Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Neraca perdagangan Australia menjadi beban bagi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 seiring lonjakan impor peralatan pusat data (data center) dan bahan bakar, sementara belanja pemerintah tidak memberikan kontribusi terhadap ekspansi ekonomi.
Melansir Reuters, data yang dirilis Australian Bureau of Statistics (ABS) pada Selasa (2/6/2026) menunjukkan defisit transaksi berjalan Australia melebar menjadi A$27,1 miliar pada kuartal I-2026, dibandingkan defisit revisi A$23 miliar pada kuartal sebelumnya.
Baca Juga: Belanja Pemerintah Australia Stagnan, Tak Beri Tambahan Tenaga bagi Ekonomi
Angka tersebut juga lebih buruk dibandingkan proyeksi ekonom yang memperkirakan defisit sebesar A$23,2 miliar.
ABS memperkirakan bahwa ekspor neto (net exports) mengurangi 0,8 poin persentase terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal pertama tahun ini.
Angka tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan analis yang memprediksi pengurangan sebesar 0,5 poin persentase.
Kepala Statistik Internasional ABS, Jonathon Khoo, mengatakan perdagangan barang dan jasa Australia kembali mencatat defisit untuk pertama kalinya sejak kuartal IV-2017.
"Ekspor komoditas tambang menurun, sementara impor peralatan pusat data dan bahan bakar meningkat tajam," ujarnya.
Baca Juga: Nikkei Turun dari Rekor Tertinggi Selasa (2/6), Investor Waspadai Risiko Timur Tengah
Menurut Khoo, impor peralatan pemrosesan data otomatis (ADP) mencapai rekor tertinggi, didorong oleh masuknya server rak kecerdasan buatan (AI) dalam jumlah besar untuk mendukung investasi infrastruktur pusat data yang terus berlangsung di negara bagian New South Wales dan Victoria.
Di sisi lain, belanja pemerintah tercatat stagnan pada kuartal pertama. ABS memperkirakan pengeluaran sektor publik tidak memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, setelah sebelumnya menjadi salah satu penopang utama ekspansi ekonomi Australia.
Dengan kondisi tersebut, harapan pertumbuhan ekonomi kini bertumpu pada investasi sektor swasta dan konsumsi rumah tangga.
Australia dijadwalkan merilis data PDB kuartal I-2026 pada Rabu (3/6). Konsensus pasar memperkirakan ekonomi tumbuh 0,5% secara kuartalan, melambat dibandingkan pertumbuhan 0,8% pada kuartal sebelumnya. Secara tahunan, ekonomi Australia diperkirakan tumbuh 2,6%.
Sementara itu, Reserve Bank of Australia (RBA) telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini, yakni pada Februari, Maret, dan Mei, hingga mencapai 4,35%.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Tekan Mata Uang Asia, Rupiah Sentuh Level Terendah Baru
Langkah tersebut membalikkan seluruh pelonggaran kebijakan yang dilakukan tahun lalu guna meredam dampak lonjakan harga energi global akibat konflik Iran.
Sejumlah indikator menunjukkan pengetatan kebijakan moneter mulai menekan permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga tercatat menurun pada April, harga rumah nasional mulai stagnan, dan tingkat pengangguran menunjukkan tren kenaikan.
RBA memperkirakan pertumbuhan ekonomi Australia akan melambat menjadi 1,9% pada kuartal II-2026 dan turun lebih lanjut menjadi 1,3% pada akhir tahun, seiring dampak suku bunga tinggi dan gejolak geopolitik global yang mulai merambat ke sektor riil ekonomi.












