Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Saham Berkshire Hathaway pada perdagangan Senin (2/3/2026) mengalami penurunan terbesar sejak Warren Buffett mengumumkan rencana mundur dari jabatan chief executive officer (CEO). Penurunan ini terjadi setelah konglomerasi tersebut merilis laporan keuangan yang berada di bawah ekspektasi sejumlah analis serta menyampaikan sikap lebih berhati-hati dalam menginvestasikan kas perusahaan.
Mengutip data Reuters, saham Berkshire Hathaway kelas A sempat turun hingga 5,3% pada awal perdagangan siang. Sementara saham kelas B, yang nilainya sekitar 1/1.500 dari saham kelas A, juga melemah dalam kisaran yang sama.
Sebelumnya, saham perusahaan ini juga sempat merosot hingga 6,8% pada 5 Mei tahun lalu, ketika Buffett secara mengejutkan mengumumkan bahwa Greg Abel akan mengambil alih posisi CEO mulai tahun 2026.
Buffett sendiri telah memimpin Berkshire sejak 1965 dan hingga kini masih menjabat sebagai chairman perusahaan.
Pada Sabtu lalu, Berkshire melaporkan bahwa laba operasional kuartal IV, yang tidak memasukkan keuntungan dan kerugian dari investasi saham seperti Apple, turun 30% menjadi US$ 10,2 miliar.
Baca Juga: Harga Emas Melesat Tinggi, Potensi Cuan Besar di Tengah Geopolitik Panas?
Penurunan tersebut termasuk penurunan sekitar 38% pada bisnis asuransi perusahaan, termasuk unit Geico.
Dalam surat tahunan pertamanya kepada pemegang saham, Abel menyebut bahwa Geico kemungkinan masih akan menghadapi tekanan untuk mempertahankan pelanggan.
Hal ini terjadi karena para pesaing menurunkan tarif asuransi kendaraan, sementara bisnis asuransi dan reasuransi lainnya juga menghadapi tekanan harga akibat masuknya lebih banyak modal ke sektor tersebut.
Meski demikian, Abel menegaskan bahwa posisi kas Berkshire yang mencapai US$ 373 miliar tidak berarti perusahaan sedang menarik diri dari aktivitas investasi.
Namun ia juga tidak memberikan sinyal bahwa Berkshire akan kembali melakukan pembelian kembali saham (buyback) setelah sekitar 1,5 tahun tidak melakukannya, maupun rencana membagikan dividen kepada pemegang saham.
“Kami akan menilai nilai investasi dengan hati-hati, bertindak sabar, dan memegang investasi dalam jangka panjang, bahkan jika memungkinkan selamanya,” tulis Abel.
Tonton: Selat Hormuz Ditutup! Ekonomi RI Terancam, Biaya Ekspor Impor Bisa Meledak
Analis dari Keefe, Bruyette & Woods, Meyer Shields, yang memberikan peringkat “underperform” untuk saham Berkshire, menilai kinerja perusahaan secara umum berada di bawah perkiraan pasar.
Menurutnya, hasil tersebut juga mencerminkan pelemahan pada bisnis kereta api BNSF, serta unit energi, manufaktur, dan ritel milik perusahaan.
Shields pun menurunkan proyeksi laba Berkshire untuk tahun 2026 sekitar 5%.













