kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.622.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 18.035   52,00   0,29%
  • IDX 6.186   -10,65   -0,17%
  • KOMPAS100 807   -4,25   -0,52%
  • LQ45 613   -2,23   -0,36%
  • ISSI 214   -0,32   -0,15%
  • IDX30 345   -1,11   -0,32%
  • IDXHIDIV20 427   -1,32   -0,31%
  • IDX80 92   -0,44   -0,48%
  • IDXV30 116   -0,47   -0,40%
  • IDXQ30 110   -0,53   -0,47%

Bursa Global Variatif Senin (27/7), Pantau The Fed Setelah Meredanya Konflik AS-Iran


Senin, 27 Juli 2026 / 22:32 WIB
Bursa Global Variatif Senin (27/7), Pantau The Fed Setelah Meredanya Konflik AS-Iran
ILUSTRASI. Wall Street / Bursa Saham AS (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pergerakan pasar keuangan global berlangsung bervariasi pada perdagangan Senin (27/7/2026).

Bursa saham bergerak campuran, sementara harga minyak dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) turun setelah AS dan Iran menghentikan sementara aksi saling serang yang telah berlangsung selama dua pekan.

Baca Juga: Yield Treasury AS Turun usai Harga Minyak Anjlok, Pasar Fokus ke Rapat The Fed

Jeda konflik tersebut memunculkan harapan adanya solusi diplomatik yang dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah sekaligus membuka kembali kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia.

Meski begitu, investor masih berhati-hati karena situasi keamanan kawasan belum sepenuhnya stabil. Arab Saudi, Yordania, dan Irak melaporkan adanya serangan pesawat nirawak (drone) pada Senin, yang dinilai sebagai ujian terhadap keputusan terbaru Presiden AS Donald Trump menghentikan operasi militer terhadap Iran.

"Kondisi ini hanya bertahan sesaat, seperti bintang jatuh," ujar Chief Executive Officer sekaligus Chief Investment Officer Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield.

Menurut Hatfield, pihaknya sejak awal tidak memperkirakan Iran akan mencapai kesepakatan jangka panjang dengan AS.

"Namun kami memperkirakan kedua pihak hanya akan terus mengulur waktu. Jadi kemungkinan situasi seperti ini masih akan berlanjut," katanya.

Baca Juga: Houthi Klaim Serang Jalur Distribusi Minyak Arab Saudi ke Laut Merah

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menanti sejumlah agenda penting pekan ini, mulai dari keputusan suku bunga bank sentral utama hingga laporan keuangan emiten-emiten teknologi berkapitalisasi besar.

Di pasar energi, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 6,35% menjadi US$ 83,66 per barel, sedangkan minyak Brent merosot 6,82% menjadi US$ 90,18 per barel.

Sejalan dengan itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2,42 basis poin menjadi 4,655% dari posisi penutupan Jumat (24/7) sebesar 4,679%.

Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average memimpin penguatan dengan naik 346,81 poin atau 0,67% ke level 52.294,06.

Sementara itu, S&P 500 menguat tipis 1,90 poin atau 0,03% menjadi 7.414,01. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Nasdaq Composite justru melemah 50,57 poin atau 0,20% ke level 24.925,25.

Di Eropa, indeks STOXX 600 naik 0,35%, sedangkan FTSEurofirst 300 menguat 0,31%.

Baca Juga: Porsche Pangkas Total 9.000 Pekerjaan hingga 2035

Fokus pasar tertuju pada bank sentral

Pelaku pasar kini menantikan hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada Rabu (29/7).

Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga, meski sebagian pelaku pasar masih melihat peluang kenaikan suku bunga.

Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed berubah-ubah dalam beberapa pekan terakhir setelah lonjakan harga minyak sempat memicu kembali kekhawatiran inflasi.

Di sisi lain, pendekatan Ketua The Fed Kevin Warsh yang minim memberikan panduan kebijakan (forward guidance) juga menambah ketidakpastian.

Berdasarkan kontrak berjangka Fed Funds, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan pekan ini mencapai sekitar 38%. Sementara peluang kenaikan suku bunga pada September diperkirakan mencapai 81%.

Selain The Fed, Bank of England (BoE) akan mengumumkan kebijakan moneternya pada Kamis (30/7), disusul Bank of Japan (BoJ) pada Jumat (31/7).

Kedua bank sentral tersebut diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga, namun tetap memberikan perhatian terhadap risiko inflasi.

Di pasar valuta asing, dolar AS melemah 0,7% terhadap yen Jepang menjadi 163,73 yen per dolar AS.

Sementara itu, harga emas spot naik 0,42% menjadi US$ 4.069,42 per ons, didukung turunnya yield obligasi AS.

Baca Juga: Volkswagen Buka Peluang Kolaborasi Strategis dengan Gotion di PowerCo

Laporan keuangan raksasa teknologi dinanti

Selain kebijakan moneter, investor juga mencermati musim laporan keuangan emiten. Sekitar sepertiga perusahaan anggota indeks S&P 500 dijadwalkan merilis kinerja keuangan pekan ini.

Laporan keuangan kelompok saham teknologi "Magnificent Seven", yakni Microsoft, Amazon, Meta Platforms, dan Apple, dipandang akan menjadi penentu arah sentimen terhadap tema investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Pekan lalu, laporan arus kas negatif dari Alphabet dan Tesla memunculkan kekhawatiran terkait besarnya belanja perusahaan untuk pengembangan AI.

Di saat yang sama, debut kuat produsen chip asal China, CXMT, turut meningkatkan kekhawatiran atas persaingan industri semikonduktor global.

"Ini merupakan pekan yang sangat penting. Hasilnya bisa menentukan apakah saham hyperscaler atau saham semikonduktor dan memori akan lebih unggul hingga akhir tahun," kata Chairman Great Hill Capital, Thomas Hayes.

Baca Juga: Keppel Lepas 10 Anjungan Minyak Senilai S$3,7 Miliar hingga 2028

Dari sisi data ekonomi, pasar akan menantikan rilis awal produk domestik bruto (PDB) AS kuartal II, indeks inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Juni, data pendapatan dan belanja konsumen, klaim pengangguran mingguan, indeks biaya tenaga kerja kuartal II, serta survei sentimen konsumen Universitas Michigan.

Sementara di kawasan Eropa, investor akan mencermati data PDB sementara kuartal II, indeks sentimen ekonomi dan kepercayaan konsumen Juli, inflasi awal, serta tingkat pengangguran Juni.

Di Jerman, survei Institut Ifo yang dirilis Senin menunjukkan kepercayaan dunia usaha meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Juli, didorong membaiknya ekspektasi pelaku usaha terhadap prospek ekonomi.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×