kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.926   79,00   0,44%
  • IDX 6.106   -89,29   -1,44%
  • KOMPAS100 810   -14,46   -1,75%
  • LQ45 609   -10,44   -1,69%
  • ISSI 211   -3,14   -1,46%
  • IDX30 345   -4,90   -1,40%
  • IDXHIDIV20 424   -3,94   -0,92%
  • IDX80 92   -1,82   -1,94%
  • IDXV30 116   -1,38   -1,17%
  • IDXQ30 111   -1,40   -1,24%

Ekonomi Australia Melambat, Tumbuh 0,3% pada Kuartal I 2026


Rabu, 03 Juni 2026 / 08:59 WIB
Ekonomi Australia Melambat, Tumbuh 0,3% pada Kuartal I 2026
ILUSTRASI. Sydney Australia (REUTERS/Hollie Adams)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pertumbuhan ekonomi Australia melambat pada kuartal pertama 2026 di tengah lonjakan investasi sektor pusat data (data center) yang mendorong impor lebih tinggi.

Kondisi ini berpotensi semakin menekan perekonomian seiring meningkatnya biaya pinjaman dan harga bahan bakar.

Baca Juga: Yen Tembus Level Kritis 160 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Perkuat Greenback

Melansir Reuters data yang dirilis Australian Bureau of Statistics (ABS) pada Rabu (3/6/2026) menunjukkan, produk domestik bruto (PDB) riil Australia tumbuh 0,3% secara kuartalan pada periode Januari-Maret 2026.

Capaian tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan 0,9% pada kuartal sebelumnya dan berada di bawah perkiraan pasar yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 0,5%.

Meski demikian, secara tahunan ekonomi Australia masih tumbuh 2,5%, hanya sedikit lebih rendah dibanding periode sebelumnya.

Perlambatan ekonomi terjadi ketika gelombang investasi besar-besaran pada pembangunan pusat data meningkatkan belanja modal sektor swasta.

Namun, kebutuhan peralatan dan teknologi yang sebagian besar diimpor turut memperlebar arus impor, sehingga mengurangi kontribusi bersih perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Ke depan, aktivitas ekonomi Australia berisiko menghadapi tekanan tambahan akibat kenaikan suku bunga dan harga energi yang lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat membebani konsumsi rumah tangga maupun investasi sektor swasta.

Baca Juga: Harga Emas Melemah ke US$ 4.476 Rabu (3/6) di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Bank Sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA) menilai, perekonomian negara tersebut tidak dapat tumbuh jauh di atas 2% tanpa memicu tekanan inflasi yang lebih besar.

Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan RBA telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini guna menjaga inflasi tetap terkendali.

Data terbaru ini memperlihatkan bahwa meskipun ekonomi Australia masih tumbuh dalam laju yang relatif sehat, momentum ekspansinya mulai kehilangan tenaga di tengah kebijakan moneter yang semakin ketat dan meningkatnya tekanan biaya di berbagai sektor.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×