Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Federal Reserve St. Louis, Alberto Musalem menyatakan bahwa bank sentral Amerika Serikat tidak melihat kebutuhan mendesak untuk mengubah suku bunga, meski ia memperingatkan risiko inflasi yang meningkat akibat perang di Timur Tengah.
“Kebijakan saat ini sudah tepat untuk menghadapi risiko terhadap kedua tujuan mandat ganda, dan saya memperkirakan tingkat suku bunga saat ini akan tetap sesuai untuk beberapa waktu ke depan,” kata Musalem dalam teks pidato yang disampaikan di American Enterprise Institute, Washington pada Rabu (1/4/2026) dilansir Reuters.
Baca Juga: Trump Ancang-ancang Keluar dari NATO, Ketegangan dengan Sekutu Meningkat
Ia menambahkan, “Prospek ekonomi sangat tidak pasti. Meskipun skenario dasar menunjukkan pertumbuhan yang layak, stabilitas tingkat pengangguran, dan moderasi inflasi lebih lanjut, ketidakpastian dari konflik Timur Tengah dan kebijakan tarif yang belum jelas bisa menekan pengeluaran konsumen dan bisnis pada paruh pertama tahun ini.”
Musalem juga menyebut bahwa harga bahan bakar, aluminium, dan pupuk yang meningkat dapat memberi tekanan tambahan pada ekonomi.
Dalam kondisi ini, risiko terhadap pasar tenaga kerja dan inflasi cenderung tidak menguntungkan, yaitu potensi pasar tenaga kerja melemah dan inflasi yang tetap tinggi.
Ia menjelaskan, selama ini Fed biasanya mengabaikan supply shock sementara sebagai penyebab sementara inflasi tinggi, namun situasi saat ini bisa berbeda.
“Sejarah menunjukkan kewaspadaan diperlukan, terutama ketika inflasi mendasar terus berada di atas target. Supply shock bisa berdampak persisten pada inflasi dan ekspektasi inflasi, mengingat sulitnya membedakan inflasi yang bersifat sementara atau akibat tekanan permintaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Baca Juga: Penjualan Ritel AS Tumbuh Solid pada Februari 2026, Tapi Harga BBM Jadi Ancaman
Outlook The Fed Masih Tertutup Ketidakpastian
Bulan lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuan overnight di kisaran 3,50%-3,75% sambil menunggu data dampak perang AS-Israel dengan Iran, yang telah memicu lonjakan harga energi dan mengganggu rantai pasok global.
Dalam pertemuan kebijakan terbaru, pejabat The Fed tidak memberi sinyal kebutuhan segera untuk mengubah suku bunga.
Pasar keuangan masih berfluktuasi antara ekspektasi kenaikan dan penurunan suku bunga terkait prospek inflasi.
Musalem menekankan ada kondisi yang bisa mendorong penurunan maupun kenaikan suku bunga di masa depan. Ia bisa mendukung pelonggaran kebijakan jika risiko pelemahan pasar tenaga kerja semakin nyata, asalkan risiko inflasi tetap rendah.
Baca Juga: Pasokan Energi Dunia Goyah: Iran Serang Tanker Abaikan Ancaman Trump
Sebaliknya, kenaikan suku bunga bisa dipertimbangkan untuk menghindari pelonggaran nyata yang tidak disengaja jika inflasi inti atau ekspektasi inflasi jangka menengah-panjang bergerak naik secara persisten melewati target 2%.
Ia menambahkan, kondisi keuangan saat ini masih “secara luas akomodatif,” dan tekanan di pasar kredit swasta terbatas pada sektor tertentu, bukan tanda masalah yang lebih luas.













