Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dua perusahaan farmasi global, AstraZeneca Plc dan Bristol Myers Squibb, dikabarkan telah menggelar pembicaraan awal terkait kemungkinan penggabungan usaha (merger) yang berpotensi menciptakan salah satu perusahaan farmasi terbesar di dunia dengan nilai gabungan mendekati US$ 400 miliar.
Informasi tersebut pertama kali dilaporkan oleh Financial Times dan dikonfirmasi oleh sumber yang mengetahui pembahasan tersebut kepada Reuters. Namun, hingga saat ini belum dapat dipastikan apakah pembicaraan masih berlangsung atau telah berakhir.
Jika terealisasi, transaksi ini akan menjadi salah satu merger terbesar dalam sejarah industri farmasi global. Meski demikian, kesepakatan tersebut juga menghadapi risiko regulasi yang cukup besar, terutama terkait pengawasan antimonopoli di Amerika Serikat.
Menurut sumber Reuters, pemerintahan Presiden Donald Trump diperkirakan akan mencermati secara ketat transaksi tersebut karena berpotensi mengubah lanskap industri farmasi AS. Trump sendiri diketahui mendorong investasi domestik dan ekspansi fasilitas manufaktur farmasi di dalam negeri.
Situasi ini menjadi menarik karena AstraZeneca merupakan perusahaan yang berbasis di Inggris. Apabila merger terjadi, maka perusahaan Inggris tersebut secara efektif akan mengakuisisi salah satu perusahaan farmasi besar Amerika Serikat.
Baca Juga: CXMT Jajaki Pembangunan Pabrik Chip Memori Baru di Beijing
AstraZeneca menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut. Sementara itu, Bristol Myers Squibb belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters.
Pertumbuhan Kuat dari Obat Kanker
AstraZeneca menunjukkan kinerja yang solid dalam beberapa tahun terakhir. Di bawah kepemimpinan Chief Executive Officer (CEO) Pascal Soriot selama 14 tahun terakhir, harga saham perusahaan telah melonjak lebih dari empat kali lipat dan mengungguli indeks FTSE 100 maupun pesaing utamanya di Inggris, GSK.
Laporan keuangan kuartal II-2026 yang dirilis pekan lalu menunjukkan bahwa permintaan yang kuat terhadap obat kanker dan penyakit langka masih menjadi mesin utama pertumbuhan AstraZeneca.
Penjualan obat kanker AstraZeneca pada tahun 2025 mencapai sekitar US$ 25 miliar atau hampir setengah dari total pendapatan perusahaan. Sementara itu, lini pengobatan penyakit kardiovaskular, ginjal, dan metabolisme menyumbang sekitar US$ 12 miliar.
Di sisi lain, obat-obatan onkologi menyumbang lebih dari 40% total penjualan Bristol Myers Squibb pada semester pertama 2026. Kedua perusahaan juga memiliki portofolio terapi imun kanker yang saling bersaing secara langsung di pasar global.
Risiko Pengawasan Antimonopoli
Andre Barlow, pengacara antimonopoli dari DBM Law Group, menilai otoritas persaingan usaha AS kemungkinan akan memberikan perhatian besar terhadap merger tersebut.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5% Setelah Trump Tunda Serangan ke Iran
"Saya memperkirakan FTC di bawah pemerintahan Trump akan meneliti merger ini secara ketat. Jika terdapat tumpang tindih yang signifikan pada sejumlah obat maupun proyek pengembangan obat tahap akhir, maka perusahaan kemungkinan harus melakukan divestasi dalam skala besar," ujar Barlow.
FTC atau Federal Trade Commission merupakan lembaga yang bertugas mengawasi praktik persaingan usaha di Amerika Serikat.
Barlow mengingatkan bahwa dalam akuisisi Celgene oleh Bristol Myers pada 2019, FTC saat itu mewajibkan Celgene melepas bisnis obat psoriasis Otezla senilai sekitar US$ 13,4 miliar sebagai syarat persetujuan transaksi.
Menurutnya, pengawasan terhadap merger di sektor farmasi mendapat dukungan dari kedua partai politik di AS.
"Ada dukungan bipartisan untuk mengawasi transaksi di sektor farmasi. Karena itu saya membayangkan bahkan FTC di bawah Trump juga akan mengajukan pertanyaan yang lebih luas terkait praktik bundling produk dan potensi berkurangnya inovasi di masa depan, selain meneliti seluruh area yang saling tumpang tindih secara langsung," kata Barlow.
Bristol Myers Hadapi Tekanan Kehilangan Hak Paten
Dalam beberapa tahun terakhir, Bristol Myers aktif melakukan akuisisi skala kecil guna memperkuat portofolio obat baru di tengah menurunnya penjualan sejumlah produk lama.
Pada 2019, perusahaan mengakuisisi Celgene dengan nilai sekitar US$ 80 miliar. Transaksi tersebut menghadirkan obat kanker darah andalan Revlimid ke dalam portofolio Bristol Myers dan sempat menjadi produk dengan penjualan terbesar perusahaan.
Namun, Revlimid kini telah kehilangan perlindungan paten. Selain itu, dua produk unggulan Bristol Myers saat ini, yakni terapi imun kanker Opdivo dan obat pengencer darah Eliquis, diperkirakan juga akan kehilangan perlindungan paten pada 2028.
Baca Juga: Shell Jual Bisnis Energi Terbarukan di Eropa kepada TotalEnergies, Fokus Migas
Meski demikian, Bristol Myers baru saja menaikkan proyeksi pendapatan dan laba tahun penuh setelah mencatatkan hasil kuartal II-2026 yang melampaui ekspektasi analis. Kinerja tersebut ditopang oleh penjualan kuat Eliquis serta sejumlah produk baru.
Beberapa kandidat obat yang dinilai menjanjikan dalam portofolio perusahaan antara lain obat pengencer darah eksperimental milvexian, terapi anemia Reblozyl, serta obat jantung Camzyos.
Potensi Menjadi Merger Farmasi Terbesar dalam Satu Dekade
Pembahasan merger ini muncul sekitar 12 tahun setelah AstraZeneca berhasil menolak upaya akuisisi dari raksasa farmasi AS, Pfizer.
Dalam beberapa tahun terakhir, transaksi besar di industri farmasi relatif jarang terjadi. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya pengawasan antimonopoli serta tekanan pemerintah AS untuk menjaga harga obat tetap terjangkau.
Selain akuisisi Bristol Myers terhadap Celgene, transaksi besar lain yang pernah terjadi adalah akuisisi Allergan oleh AbbVie pada 2020 dan penggabungan Takeda dengan Shire pada 2019.
Apabila merger AstraZeneca dan Bristol Myers benar-benar terwujud, transaksi tersebut berpotensi menjadi salah satu kesepakatan terbesar yang pernah terjadi di sektor kesehatan global, sekaligus mengubah peta persaingan industri farmasi dunia dalam jangka panjang.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
