Sumber: Reuters | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dalam serangkaian unggahan di media sosial pada Minggu Paskah (5/4), melontarkan ancaman keras untuk mengguyur infrastruktur vital Iran dengan serangan udara jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya menjadi satu di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!" tegas Trump melalui platform Truth Social.
Pernyataan ini merujuk pada jalur pelayaran strategis yang telah diblokade Teheran sejak AS dan Israel meluncurkan operasi militer ke Iran lebih dari sebulan lalu.
Baca Juga: Macron Bantah Trump: Paris Ogah Ikut Operasi Militer Selat Hormuz
Trump, dengan diksi yang sangat tajam, memperingatkan para pemimpin Iran. "Buka Selat itu, kalian pengecut, atau kalian akan hidup di Neraka - LIHAT SAJA!" tulisnya, sembari menutup unggahan tersebut dengan kalimat "Praise be to Allah."
Operasi Penyelamatan
Ultimatum ini muncul menyusul keberhasilan operasi penyelamatan dramatis selama 48 jam terhadap dua pilot AS di wilayah Iran. Trump menyebut keberhasilan evakuasi tersebut sebagai "Keajaiban Paskah".
Melalui pesan teks kepada NBC News, Trump menyatakan bahwa salah satu pilot yang diselamatkan berpangkat Kolonel dan dalam kondisi "luka parah".
Senator Dave McCormick mengungkapkan rincian teknis evakuasi tersebut, di mana pilot AS harus mendaki gunung setinggi 7.000 kaki di wilayah Iran sebelum akhirnya dievakuasi.
Sementara itu, Ketua Komite Intelijen DPR Rick Crawford menambahkan bahwa tim penyelamat terpaksa menghancurkan beberapa pesawat di darat untuk mencegah teknologi AS jatuh ke tangan musuh.
Baca Juga: AS Siap Kawal Tanker di Selat Hormuz, Trump Kerahkan Instrumen Militer
Dampak Ekonomi dan Harga Minyak
Blokade Selat Hormuz oleh Iran telah memukul ekonomi global, khususnya sektor energi. Data AAA menunjukkan rata-rata harga bensin di AS telah melesat ke angka US$ 4,11 per galon pada hari Minggu, melonjak drastis dari posisi di bawah $3 sebelum serangan ke Iran dimulai pada 28 Februari lalu.
Meskipun Trump mengklaim bahwa kesepakatan mungkin tercapai pada Senin esok, ia tetap menyiapkan opsi militer agresif. "Jika mereka tidak membuat kesepakatan, saya akan meledakkan segalanya di sana," ujar Trump dalam wawancara dengan Axios.
Namun, retorika Trump ini memicu gelombang kritik dari dalam negeri. Senator Demokrat Tim Kaine mendesak Trump untuk meredam retorika yang ia sebut "memalukan dan kekanak-kanakan," karena dianggap membahayakan nyawa tentara AS.
Hingga saat ini, tercatat 13 anggota layanan AS tewas dan ratusan lainnya luka-luka sejak konflik pecah.
Kritik pedas juga datang dari Marjorie Taylor Greene, mantan anggota DPR yang baru saja mengundurkan diri. Greene menyebut bahasa yang digunakan Trump sebagai sebuah "kegilaan" dan mendesak jajaran administrasi untuk melakukan intervensi.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran telah memperingatkan akan mengintensifkan serangan terhadap kepentingan ekonomi AS di kawasan tersebut jika Washington nekat menyerang target sipil di Iran.













