Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Ekonomi Amerika Serikat yang selama setahun terakhir mampu bertahan dari berbagai guncangan, mulai dari kebijakan perdagangan hingga isu imigrasi, kini menghadapi ujian baru.
Ketidakpastian meningkat setelah Presiden Donald Trump memutuskan melancarkan serangan terbuka terhadap Iran dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Islam yang telah lama berkuasa di negara tersebut.
Serangan balasan kini terjadi di berbagai wilayah Timur Tengah. Trump bahkan menyatakan konflik ini bisa berlangsung setidaknya selama beberapa minggu. Situasi tersebut membuat para analis menyoroti banyak ketidakpastian baru, terutama setelah harga minyak melonjak dari sekitar US$ 70 menjadi hampir US$ 80 per barel selama akhir pekan sebelum kembali sedikit melemah.
Di saat yang sama, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak paling strategis di dunia, mulai mengalami gangguan.
Reuters melaporkan, meski Amerika Serikat relatif lebih terlindungi dari guncangan energi dibanding banyak negara maju lainnya karena memiliki produksi minyak dan gas domestik, dampak global terhadap perdagangan, harga, dan investasi tetap berpotensi kembali menghantam ekonomi AS. Hal ini bisa mengganggu prospek pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya terlihat cukup optimistis untuk tahun ini.
Survei terbaru dari Conference Board menunjukkan tingkat kepercayaan CEO terhadap prospek ekonomi AS sebenarnya sempat meningkat. Namun, hampir 60% responden menyebut ketegangan geopolitik sebagai risiko besar yang bisa mengganggu perekonomian.
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, Kapal Tanker Terbakar Dihantam Dua Drone
Sementara itu, dalam laporan terbaru, World Bank sebelumnya menggambarkan prospek ekonomi AS sebagai “kuat”. Namun penilaian tersebut kini harus menghadapi ketidakpastian akibat konflik di kawasan produsen minyak utama dunia, yang berpotensi memengaruhi pengiriman global, rantai pasok, dan harga komoditas.
Ekonom JPMorgan, Joseph Lupton, mengatakan salah satu pilar utama proyeksi ekonomi AS tahun 2026 adalah mulai berkurangnya sikap hati-hati dunia usaha terhadap kebijakan pemerintah.
Data awal tahun menunjukkan perusahaan mulai kembali meningkatkan perekrutan dan belanja modal, memanfaatkan keuntungan dan cadangan modal yang kuat.
Namun menurutnya, pemulihan yang baru mulai tersebut kini menghadapi risiko baru.
“Perang militer yang terjadi di tengah ‘perang dagang’ Amerika Serikat bisa kembali memicu kekhawatiran tentang stabilitas global,” tulisnya dalam catatan kepada investor.
Dampak terhadap kebijakan bank sentral
Besarnya dampak konflik terhadap ekonomi global juga akan menentukan bagaimana respons Federal Reserve terhadap kebijakan moneter.
Jika harga minyak dunia melonjak tajam atau konflik meluas, tekanan inflasi bisa meningkat dan memengaruhi keputusan suku bunga bank sentral.
Situasi ini mengingatkan pada dampak Invasi Rusia ke Ukraina 2022, yang awalnya membuat bank sentral AS bersikap lebih hati-hati terhadap kenaikan suku bunga. Namun kemudian inflasi meningkat tajam sehingga pengetatan kebijakan moneter justru dipercepat.
Baca Juga: Saham Berkshire Alami Penurunan Terbesar Sejak Buffett Mundur dari CEO, Ada Apa?
Ekonom utama AS di SGH Macro Advisors, Tim Duy, menyebut konflik dengan Iran saat ini masih menjadi “wild card” bagi pasar.
Menurutnya, perhatian pasar bisa cepat berkurang jika konflik berubah dari konflik regional menjadi konflik internal di Iran.
Namun ketidakpastian tetap tinggi. Presiden dan CEO SGH Macro Advisors, Sassan Ghahramani, bahkan menilai ada kemungkinan perang saudara di Iran atau eskalasi yang lebih luas, termasuk serangan terhadap pusat-pusat sipil untuk memberi tekanan ekonomi global.













