Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak anjlok di awal pekan ini dan mencapai level terendah dalam lebih dari seminggu, setelah Amerika Serikat (AS) tiba-tiba menangguhkan kampanye serangan udara terhadap Iran pada akhir pekan. Hal ini meningkatkan harapan akan solusi diplomatik yang memungkinkan pengiriman dilanjutkan di Selat Hormuz.
Senin (27/7/2026), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman September 2026 ditutup anjlok US$ 8,42 atau 8,7% menjadi US$ 88,36 per barel, terendah sejak 17 Juli 2026.
Sejalan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2026 ditutup melemah US$ 6,70 atau 7,5% ke US$ 82,61 per barel, terendah sejak 16 Juli.
Harga Brent berjangka di pekan lalu melampaui US$ 100 per barel karena konflik, yang telah mengurangi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, meluas ke Laut Merah.
Baca Juga: Bursa Global Variatif Senin (27/7), Pantau The Fed Setelah Meredanya Konflik AS-Iran
Hal ini menghambat ekspor dari eksportir minyak terbesar dunia, Arab Saudi, melalui Selat Bab-el-Mandeb ke Asia.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, mengatakan kepada "Fox News Sunday" dan media AS lainnya bahwa Presiden Donald Trump telah memutuskan untuk menghentikan sementara serangan AS untuk memberi lebih banyak waktu bagi diplomasi.
Pada hari Senin, Trump mengatakan AS sedang mengadakan "pembicaraan yang baik" dengan Iran, dan bahwa "ada kemungkinan besar sesuatu dapat terjadi" terkait dengan potensi kesepakatan. Ia juga mengancam akan melakukan "tindakan militer yang kuat" jika diplomasi gagal.
Harga minyak turun sepanjang sesi Senin, karena pertahanan udara Arab Saudi mencegat dan menghancurkan drone yang diluncurkan dari Irak.
Kelompok Houthi Yaman mengklaim telah menargetkan lokasi pasokan dan transportasi minyak mentah yang sensitif yang menghubungkan Arab Saudi bagian timur dengan pusat ekspor minyak Laut Merah yang penting di Yanbu.
"Pasar tampaknya selalu mencari kabar baik dari arena yang sebenarnya tidak memberikan kabar baik apa pun," kata analis PVM, John Evans.
"Penghentian sementara serangan militer mungkin tampak sebagai perbaikan, tetapi itu tidak disertai jaminan bahwa minyak akan segera mengalir dari daerah tersebut," katanya.
Baca Juga: Yield Treasury AS Turun usai Harga Minyak Anjlok, Pasar Fokus ke Rapat The Fed
Ia mengatakan, harga minyak berjangka hanya akan terus turun jika tingkat harga yang tinggi kembali menekan permintaan, bukan karena "gencatan senjata mini yang dipertanyakan".
Analis industri mengatakan mereka memperkirakan pasar minyak akan sangat fluktuatif sebagai respons terhadap perkembangan seputar gencatan senjata tidak resmi antara AS dan Iran, dan memperingatkan bahwa aliran fisik minyak tetap terbatas meskipun ada gencatan senjata.
"Volume pengiriman tetap sangat tertekan setelah gencatan senjata singkat pertengahan Juni, membatasi ekspor Timur Tengah dan memaksa pengalihan rute yang lebih panjang dan lebih mahal melalui Suez untuk kargo Laut Merah Saudi," kata Alex Hodes, direktur strategi pasar energi di perusahaan pialang StoneX.
Kurang dari 10 kapal komoditas melewati Selat Hormuz setiap hari selama akhir pekan, menurut data pengiriman dari Kpler.
"Arus turun menjadi sekitar 15% dari tingkat sebelum perang, dibandingkan dengan tingkat normal sekitar 20 juta barel per hari minyak mentah, kondensat, dan produk. Jeda politik tidak menambah satu barel pun ke perairan saat ini," kata Ole Hvalbye, analis pasar di SEB Research.
Selain itu, lalu lintas kapal melalui Selat Bab el-Mandeb menurun pada hari Minggu setelah Houthi Yaman menyerang instalasi minyak Saudi di sepanjang pantai Laut Merah, meskipun sebuah kapal tanker super China ketiga keluar melalui jalur air tersebut.
Baca Juga: Houthi Klaim Serang Jalur Distribusi Minyak Arab Saudi ke Laut Merah
Di tempat lain, Kazakhstan, salah satu dari 10 produsen minyak terbesar di dunia, telah mengurangi lebih dari setengah produksi minyak hariannya setelah penutupan terminal ekspor utama di Laut Hitam Rusia akibat serangan pesawat tak berawak, kata sebuah sumber industri pada hari Senin.
Kementerian energi kemudian mengatakan bahwa terminal Laut Hitam milik Konsorsium Pipa Kaspia telah melanjutkan pemuatan minyak.














