kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.888.000   -5.000   -0,17%
  • USD/IDR 17.164   7,00   0,04%
  • IDX 7.624   -52,36   -0,68%
  • KOMPAS100 1.056   -6,56   -0,62%
  • LQ45 760   -4,37   -0,57%
  • ISSI 277   0,16   0,06%
  • IDX30 404   -2,51   -0,62%
  • IDXHIDIV20 489   -2,28   -0,46%
  • IDX80 118   -0,60   -0,51%
  • IDXV30 138   1,46   1,07%
  • IDXQ30 129   -0,80   -0,62%

Ekonomi China Diprediksi Bangkit di Kuartal I, Tapi Perang Iran Bayangi Outlook 2026


Kamis, 16 April 2026 / 06:48 WIB
Ekonomi China Diprediksi Bangkit di Kuartal I, Tapi Perang Iran Bayangi Outlook 2026
ILUSTRASI. Ekonomi China / PMI Manufaktur (REUTERS/China Daily CDIC)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Kinerja ekonomi China diperkirakan menguat pada awal 2026, ditopang ekspor yang solid dan dukungan kebijakan pemerintah.

Namun, momentum tersebut mulai tertekan akibat lonjakan biaya energi imbas konflik Iran yang mengganggu prospek sepanjang tahun.

Baca Juga: Kilang Australia Terbakar, Produksi Bensin Terancam di Tengah Gangguan Pasokan Global

Melansir Reuters Kamis (16/4/2026), data yang akan dirilis menunjukkan produk domestik bruto (PDB) China pada kuartal I-2026 diperkirakan tumbuh 4,8% secara tahunan, meningkat dari 4,5% pada kuartal sebelumnya yang menjadi level terendah dalam tiga tahun terakhir.

Namun, laju pertumbuhan diprediksi melambat ke 4,7% pada kuartal II, dengan pertumbuhan sepanjang 2026 diproyeksikan berada di kisaran 4,6%, turun dari 5,0% pada 2025.

Rentan Guncangan Energi

Sebagai importir energi terbesar dunia dan ekonomi berbasis ekspor, China dinilai sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak.

Konflik Iran telah mendorong kenaikan biaya energi dan transportasi, sekaligus menekan permintaan global.

Baca Juga: AS Selidiki Transaksi Minyak Mencurigakan Jelang Perubahan Kebijakan Iran Trump

Ekonom Goldman Sachs menilai, ekspor masih menjadi motor utama pertumbuhan, namun keberlanjutannya mulai dipertanyakan seiring meningkatnya risiko eksternal.

“Guncangan energi menggeser fokus pada ketahanan permintaan eksternal,” tulis analis dalam laporan mereka.

Ekspor dan Konsumsi Mulai Melemah

Pertumbuhan ekspor China melambat tajam menjadi 2,5% pada Maret secara tahunan, dibandingkan lonjakan 21,8% pada periode Januari–Februari.

Meski demikian, secara kumulatif kuartal I masih mencatat kenaikan 14,7%.

Baca Juga: FIFA Pastikan Iran Tampil di Piala Dunia, Meski Bayang-Bayang Konflik Masih Ada

Di sisi domestik, konsumsi juga menunjukkan tanda pelemahan. Penjualan ritel diperkirakan hanya tumbuh 2,3% pada Maret, turun dari 2,8% sebelumnya. Produksi industri juga melambat ke 5,5%.

Sebaliknya, investasi menjadi penopang dengan pertumbuhan investasi aset tetap diperkirakan naik tipis menjadi 1,9% pada kuartal I.

Tekanan Biaya Mulai Terasa

Indikasi tekanan mulai terlihat dari kenaikan harga di tingkat produsen (factory-gate prices) pada Maret, yang menjadi kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun.

Hal ini menandakan biaya energi mulai merembes ke sektor industri dan berpotensi menekan margin perusahaan.

Pemerintah Siapkan Stimulus

Pemerintah China berkomitmen meningkatkan belanja infrastruktur dan layanan publik untuk menjaga pertumbuhan.

Defisit anggaran ditargetkan sekitar 4% dari PDB, disertai penerbitan obligasi dalam jumlah besar.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Melemah Tipis Rabu (15/4), Pasar Cermati Perkembangan AS-Iran

Bank sentral juga diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan moneter akomodatif, meskipun ruang untuk memangkas suku bunga terbatas akibat tekanan inflasi.

Ke depan, fokus kebijakan akan diarahkan untuk meningkatkan konsumsi domestik, mengingat ketidakseimbangan antara produksi yang kuat dan permintaan yang masih lemah.

Secara keseluruhan, meskipun awal tahun menunjukkan pemulihan, tekanan eksternal akibat konflik geopolitik berpotensi membatasi laju pertumbuhan ekonomi China sepanjang 2026.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×