Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Otoritas perencana ekonomi utama China dilaporkan telah mengizinkan sejumlah kilang independen untuk memangkas produksi mulai Juni, menurut perusahaan konsultasi dan sumber industri. Kebijakan ini disebut sebagai tanda meningkatnya keyakinan Beijing dalam menghadapi potensi guncangan pasokan minyak akibat penutupan Selat Hormuz.
Beberapa kilang independen di Provinsi Shandong, yang dikenal sebagai teapot refiners, diberitahu bahwa mereka dapat menurunkan produksi hingga tidak lebih rendah dari 80% rata-rata bulanan tahun lalu, menurut laporan konsultansi Horizon Insights.
Dua sumber perdagangan yang mengetahui informasi tersebut mengonfirmasi adanya pemberitahuan dari Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China (NDRC), meski lembaga tersebut belum memberikan tanggapan resmi.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Setelah Trump Sebut Negosiasi dengan Iran Masih Berlangsung
Kebijakan baru ini melonggarkan aturan sebelumnya yang mewajibkan kilang mempertahankan produksi pada rata-rata dua tahun terakhir, sebagai upaya menjaga pasokan bahan bakar domestik di tengah gangguan akibat konflik Iran yang sempat memicu penutupan Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia.
Aturan sebelumnya menekan margin keuntungan kilang, karena harga bahan bakar domestik dibatasi sementara biaya impor minyak mentah meningkat. Akibatnya, sebagian kilang telah mulai memangkas produksi sejak bulan lalu.
Pada awal Mei, beberapa kilang di Shandong bahkan meminta izin kepada pemerintah untuk menurunkan tingkat pengolahan atau menghentikan sementara sebagian unit produksi, menurut sumber.
Meski ada pelonggaran kebijakan, pelaku industri menilai tekanan tetap tinggi. Seorang sumber perdagangan menyebut banyak kilang masih merugi pada setiap barel minyak yang diproses dan sebenarnya lebih memilih untuk menghentikan operasi.
Kilang independen di Shandong memproduksi sekitar 16% bensin China dan seperempat solar pada Mei, menurut konsultan OilChem. Namun, pasokan bahan bakar kini melimpah akibat pembatasan ekspor serta menurunnya permintaan dari sektor transportasi yang semakin terdorong elektrifikasi.
Tingkat operasi unit distilasi minyak mentah kilang independen Shandong tercatat 53,39% pada Mei, turun 1,94 poin dari April tetapi naik 6,18 poin dibanding tahun sebelumnya.
Baca Juga: Militer China & AS Bertemu di Hawaii Pekan Lalu, Bahas Keselamatan Udara dan Maritim
Namun, sektor ini masih mencatat kerugian rata-rata sekitar 752 yuan (sekitar US$ 111) per ton minyak mentah impor yang diproses, lebih besar dibanding kerugian 202 yuan pada April, akibat lemahnya permintaan domestik dan tingginya biaya minyak mentah.
Sebelum serangan AS-Israel ke Iran, Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan LNG dunia dan memegang peran vital dalam perdagangan energi global.













