Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
Konflik Iran dengan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari telah berlangsung selama sekitar tujuh bulan. Pertempuran beberapa kali mereda sebelum kembali meningkat.
Konflik tersebut telah menimbulkan korban jiwa, melemahkan kekuatan konvensional Iran, serta menambah tekanan terhadap perekonomian negara tersebut.
Respons Iran dan kelompok yang menjadi sekutunya juga memperluas konflik ke sejumlah wilayah di Timur Tengah.
Iran melancarkan serangan drone dan rudal terhadap sekutu AS di kawasan Teluk, sementara kelompok Houthi di Yaman turut menyerang kepentingan Saudi.
Baca Juga: CEO OpenAI Dipanggil Senat Australia, Regulasi Industri AI Makin Diperketat
Pada Minggu, Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi melaporkan tujuh orang tewas dan 40 lainnya terluka, termasuk anak-anak, dalam serangan terhadap sejumlah toko di sebuah pasar di persimpangan Mawiya, Provinsi Taiz, Yaman barat daya.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional kemudian menyatakan pasukannya menargetkan kamp militer dan kendaraan milik Houthi di lokasi yang sama.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebuntuan diplomasi antara Iran dan AS tidak hanya berdampak pada hubungan kedua negara, tetapi juga berpotensi terus memengaruhi keamanan jalur pelayaran dan arus perdagangan energi di kawasan Timur Tengah.














