Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak mentah langsung anjlok 6% di awal perdagangan sesi Asia setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda serangan baru terhadap Iran. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai kesepakatan cepat yang akan menghentikan ambisi nuklir Teheran dan membuka kembali Selat Hormuz.
Senin (3/8/2026) pukul 05.15 WIB, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2026 dibuka anjlok US$ 5,27 atau 6,22% menjadi US$ 79,4 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 dibuka ambles US$ 5,52, atau 6,28%, menjadi US$ 82,41 per barel.
Sentimen utama yang menyeret harga minyak datang setelah Trump mengatakan bahwa AS akan menunda serangan baru ke Iran selama kesepakatan dapat dicapai dengan cepat untuk menghentikan ambisinya nuklir Iran dan membuka kembali Selat Hormuz.
Baca Juga: Israel Gempur Gaza Dua Hari Berturut-turut, Klaim Belum Ada Gencatan Senjata
Pada Sabtu (1/8/2026) malam, Trump menulis di platform Truth Social miliknya bahwa Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya telah meminta waktu untuk menyelesaikan kesepakatan yang akan mengarah pada pembukaan kembali selat Hormuz secara “segera, lengkap dan total” serta “mengakhiri ancaman nuklir Iran”.
Ia tidak menyebutkan nama negara-negara tersebut dalam unggahan itu, yang menyusul panggilan telepon dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dari Arab Saudi, yang jadi sekutu terdekat AS.
"Berdasarkan permintaan ini, saya telah setuju, demi kepentingan DUNIA di masa depan dan juga untuk kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur, untuk membatalkan serangan tersebut, dengan syarat dapat segera mencapai KESEPAKATAN," tulis Trump.
Israel "bergabung dengan saya dalam komitmen ini," katanya.
Kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan pada hari Minggu bahwa negosiasi antara Teheran dan Oman mengenai Selat Hormuz berada pada tahap akhir, mengutip Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan, negosiasi difokuskan pada kesepakatan rute baru melalui selat tersebut, menambahkan bahwa hal itu "tidak ada hubungannya dengan pembukaan atau penutupan Selat Hormuz. Itu adalah diskusi terpisah".
Bulan lalu, Iran secara terbuka menolak proposal Oman, yang didukung oleh negara-negara Teluk, untuk mengelola selat yang mereka bagi bersama. Orang-orang yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada Reuters bahwa rencana tersebut mencakup pengumpulan biaya sukarela untuk menggunakan selat tersebut.
De-eskalasi yang tampak dilakukan Trump setelah berhari-hari ancaman serangan baru dari masing-masing pihak adalah perkembangan terbaru dalam perang yang dilancarkan AS dan Israel lima bulan lalu. Serangan telah menyebar dari Teluk Persia ke Laut Merah dan bahkan ke fasilitas Mediterania di Mesir.
Iran sebagian besar telah menutup Selat Hormuz, jalur bagi 20% minyak dan gas alam cair dunia sebelum perang, menyebabkan harga energi naik dan memicu inflasi yang lebih luas.
Eli Cohen, Menteri Energi Israel dan anggota kabinet keamanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengatakan ada koordinasi keamanan dan intelijen yang erat antara Israel dan AS dalam segala hal yang terjadi di kawasan tersebut.
Baca Juga: Kebakaran Hutan di Eropa: Dua Helikopter Bertabrakan di Yunani & Hungaria Tutup PLTN
Namun ia menambahkan: "Dengan atau tanpa kesepakatan, dan terlepas dari komitmen eksternal apa pun, jika Iran mencoba untuk memperbarui program nuklirnya atau memajukan industri rudal balistiknya, kami akan berada di sana. Kami akan mengambil tindakan, dan kami akan menyerang."
Trump dan Netanyahu bertemu pada hari Selasa di Washington, dengan seorang pejabat Israel mengatakan mereka telah "mengeksplorasi semua kemungkinan jalan untuk mengekang program nuklir Iran, termasuk diplomasi, tekanan ekonomi, dan kekuatan." Teheran membantah berupaya memiliki senjata nuklir.
Pelaksana tugas Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Majid Ebn Al-Reza, mengatakan, Teheran memandang ancaman AS baru-baru ini sebagai "perang psikologis dan kognitif" tetapi "menanggapinya dengan serius," menambahkan bahwa Iran akan meningkatkan kesiapan dan pencegahan daripada lengah atau tetap pasif, lapor Press TV.
Dalam percakapannya dengan Trump, putra mahkota Saudi menekankan "perlunya memprioritaskan dialog untuk meredakan ketegangan" di Timur Tengah, menurut kantor berita negara Arab Saudi.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters bahwa keduanya telah berbicara tetapi tidak memberikan detailnya.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
