kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.017   26,00   0,15%
  • IDX 7.092   -5,39   -0,08%
  • KOMPAS100 977   0,13   0,01%
  • LQ45 717   -1,48   -0,21%
  • ISSI 252   2,66   1,07%
  • IDX30 389   -2,31   -0,59%
  • IDXHIDIV20 489   0,39   0,08%
  • IDX80 110   0,25   0,22%
  • IDXV30 136   2,13   1,58%
  • IDXQ30 127   -0,98   -0,77%

Soal Dampak Perang Iran ke Ekonomi, The Fed Masih Wait and See


Selasa, 31 Maret 2026 / 04:40 WIB
Soal Dampak Perang Iran ke Ekonomi, The Fed Masih Wait and See
ILUSTRASI. Jerome Powell, Chairman The Fed (KONTAN/The Fed)


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - CAMBRIDGE. Perang Iran menjadi perhatian serius bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed). 

Namun, Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan, bank sentral AS masih wait and see bagaimana perang Iran memengaruhi ekonomi dan inflasi AS.

Ia bilang, para pembuat kebijakan biasanya mengabaikan guncangan seperti yang disebabkan harga minyak yang lebih tinggi. “Kami merasa kebijakan kami berada di posisi yang baik bagi kami untuk menunggu dan melihat bagaimana hasilnya,” kata Powell dalam presentasinya kepada kelas makroekonomi di Universitas Harvard, Senin (30/3/2026), seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: The Fed Awasi Sektor Private Credit, Jerome Powell: Belum Ada Risiko Sistemik

Saat perang Iran memasuki minggu kelima dan harga bensin AS naik hingga rata-rata sekitar US$ 4 per galon, The Fed menghadapi potensi tekanan antara dua mandatnya, yaitu lapangan kerja penuh dan stabilitas harga.

Menurut Powell, ekspektasi inflasi tampaknya terkendali dengan baik di luar jangka pendek. “Namun demikian, ini adalah sesuatu yang mungkin pada akhirnya akan kita hadapi pertanyaannya; kita belum benar-benar menghadapinya karena kita tidak tahu apa dampak ekonominya, tetapi kita pasti akan mempertimbangkan konteks yang lebih luas ketika kita membuat keputusan itu.”

The Fed mempertahankan suku bunga acuan semalam tetap stabil di kisaran 3,50%-3,75% awal bulan ini setelah berakhirnya pertemuan kebijakan dua hari.

Dalam konferensi pers setelah pertemuan tersebut, Powell mengatakan, ia ingin melihat inflasi yang didorong oleh tarif pada harga barang mereda sebelum membahas pertanyaan apakah bank sentral harus mengabaikan kenaikan inflasi yang berasal dari perang Iran, atau menanggapinya dengan kebijakan moneter yang lebih ketat untuk mencegah inflasi meningkat.

Kekhawatiran investor terhadap inflasi sejak saat itu telah berkontribusi pada kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, dan survei Universitas Michigan menunjukkan lonjakan ekspektasi harga rumah tangga di tahun mendatang. Ukuran lain, termasuk indikator berbasis pasar yang banyak dipantau, lebih optimistis.

Baca Juga: Harga Energi Global Melejit: Negara G7 Siapkan Langkah Darurat Redam Dampak


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×