Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Iran menegaskan jalur diplomasi tetap menjadi satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran yang salah satunya menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran masih menunggu sikap resmi AS yang disampaikan melalui mediator.
Menurut dia, Iran telah menyampaikan proposal perdamaian melalui Qatar dalam pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pekan lalu.
"Hanya solusi melalui perundingan yang dapat mengakhiri kebuntuan ini," kata Araqchi melalui media sosial, Minggu (27/9/2026).
Baca Juga: Banjir dan Longsor Tewaskan 70 Orang di India dan Nepal, Puluhan Hilang
Iran menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran.
Dalam proposal tersebut, Iran menawarkan mekanisme yang dapat memicu pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu dalam waktu tujuh hari sekaligus menghentikan sementara pertempuran di kawasan.
Namun, Trump menyatakan telah menolak proposal tersebut. Ia menilai Iran menginginkan kesepakatan untuk segera membuka Selat Hormuz karena berada dalam posisi terdesak.
Meski demikian, Araqchi mengatakan mediator yang menjembatani komunikasi Iran dan AS belum secara resmi menyampaikan penolakan Washington kepada Teheran. Iran masih menunggu posisi definitif AS sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Kebuntuan ini menjadi penting bagi pasar global karena konflik telah mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur strategis bagi perdagangan energi dunia.
Gangguan tersebut telah menekan arus pengiriman minyak dan memberikan dampak terhadap perekonomian global.
Baca Juga: Banjir di Bangkok Surut Usai Hujan Deras, Warga Mulai Hitung Kerugian
Iran juga mulai berkomunikasi dengan Arab Saudi terkait Selat Hormuz. Langkah tersebut menunjukkan besarnya kepentingan negara-negara kawasan terhadap stabilitas jalur pelayaran tersebut.
Araqchi sebelumnya mengatakan kesepakatan dengan AS dapat menjadi awal pembicaraan yang lebih luas mengenai sejumlah isu yang disepakati kedua pihak, termasuk program nuklir Iran.
Namun, seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran tidak akan memberikan konsesi terkait program nuklirnya meskipun AS menerima proposal perdamaian tersebut.
Iran, kata pejabat itu, tetap mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium dan tidak akan menyetujui pengiriman uranium berkadar tinggi ke luar negeri.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran terbuka untuk berunding mengenai program nuklir dan isu lainnya. Namun, Iran tidak akan menerima tekanan maupun paksaan.
"Iran tidak mencari perang, tetapi akan mempertahankan diri dari tekanan, ancaman dan serangan," ujar Pezeshkian dalam wawancara dengan CBS.














