kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Harga Minyak Anjlok 5% ke Level Terendah Tiga Pekan, Trump Tunda Serangan ke Iran


Senin, 03 Agustus 2026 / 22:31 WIB
Harga Minyak Anjlok 5% ke Level Terendah Tiga Pekan, Trump Tunda Serangan ke Iran
ILUSTRASI. Harga minyak dunia merosot sekitar 5% pada perdagangan Senin (3/8/2026), menyentuh level terendah dalam tiga pekan. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia merosot sekitar 5% pada perdagangan Senin (3/8/2026), menyentuh level terendah dalam tiga pekan.

Pelemahan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana serangan baru terhadap Iran dengan harapan dapat mencapai kesepakatan yang berpotensi meningkatkan pasokan minyak dari kawasan Teluk.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$4,41 atau 5% menjadi US$83,52 per barel pada pukul 14.39 GMT (21:39 WIB). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$5,18 atau 6,1% menjadi US$79,49 per barel.

Jika bertahan hingga penutupan perdagangan, Brent akan mencatatkan harga penutupan terendah sejak 13 Juli.

Di sisi lain, Iran pada Senin membantah adanya perundingan dengan Amerika Serikat maupun rencana pertemuan apa pun. Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Trump yang sebelumnya menyebut pembicaraan akan dimulai pada sore hari dan menjadi alasan dirinya membatalkan serangan militer.

Sepanjang lima bulan terakhir, Trump beberapa kali mengumumkan rencana melakukan "serangan besar-besaran" terhadap Iran, namun kemudian membatalkannya pada saat-saat terakhir.

"Apakah saya lebih memilih membuat kesepakatan? Tentu. Saya tidak ingin membunuh orang. Saat ini kami sedang berbicara dengan mereka dalam bentuk negosiasi. Pembicaraan akan dimulai besok sore," kata Trump kepada wartawan di dalam Air Force One pada Minggu (2/8/2026), tanpa menjelaskan lokasi maupun pihak yang akan terlibat.

Baca Juga: Harga Saham Melesat, Amazon Masuk Klub Saham Kapitalisasi Pasar US$ 3 Triliun

Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah pernyataan tersebut.

"Tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat dan tidak ada pertemuan yang dijadwalkan. Iran juga tidak memiliki rencana menerima delegasi asing maupun mengirim negosiator ke luar negeri dalam beberapa hari ke depan," ujarnya.

Sementara itu di AS, Trump kembali mendesak perusahaan-perusahaan minyak untuk menurunkan harga bensin bagi konsumen Amerika. Ia juga mengkritik Chief Executive Chevron Mike Wirth karena dinilai tidak mengakui berbagai kebijakan pemerintahannya yang mendukung industri minyak.

Kapal Tanker Ubah Jalur Pelayaran

Ketegangan di Timur Tengah juga memengaruhi lalu lintas pengiriman energi global.

Data pelacakan kapal menunjukkan enam kapal tanker raksasa berbendera Arab Saudi mengubah rute pelayarannya di Teluk Aden dalam beberapa hari terakhir dan memilih berlayar mengitari Afrika bagian selatan. Langkah tersebut diambil setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengancam akan menyerang kapal-kapal milik Arab Saudi.

Meski demikian, pada akhir pekan lalu dua kapal tanker yang mengangkut minyak Saudi berhasil melintasi Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.

Sebaliknya, lalu lintas kapal di Selat Hormuz—jalur strategis antara Iran dan Oman—melambat setelah muncul laporan mengenai serangan terhadap sejumlah kapal.

Sebelum Amerika Serikat dan Israel memulai serangan ke Iran pada 28 Februari, sekitar 20% pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) melewati Selat Hormuz.

Di Irak, perusahaan pemasaran minyak negara SOMO dilaporkan menawarkan diskon besar untuk minyak mentah Basrah pengiriman Agustus guna menarik pembeli agar bersedia mengangkut kargo dari wilayah di dalam Selat Hormuz.

Rusia Perkuat Perlindungan Jalur Energi

Di sisi lain, gangguan terhadap distribusi energi Rusia juga terus meningkat.

Sumber perdagangan dan data pelayaran LSEG menunjukkan sebuah kapal tanker berbendera Panama yang mengangkut nafta Rusia sempat berupaya melintasi Selat Bab el-Mandeb pada pekan terakhir Juli sebelum akhirnya mengubah rute dan memilih mengelilingi Afrika.

Baca Juga: PMI Sektor Manufaktur AS Stagnan di Juli, Optimisme Pengusaha Juga Merosot

Pemerintah Rusia pada Senin menyatakan akan memperketat perlindungan kapal-kapal di kawasan Laut Azov dan Laut Hitam sekaligus mengembangkan jalur distribusi alternatif menyusul meningkatnya serangan di laut dalam perang Ukraina.

Kementerian Transportasi Rusia menyatakan satuan tugas khusus telah dibentuk sebagai respons terhadap "situasi yang semakin tegang di Laut Azov akibat serangan drone terhadap kapal-kapal maritim." Pemerintah juga akan mengalihkan arus distribusi barang ke rute lain maupun moda transportasi alternatif.

Berdasarkan data energi AS, Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia pada 2025 setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi. Rusia juga merupakan anggota kelompok OPEC+, yang terdiri dari negara-negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) beserta sekutunya.

Gangguan ekspor dari kawasan Teluk, Rusia, dan Kazakhstan akibat konflik di Iran serta perang Ukraina membuat peningkatan kuota produksi OPEC+ dalam beberapa bulan terakhir belum mampu menambah pasokan minyak secara signifikan ke pasar global.

Pada Minggu (2/8), OPEC+ menyetujui kenaikan kuota produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari mulai September mendatang.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×