Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) turun pada perdagangan Senin (27/7/2026), seiring merosotnya harga minyak dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menghentikan sementara aksi saling serang.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke keputusan suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang dijadwalkan diumumkan pekan ini.
Baca Juga: Houthi Klaim Serang Jalur Distribusi Minyak Arab Saudi ke Laut Merah
Melansir Reuters, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2 basis poin menjadi 4,647%, setelah sempat menyentuh level terendah harian di 4,626%.
Penurunan yield terjadi setelah harga minyak anjlok lebih dari 7% menyusul jeda konflik antara AS dan Iran selama akhir pekan.
Iran menyatakan akan menghentikan serangan selama AS juga tidak melanjutkan aksi militernya, setelah Washington menghentikan kampanye pengeboman yang berlangsung selama dua pekan.
Meski demikian, ketegangan di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Arab Saudi, Yordania, dan Irak melaporkan adanya serangan pesawat nirawak (drone) pada Senin, yang dinilai menjadi ujian terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump menghentikan operasi militer.
Baca Juga: Porsche Pangkas Total 9.000 Pekerjaan hingga 2035
Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS (WTI) turun 6,08% menjadi US$ 83,90 per barel, sementara minyak Brent melemah 6,6% ke level US$ 90,34 per barel.
Kedua kontrak tersebut bertahan di dekat level terendah dalam sepekan setelah pekan lalu Brent sempat menyentuh US$ 102 per barel.
"Kondisi ini bertahan sesaat saja, seperti bintang jatuh," ujar Chief Executive Officer sekaligus Chief Investment Officer Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield.
Menurut Hatfield, pihaknya sejak awal menilai Iran tidak akan mencapai kesepakatan jangka panjang dengan AS, namun memperkirakan kedua pihak masih akan terus menunda penyelesaian konflik.
"Kami memperkirakan mereka hanya akan terus mengulur waktu, sehingga situasinya kemungkinan masih akan berlanjut," katanya.
Baca Juga: Volkswagen Buka Peluang Kolaborasi Strategis dengan Gotion di PowerCo
Sebelum adanya jeda konflik, yield Treasury sempat naik dalam beberapa hari terakhir karena lonjakan harga minyak memicu kembali kekhawatiran terhadap inflasi.
Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga.
Sepanjang Juli, yield obligasi tenor 10 tahun telah naik sekitar 23 basis poin dan berada di jalur kenaikan bulanan terbesar sejak Maret, saat konflik Iran kembali memanas.
Sementara itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun turun 2,2 basis poin menjadi 5,14%, dan berpotensi mencatat penurunan harian terbesar sejak 17 Juli.
Berdasarkan data CME FedWatch, peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin atau lebih pada pertemuan Rabu (29/7) mencapai 35,8%, meningkat dari 16% sepekan sebelumnya.
Baca Juga: Keppel Lepas 10 Anjungan Minyak Senilai S$3,7 Miliar hingga 2028
Pelaku pasar juga memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September mencapai 80,1%.
Di sisi lain, yield obligasi tenor dua tahun, yang sangat sensitif terhadap prospek kebijakan moneter, relatif tidak berubah di level 4,331%.
Pasar obligasi juga akan menghadapi tambahan pasokan surat utang pekan ini. Departemen Keuangan AS dijadwalkan melelang obligasi tenor dua tahun senilai US$ 69 miliar dan obligasi tenor lima tahun sebesar US$ 70 miliar pada Senin. Selanjutnya, lelang obligasi tenor tujuh tahun senilai US$ 44 miliar akan digelar pada Selasa.
Sementara itu, tingkat inflasi yang diperkirakan pasar melalui indikator Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) menunjukkan ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Baca Juga: Harga Minyak Mendekati Level Terendah Sepekan Pasca AS dan Iran Hentikan Pertempuran
Tingkat break-even TIPS tenor lima tahun berada di 2,221%, sedangkan tenor 10 tahun di 2,225%, yang mengindikasikan pasar memperkirakan inflasi rata-rata sekitar 2,2% per tahun dalam satu dekade mendatang.














