kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.045.000   -77.000   -2,47%
  • USD/IDR 16.916   14,00   0,08%
  • IDX 7.571   -368,80   -4,64%
  • KOMPAS100 1.057   -53,99   -4,86%
  • LQ45 770   -35,57   -4,42%
  • ISSI 268   -15,36   -5,43%
  • IDX30 410   -17,32   -4,06%
  • IDXHIDIV20 501   -17,91   -3,45%
  • IDX80 119   -5,81   -4,66%
  • IDXV30 136   -4,80   -3,40%
  • IDXQ30 132   -5,20   -3,79%

AS Siap Kawal Tanker di Selat Hormuz, Trump Kerahkan Instrumen Militer


Rabu, 04 Maret 2026 / 13:53 WIB
AS Siap Kawal Tanker di Selat Hormuz, Trump Kerahkan Instrumen Militer


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Angkatan Laut AS berpotensi mulai mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz jika diperlukan.

Langkah ini diambil di tengah lonjakan harga energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur pelayaran strategis dunia.

Trump juga mengungkapkan telah memerintahkan U.S. International Development Finance Corporation (DFC) untuk menyediakan asuransi risiko politik serta jaminan keuangan guna mendukung kelangsungan perdagangan maritim di kawasan Teluk.

DFC, yang dibentuk pada 2019, merupakan lembaga pemerintah AS yang bermitra dengan investor swasta untuk mendukung proyek-proyek di negara berkembang.

Respons Agresif Atasi Lonjakan Harga Energi

Kebijakan ini menjadi salah satu langkah paling agresif pemerintahan Trump dalam upaya menahan kenaikan harga minyak mentah global.

Harga minyak melonjak tajam setelah pasukan Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir pekan lalu, memicu gangguan signifikan pada pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Perang Iran Belum Berdampak Signifikan di Pasar Global, Ini Kata CEO Goldman Sachs

“Dalam kondisi apa pun, Amerika Serikat akan memastikan kelancaran aliran energi ke seluruh dunia,” tulis Trump dalam unggahan media sosialnya. Ia juga menegaskan bahwa langkah tambahan sedang dipersiapkan.

Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, Menteri Keuangan Scott Bessent dan Menteri Energi Chris Wright dijadwalkan bertemu dengan Trump untuk mempresentasikan daftar proposal penanganan krisis dan merampungkan respons kebijakan pemerintah.

Trump mengakui bahwa warga Amerika mungkin harus menghadapi harga minyak yang lebih tinggi dalam jangka pendek. Namun, ia meyakini harga akan turun bahkan lebih rendah dari sebelumnya setelah konflik mereda.

Kenaikan harga energi yang berkepanjangan berpotensi memengaruhi stabilitas politik domestik, khususnya menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November mendatang.

Selat Hormuz: Titik Kritis Pasokan Minyak Dunia

Selat Hormuz merupakan jalur sempit antara Iran dan Oman yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Saat ini, pengiriman minyak melalui jalur tersebut dilaporkan sebagian besar terhambat akibat serangan militer, dengan sejumlah tanker mengalami kerusakan dan lainnya tertahan.

Baca Juga: Taiwan Dakwa 62 Orang Terkait Jaringan Penipuan dan Pencucian Uang Prince Group

Perusahaan pelayaran dan asuransi mulai meninjau kembali eksposur risiko mereka di kawasan tersebut. Premi asuransi risiko perang melonjak signifikan, sementara beberapa penyedia asuransi mengurangi bahkan menghentikan perlindungan mereka.

Kenaikan biaya asuransi membuat ongkos operasional tanker meningkat tajam. Sejumlah operator memilih menunda pelayaran atau mencari rute alternatif demi menghindari risiko keamanan.

Preseden Historis Dukungan AS

Dukungan pemerintah AS terhadap asuransi dan pengawalan kapal tanker bukanlah hal baru. Pada konflik Iran-Irak era 1980-an, Washington pernah mengganti bendera kapal tanker dan menyediakan pengawalan angkatan laut ketika perusahaan asuransi swasta menarik perlindungan mereka.

Setelah serangan 11 September 2001, pemerintah AS juga menerbitkan polis asuransi untuk menjaga kelancaran pelayaran di tengah lonjakan premi risiko perang.

Saat ini, Angkatan Laut AS memiliki sekitar 12 kapal perang—termasuk satu kapal induk—di kawasan Timur Tengah yang berpotensi digunakan untuk mengawal kapal komersial. Namun, sebagian armada tersebut juga terlibat dalam operasi militer terhadap Iran, termasuk mencegat rudal dan menjalankan serangan balasan.

Selain itu, terdapat gugus tugas angkatan laut multinasional yang dapat dikerahkan, termasuk CTF-152 yang saat ini dipimpin oleh pasukan Qatar.

Tantangan Implementasi dan Risiko Berkelanjutan

Meski demikian, sejumlah analis meragukan efektivitas langkah pengawalan dan dukungan asuransi dalam menstabilkan harga minyak global selama konflik masih berlangsung. Keterbatasan jumlah kapal pengawal AS serta risiko serangan dari rudal dan kapal bersenjata kecil Iran menjadi tantangan tersendiri.

Baca Juga: Rupee India Cetak Rekor Terendah, Perang Timur Tengah Picu Tekanan Ganda

Rohit Rathod, analis senior dari firma pelacakan kapal Vortexa, menilai serangan masih mungkin terjadi meskipun ada pengawalan militer.

Ia memperkirakan premi asuransi tetap tinggi, sementara sebagian pelaku industri mungkin memilih melakukan kesepakatan langsung dengan pihak Iran untuk mendapatkan pengecualian bagi kapal mereka.

Sementara itu, pemerintahan Trump sejauh ini enggan memanfaatkan Cadangan Minyak Strategis AS (Strategic Petroleum Reserve). Namun, seorang sumber menyebutkan bahwa pemerintah dapat segera memberi sinyal kesiapan untuk menggunakannya jika harga terus meningkat.

Analis kebijakan dari ClearView Energy Partners, Kevin Book, menekankan bahwa fokus pada aspek pelayaran saja mungkin tidak cukup untuk menahan lonjakan harga. “Perang juga menimbulkan risiko kenaikan harga minyak dari sisi lain, termasuk ancaman terhadap fasilitas produksi,” ujarnya.




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×