Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Selasa (3/3/2026) mengatakan bahwa ia telah memerintahkan U.S. International Development Finance Corporation (DFC) untuk menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan keuangan bagi perdagangan maritim yang melintasi kawasan Teluk.
Trump juga menyebut Angkatan Laut AS dapat mulai mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz jika kondisi keamanan memburuk.
Seperti yang dilansir dari Reuters, langkah ini menjadi salah satu kebijakan paling agresif yang diambil pemerintah AS sejauh ini untuk menahan lonjakan harga energi global dan menenangkan pasar minyak di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran energi dunia.
Trump menjadikan harga bahan bakar yang lebih murah bagi warga Amerika sebagai bagian penting dari pesan ekonominya. Kebijakan ini menunjukkan kesiapan pemerintah AS untuk menggunakan instrumen keuangan maupun kekuatan militer guna mencegah gangguan pasokan minyak dunia.
“Apa pun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan aliran energi ke dunia tetap lancar,” tulis Trump dalam unggahan di media sosial.
Ia juga mengisyaratkan akan ada langkah tambahan dalam waktu dekat. Harga minyak dunia memang melonjak tajam sejak pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir pekan lalu, yang kemudian memicu pertempuran dan mengganggu pengiriman tanker minyak dari Timur Tengah.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Meluas, Harga Minyak Melonjak dan Saham Merosot
Menurut dua sumber Reuters yang mengetahui rencana tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Menteri Energi Chris Wright dijadwalkan bertemu Trump pada Selasa sore untuk menyampaikan sejumlah opsi kebijakan guna merespons lonjakan harga energi.
Trump mengakui bahwa masyarakat Amerika mungkin harus menghadapi harga minyak yang lebih tinggi untuk sementara waktu. Namun ia optimistis harga energi akan kembali turun setelah konflik mereda.
“Begitu situasi ini berakhir, saya percaya harga minyak akan turun lagi, bahkan lebih rendah dari sebelumnya,” ujar Trump.
Namun jika harga energi tinggi bertahan lama, kondisi tersebut berpotensi mengganggu peluang Partai Republik untuk mempertahankan kekuasaan dalam pemilihan paruh waktu Kongres AS pada November mendatang.
Premi Risiko Perang Melonjak
Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz saat ini sebagian besar terhambat. Selat sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu merupakan jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Sejumlah kapal tanker dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan, sementara kapal lain terpaksa berhenti berlayar. Perusahaan pelayaran dan perusahaan asuransi kini mulai mengevaluasi kembali risiko operasi mereka di kawasan tersebut.
Premi asuransi risiko perang melonjak tajam, bahkan beberapa perusahaan asuransi mulai mengurangi atau menghentikan perlindungan mereka. Akibatnya, biaya pengiriman minyak menjadi jauh lebih mahal bagi kapal tanker yang masih berani melintasi jalur tersebut.
Baca Juga: Menebak Arah Suku Bunga The Fed, Hawkish atau Dovish?












