kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.926   79,00   0,44%
  • IDX 6.106   -89,29   -1,44%
  • KOMPAS100 810   -14,46   -1,75%
  • LQ45 609   -10,44   -1,69%
  • ISSI 211   -3,14   -1,46%
  • IDX30 345   -4,90   -1,40%
  • IDXHIDIV20 424   -3,94   -0,92%
  • IDX80 92   -1,82   -1,94%
  • IDXV30 116   -1,38   -1,17%
  • IDXQ30 111   -1,40   -1,24%

Yen Tembus Level Kritis 160 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Perkuat Greenback


Rabu, 03 Juni 2026 / 08:51 WIB
Yen Tembus Level Kritis 160 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Perkuat Greenback
ILUSTRASI. Forex - Yen Jepang, Dolar AS, Pound (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Yen Jepang kembali tertekan hingga menyentuh level psikologis 160 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026), seiring menguatnya dolar AS akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.

Permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven meningkat setelah konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas, sementara upaya diplomatik kedua negara masih menemui jalan buntu.

Baca Juga: Harga Emas Melemah ke US$ 4.476 Rabu (3/6) di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Komando Pusat Militer AS (U.S. Central Command) menyatakan Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah negara-negara tetangga di kawasan, namun seluruh serangan tersebut gagal mencapai sasaran.

Sebagai respons atas upaya serangan tersebut, pasukan AS dilaporkan melancarkan serangan ke Pulau Qeshm di Iran.

Memanasnya kembali konflik tersebut membuat sentimen pasar tetap berhati-hati dan mendukung penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang utama dunia.

Pada perdagangan Asia, yen sempat melemah hingga menyentuh level 160 per dolar AS, level yang selama ini menjadi perhatian pasar karena pernah memicu intervensi pemerintah Jepang.

Baca Juga: Damai Masih Jauh, Konflik Iran-AS Kembali Panaskan Kawasan Teluk

Pelemahan tersebut menghapus penguatan yen yang terjadi setelah intervensi senilai 11,7 triliun yen atau sekitar US$ 73,14 miliar yang dilakukan Tokyo sebulan lalu untuk menopang mata uangnya.

Terakhir, dolar AS tercatat naik 0,04% ke level 159,98 yen.

Kepala Strategi Valas SMBC Hirofumi Suzuki mengatakan, kenaikan harga minyak mentah memperbesar tekanan jual terhadap yen.

"Kenaikan harga minyak memudahkan tekanan pelemahan yen untuk terbentuk," ujar Suzuki.

Menurutnya, pasar kemungkinan mencermati area 160-161 yen per dolar AS sebagai batas penting yang dapat memicu intervensi lanjutan dari otoritas Jepang.

Baca Juga: Alarm Baru Ekonomi Jepang, Sektor Jasa Tersendat Akibat Lonjakan Biaya

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan, pemerintah siap mengambil langkah yang diperlukan untuk merespons pergerakan nilai tukar yang berlebihan.

Di pasar mata uang lainnya, pergerakan relatif terbatas. Euro melemah 0,09% ke level US$ 1,1621, sementara poundsterling turun 0,07% ke posisi US$ 1,3455.

Data yang dirilis Selasa menunjukkan inflasi kawasan euro meningkat pada bulan lalu, didorong oleh kenaikan harga energi dan jasa.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Perang yang berkepanjangan di Timur Tengah serta tingginya harga energi juga mendorong pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap pengetatan kebijakan moneter oleh sejumlah bank sentral utama dunia tahun ini.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga yang sebelumnya mendominasi sebelum konflik memanas.

Baca Juga: SpaceX Targetkan Harga US$ 135 per Saham pada IPO, Berpotensi Raup Dana US$ 75 Miliar

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama tercatat stabil di level 99,28 setelah menguat tipis pada perdagangan sebelumnya.

Dari Amerika Serikat, data yang dirilis Selasa menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan meningkat paling tinggi dalam lima tahun pada April.

Meski demikian, sebagian analis menilai lonjakan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja yang sesungguhnya.

Investor kini menantikan data payroll sektor swasta yang akan dirilis pada Rabu, sebelum laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls yang dijadwalkan keluar pada Jumat (5/6).

Strategis Commonwealth Bank of Australia, Kristina Clifton, menilai pasar tenaga kerja AS mulai menunjukkan perbaikan setelah melemah sepanjang 2025.

"Dikombinasikan dengan inflasi yang masih tinggi, kami memperkirakan Federal Reserve akan memulai siklus kenaikan suku bunga pada Desember 2026," ujar Clifton.

Baca Juga: Iran Klaim Serang Markas Armada Kelima AS, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas

Saat ini pasar memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed sekitar 18 basis poin hingga akhir tahun.

Sementara itu, dolar Australia turun 0,05% menjadi US$ 0,7177 dan dolar Selandia Baru melemah 0,03% ke level US$ 0,5924.

Di pasar aset digital, Bitcoin jatuh ke level terendah dalam dua bulan terakhir dan terakhir diperdagangkan turun 0,75% di posisi US$ 66.985,26.

Ether juga menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir sebelum diperdagangkan di kisaran US$ 1.869,33.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×