Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan melambat ke level terendah dalam tiga tahun pada kuartal IV-2025 seiring melemahnya permintaan domestik.
Meski demikian, laju pertumbuhan setahun penuh masih diproyeksikan mendekati target pemerintah Beijing.
Namun, meningkatnya ketegangan dagang dan persoalan struktural membayangi prospek ekonomi ke depan.
Jajak pendapat Reuters memperkirakan produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 4,4% secara tahunan pada Oktober–Desember 2025, melambat dari 4,8% pada kuartal III dan menjadi yang terlemah sejak kuartal IV-2022, saat ekonomi masih dibatasi kebijakan pandemi.
Baca Juga: Merger Rio Tinto–Glencore Berpotensi Harus Jual Aset demi Restu China
Pelemahan ini terjadi di tengah konsumsi dan investasi yang lesu, meski ekspor tetap relatif tangguh.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi China pada 2025 diperkirakan mencapai 4,9%, hampir memenuhi target resmi pemerintah “sekitar 5%”. Sebagai perbandingan, ekonomi China tumbuh 5,0% pada 2024.
Ekspor Jadi Penopang Utama
Ketahanan ekonomi China sepanjang 2025 ditopang oleh sektor manufaktur dan ekspor, terutama ke pasar non-Amerika Serikat (AS).
Negeri Tirai Bambu mencatat surplus perdagangan hampir US$1,2 triliun rekor tertinggi berkat strategi eksportir yang mendiversifikasi pasar untuk meredam dampak tarif AS.
Baca Juga: Eropa Bersatu Soal Greenland: Strategi 8 Negara Lawan Tarif 10% Donald Trump
Namun, ketergantungan yang semakin besar pada permintaan eksternal justru menyoroti kerentanan struktural ekonomi China. Permintaan domestik masih lemah akibat krisis berkepanjangan di sektor properti serta tekanan deflasi yang belum mereda.
Secara kuartalan, ekonomi China diperkirakan tumbuh 1,0% pada kuartal IV-2025, sedikit lebih rendah dibandingkan 1,1% pada kuartal sebelumnya.
Pemerintah China dijadwalkan merilis data PDB kuartal IV dan setahun penuh, serta data aktivitas ekonomi Desember, pada Senin (20/1).
Tantangan 2026: Proteksionisme dan Trump
Prospek ekonomi China pada 2026 dinilai semakin menantang, dipicu meningkatnya proteksionisme global dan kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump yang sulit diprediksi.
Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif 25% terhadap negara-negara yang berdagang dengan Iran.
Reuters memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China akan melambat menjadi 4,5% pada 2026, meningkatkan tekanan bagi pemerintah untuk menggulirkan stimulus tambahan guna menopang pertumbuhan jangka panjang.
Baca Juga: Kongres AS Peringatkan Donald Trump: Invasi Greenland Berujung Pemakzulan
Sebagai dorongan awal, bank sentral China pekan ini memangkas suku bunga khusus sektor tertentu dan membuka peluang penurunan rasio giro wajib minimum (RRR) serta suku bunga acuan lebih lanjut.
Namun, analis ANZ menilai dampak kebijakan tersebut masih terbatas. “Pertumbuhan kemungkinan tetap lemah pada kuartal I-2026 karena paket kebijakan ini hanya memberikan dukungan ekonomi yang terbatas,” tulis ANZ.
Ketimpangan Struktural Jadi Beban
ANZ memperkirakan PDB nominal China hanya tumbuh sekitar 4,0% pada 2025—yang terlemah sejak 1976, di luar periode pandemi 2020.
Deflator PDB China juga tercatat negatif sejak 2023, menandakan kelebihan pasokan dan lemahnya permintaan.
Dalam pertemuan ekonomi penting Desember lalu, para pemimpin China berjanji mempertahankan kebijakan fiskal yang “proaktif” pada 2026, dengan target pertumbuhan diperkirakan tetap di kisaran 5%.
Baca Juga: AS Klaim Perlu Kuasai Greenland karena Kelemahan Eropa
Beijing juga berkomitmen meningkatkan porsi konsumsi rumah tangga secara signifikan dalam lima tahun ke depan, meski tanpa target angka resmi.
Sebagian besar penasihat kebijakan menilai rasio konsumsi perlu dinaikkan hingga 45% pada 2030, dari sekitar 40% saat ini.
Untuk mencapai target tersebut, China perlu meningkatkan pendapatan rumah tangga dan memperkuat jaring pengaman sosial guna menekan tingginya tabungan berjaga-jaga.
Penurunan harga properti juga telah menggerus kekayaan rumah tangga, memperberat tantangan kebijakan.
Tekanan di Tingkat Rumah Tangga
Fang Ying (54), seorang pekerja pengiriman barang asal China timur laut, mengaku penghasilan bulanannya sekitar 8.000 yuan nyaris habis untuk biaya sewa, kebutuhan hidup di Beijing, serta pendidikan anaknya. Ia juga kehilangan sekitar 100.000 yuan dari usaha restoran yang gagal beberapa tahun lalu.
“Tidak mudah… saya tidak bisa bersaing dengan anak muda,” katanya. “Peluang memang banyak di Beijing, tapi tidak untuk orang seperti saya.”
Bank Dunia dan IMF telah lama mendorong China beralih ke model pertumbuhan berbasis konsumsi dan mengurangi ketergantungan pada investasi serta ekspor. Meski Beijing mulai menekan kelebihan kapasitas industri dan perang harga, ekonom menilai langkah tersebut belum cukup.
Baca Juga: Bunker Korea Utara Terancam: Ini Risiko Fatal Rudal Monster Hyunmoo-5 Milik Seoul
“China saat ini menghadapi masalah makro berupa kelebihan pasokan. Permintaan domestik tertinggal jauh dari suplai,” kata Kepala Ekonom Asia S&P Global Ratings, Louis Kuijs.
“Ini menekan pertumbuhan, harga, dan laba, sekaligus memicu friksi internasional karena banyak perusahaan mengandalkan ekspor untuk keluar dari kondisi ‘involusi’ di dalam negeri.”
Data aktivitas ekonomi Desember diperkirakan menunjukkan konsumsi masih melemah. Penjualan ritel diproyeksikan hanya tumbuh 1,2% secara tahunan, terendah sejak Desember 2022.
Sebaliknya, output industri diperkirakan meningkat 5,0%, naik dari 4,8% pada November.











![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
