya.

Selama konflik berlangsung selama tiga bulan terakhir, Trump berulang kali menyatakan bahwa serangan AS terhadap Iran bertujuan mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa mereka memiliki hak untuk memperkaya uranium demi kepentingan sipil.

Pakistan Berperan Sebagai Mediator

Iran pada Sabtu menyatakan tengah mengupayakan memorandum kesepahaman untuk mengakhiri perang setelah pejabat tinggi negara itu bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir.

Baca Juga: Ledakan Tambang Batubara di China Tewaskan 82 Orang, Tragedi Terburuk dalam 17 Tahun

Militer Pakistan menyebut negosiasi tersebut menghasilkan perkembangan yang “menggembirakan”. Dua sumber Pakistan yang terlibat dalam perundingan mengatakan kesepakatan yang sedang dinegosiasikan “cukup komprehensif untuk mengakhiri perang.”

Sumber Reuters menyebut kerangka kesepakatan yang diusulkan akan berlangsung dalam tiga tahap, yakni penghentian perang secara formal, penyelesaian krisis di Selat Hormuz, serta pembukaan jendela negosiasi selama 30 hari untuk mencapai kesepakatan yang lebih luas.

Salah satu sumber Pakistan mengatakan bahwa apabila AS menerima memorandum tersebut, pembicaraan lanjutan dapat dilakukan setelah libur Iduladha berakhir pada Jumat mendatang.

Popularitas Trump sendiri disebut terdampak oleh kenaikan harga energi akibat perang. Pada Jumat, Trump mengatakan dirinya membatalkan rencana menghadiri pernikahan putranya akhir pekan ini dan memilih tetap berada di Washington karena situasi Iran.

Iran: Masih Ada Isu yang Harus Dibahas

Trump pada Sabtu juga berbicara dengan para pemimpin Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, Mesir, Turki, dan Pakistan. Para pemimpin tersebut disebut mendorong Trump menerima kerangka kesepakatan yang sedang berkembang.

Trump juga mengatakan percakapannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berlangsung “sangat baik.”

Pakistan terus berupaya mempersempit perbedaan antara Iran dan AS setelah perang selama beberapa pekan menyebabkan jalur perairan Selat Hormuz praktis tertutup bagi sebagian besar aktivitas pelayaran meski telah ada gencatan senjata yang rapuh.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan tren pekan ini menunjukkan penurunan ketegangan, namun masih ada sejumlah persoalan yang perlu dibahas melalui mediator.

Baca Juga: AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata 60 Hari, Ini Isi Kesepakatannya

“Kecenderungan pekan ini mengarah pada pengurangan perselisihan, tetapi masih ada isu yang perlu dibahas melalui mediator. Kita harus menunggu dan melihat bagaimana situasi berkembang dalam tiga atau empat hari ke depan,” ujar Baghaei.

Iran menuntut pengawasan terhadap Selat Hormuz, penghentian blokade AS terhadap pelabuhan mereka, serta pencabutan sanksi atas penjualan minyak Iran.

Baghaei menambahkan bahwa isu blokade pelayaran Iran memang penting, namun prioritas utama Teheran saat ini adalah mengakhiri ancaman serangan baru AS serta konflik yang masih berlangsung di Lebanon, di mana kelompok Hizbullah yang didukung Iran masih bertempur melawan pasukan Israel di wilayah selatan.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan kemampuan militer Iran telah dipulihkan selama masa gencatan senjata. Ia memperingatkan bahwa jika AS “secara bodoh memulai kembali perang”, konsekuensinya akan “lebih keras dan pahit” dibandingkan awal konflik.

Meski konflik telah berlangsung berminggu-minggu, Iran disebut masih mempertahankan stok uranium yang hampir mencapai tingkat senjata nuklir, termasuk kemampuan rudal, drone, dan jaringan proksi militernya.




TERBARU

[X]
×