kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5% Setelah Trump Tunda Serangan ke Iran


Senin, 03 Agustus 2026 / 15:27 WIB
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5% Setelah Trump Tunda Serangan ke Iran
ILUSTRASI. Harga minyak dunia merosot lebih dari 5% pada perdagangan Senin (3/8) setelah Donald Trump menunda serangan baru terhadap Iran. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia merosot lebih dari 5% pada perdagangan Senin (3/8/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda serangan baru terhadap Iran. Langkah tersebut diambil di tengah upaya mencapai kesepakatan yang diharapkan dapat menghentikan ambisi nuklir Teheran sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$ 4,65 atau 5,29% menjadi US$ 83,28 per barel pada pukul 07.02 GMT (14:02 WIB). Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 5,20 atau 6,14% menjadi US$ 79,47 per barel.

Penurunan ini terjadi setelah kedua kontrak minyak tersebut melonjak lebih dari 20% sepanjang bulan lalu. Kenaikan sebelumnya dipicu oleh kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta serangan terhadap sejumlah kapal tanker di sekitar Oman yang meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran dan membuat banyak perusahaan pelayaran enggan memasuki kawasan Teluk untuk memuat minyak.

Trump Tunda Serangan, Harapan Kesepakatan Meningkat

Sebagai sinyal meredanya ketegangan, Trump pada Sabtu (1/8/2026) malam melalui platform Truth Social menyatakan bahwa Iran dan sejumlah negara di Timur Tengah meminta waktu untuk menyelesaikan sebuah kesepakatan.

Baca Juga: Shell Jual Bisnis Energi Terbarukan di Eropa kepada TotalEnergies, Fokus Migas

Kesepakatan tersebut, menurut Trump, akan menghasilkan "pembukaan kembali Selat Hormuz secara langsung, sepenuhnya, dan menyeluruh" serta "mengakhiri ancaman nuklir Iran."

Pernyataan itu memunculkan harapan bahwa jalur pelayaran energi paling strategis di dunia tersebut dapat kembali beroperasi secara normal, sehingga mengurangi risiko gangguan pasokan minyak global.

Pasar Masih Meragukan Kesepakatan

Meski demikian, pelaku pasar masih mempertanyakan apakah kesepakatan benar-benar dapat tercapai.

Analis pasar IG, Tony Sycamore, mengatakan perhatian utama saat ini adalah apakah perkembangan pekan ini hanya akan mengulang pola pekan sebelumnya, ketika optimisme terhadap tercapainya kesepakatan akhirnya memudar.

"Fokus terbesar adalah apakah pekan ini hanya akan menjadi pengulangan dari pekan lalu, ketika harapan terhadap kesepakatan kembali runtuh karena Iran tetap bersikeras dan terus memanfaatkan kendalinya atas Selat Hormuz, termasuk berpotensi melalui serangan terhadap pangkalan militer AS atau kapal tanker yang melintasi jalur tersebut," ujar Sycamore.

Aktivitas Pelayaran Masih Terganggu

Data pelayaran yang dirilis Senin menunjukkan dua kapal tanker bermuatan minyak Arab Saudi berhasil melintasi Selat Bab el-Mandeb dari Laut Merah selama akhir pekan.

Namun, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih melambat setelah adanya laporan serangan terhadap sejumlah kapal.

Baca Juga: Rusia Perketat Keamanan Kapal di Laut Hitam, Siapkan Jalur Kargo Alternatif

Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan tiga serangan tambahan terhadap kapal tanker sejak Sabtu, menandakan risiko keamanan di kawasan masih tinggi.

OPEC+ Naikkan Kuota Produksi Mulai September

Di sisi lain, negara-negara anggota OPEC+ pada Minggu (2/8) menyetujui kenaikan kuota produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari mulai September 2026.

Kenaikan tersebut akan melengkapi proses penghentian bertahap pemangkasan produksi sukarela yang sebelumnya diterapkan oleh kelompok produsen minyak tersebut.

Meski demikian, gangguan ekspor minyak dari kawasan Teluk, Rusia, dan Kazakhstan akibat konflik Iran maupun perang Ukraina membuat kenaikan produksi OPEC+ dalam beberapa bulan terakhir belum benar-benar menambah pasokan minyak ke pasar global.

Akibatnya, tambahan kuota produksi tersebut sejauh ini hanya memberikan dampak yang terbatas terhadap pergerakan harga minyak dunia.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×