Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (2/3/2026) berupaya membenarkan perang terbuka terhadap Iran, dalam komentar publik terluasnya sejauh ini mengenai operasi militer yang tujuan dan garis waktunya disebut terus berubah sejak dimulai akhir pekan lalu.
Berbicara di Gedung Putih setelah kembali dari Florida, Trump mengatakan serangan udara AS dan Israel yang dimulai Sabtu diproyeksikan berlangsung empat hingga lima minggu, tetapi bisa berjalan lebih lama.
Baca Juga: Benjamin Netanyahu: Perang AS-Israel Lawan Iran Tak Akan Berlarut
Kampanye militer tersebut dilaporkan telah menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menenggelamkan sedikitnya 10 kapal perang Iran, dan menghantam lebih dari 1.000 target.
“Kami sudah jauh melampaui proyeksi waktu. Tapi berapa pun waktunya, tidak masalah. Apa pun yang diperlukan,” kata Trump dalam penampilan publik pertamanya sejak konflik dimulai.
Fokus pada Nuklir, Bukan Ganti Rezim
Trump tidak lagi secara eksplisit menyebut perubahan rezim sebagai tujuan, melainkan menegaskan operasi diperlukan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dan menghentikan program rudal balistik jarak jauhnya, tuduhan yang dibantah Teheran.
“Rezim Iran yang dipersenjatai rudal jarak jauh dan senjata nuklir akan menjadi ancaman yang tak dapat diterima, bukan hanya bagi Timur Tengah tetapi juga rakyat Amerika,” ujarnya.
Baca Juga: KOSPI Korsel Anjlok 2% Selasa (3/3), Saat Perang Timur Tengah Bayangi Data Ekonomi
Pesan yang Berubah-ubah
Komentar Trump menyusul serangkaian pernyataan yang dinilai tidak konsisten dalam beberapa hari terakhir.
Pada Sabtu, ia menyerukan rakyat Iran untuk “mengambil kembali negara Anda,” yang dipandang sebagai sinyal perubahan rezim.
Pada Minggu, dalam wawancara dengan media AS, ia menyatakan terbuka untuk berunding dengan siapa pun yang muncul sebagai pemimpin baru Iran.
Ia juga merujuk pada operasi Januari terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai model kemungkinan masa depan Iran.
Namun dalam pemberitahuan resmi kepada Kongres yang diperoleh Politico, Trump tidak mencantumkan batas waktu operasi.
“Walaupun Amerika Serikat menginginkan perdamaian yang cepat dan berkelanjutan, saat ini tidak mungkin mengetahui sepenuhnya cakupan dan durasi operasi militer yang mungkin diperlukan,” tulisnya.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Hari Ketiga Selasa (3/3) Pagi: Brent ke US$78,83 & WTI ke US$71,97
Strategi Komunikasi Gedung Putih
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menepis anggapan bahwa pesan pemerintah membingungkan.
Ia mengatakan Trump telah menyampaikan tujuan yang jelas, termasuk mencegah proksi Iran melancarkan serangan dan menghentikan produksi bom rakitan seperti yang digunakan terhadap pasukan AS pasca invasi Irak 2003.
Analis Jon Alterman dari Center for Strategic and International Studies menilai Trump tampaknya sengaja membiarkan hasil akhir perang tidak terdefinisi secara tegas.
“Saya tidak yakin mereka berkomitmen pada satu hasil tertentu,” katanya.
Tidak seperti operasi militer sebelumnya ketika Trump segera menyampaikan pidato resmi atau konferensi pers kali ini pejabat senior pemerintahan dilaporkan menghindari tampil di acara talk show politik, dengan tujuan menjaga Trump sebagai penyampai pesan utama.
Perbedaan pendekatan ini mencerminkan dinamika komunikasi yang masih berkembang di tengah konflik yang skalanya terus meluas.













