Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Korea Selatan turun sekitar 2% pada Selasa (3/3/2026) karena meluasnya perang di Timur Tengah menekan selera risiko investor, menutupi sentimen positif dari data ekonomi domestik yang solid.
Melansir Reuters, Indeks acuan KOSPI merosot 127,09 poin atau 2,04% ke 6.117,04 pada pukul 01.43 GMT. Pasar sebelumnya tutup pada Senin karena hari libur nasional.
Konflik udara AS-Israel terhadap Iran yang kian meluas, termasuk serangan ke Lebanon dan serangan balasan terhadap negara-negara Teluk, meningkatkan kekhawatiran pasar global.
Baca Juga: Won Korsel dan Dolar Taiwan Tekan Mata Uang Asia dalam Perdagangan Sepi Selasa (3/3)
Otoritas Siaga
Kementerian Keuangan dan bank sentral Korea Selatan menyatakan pihaknya memantau ketat pasar keuangan dan siap mengambil langkah stabilisasi bila diperlukan.
Di sisi fundamental, aktivitas manufaktur Korea Selatan mencatat ekspansi bulan ketiga berturut-turut pada Februari, didorong lonjakan produksi chip.
Ekspor juga memperpanjang tren kenaikan menjadi sembilan bulan beruntun, melampaui ekspektasi pasar.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Hari Ketiga Selasa (3/3) Pagi: Brent ke US$78,83 & WTI ke US$71,97
Saham-Saham Utama Tertekan
Di antara saham berkapitalisasi besar: Samsung Electronics turun 3,12%, SK Hynix melemah 3,20%, LG Energy Solution turun 2,69%, Hyundai Motor Company anjlok 5,04%, POSCO Holdings turun 3,27%, dan Samsung Biologics melemah 2,76%.
Sementara itu, saham penyuling minyak menguat seiring lonjakan harga energi. S-Oil melonjak 18%.
Perusahaan pelayaran HMM naik 13% karena tarif pengiriman meningkat. Saham pertahanan seperti Hanwha Aerospace juga mencatat kenaikan tajam.
Namun, Korean Air merosot 9% setelah menangguhkan penerbangan ke Dubai.
Baca Juga: Nikkei 225 Jepang Turun 1,2% Selasa (3/3), saat Perang AS-Israel dengan Iran Memanas
Won Melemah, Imbal Hasil Obligasi Naik
Investor asing tercatat menjual saham bersih senilai 2,5 triliun won (US$1,71 miliar).
Won Korea Selatan melemah 1,52% menjadi 1.462,3 per dolar AS. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor tiga tahun naik 7,1 basis poin menjadi 3,117%, dan tenor 10 tahun naik 6,6 basis poin ke 3,513%.
Tekanan pasar menunjukkan kekhawatiran geopolitik global lebih dominan dibandingkan data domestik yang positif.













