kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Langka Terjadi, Jenderal AS Bertemu Militer Kuba Saat Ketegangan Meningkat


Sabtu, 30 Mei 2026 / 09:05 WIB
Langka Terjadi, Jenderal AS Bertemu Militer Kuba Saat Ketegangan Meningkat
ILUSTRASI. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Jenderal Komando Selatan AS Francis Donovan (REUTERS/Maria Alejandra Cardon)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Kuba kembali menjadi sorotan setelah Komandan Komando Selatan AS, Jenderal Francis Donovan dari United States Southern Command, melakukan pertemuan langka dengan pejabat militer Kuba di area perbatasan Pangkalan Angkatan Laut Guantanamo.

Pertemuan ini disebut membahas keamanan operasional dan stabilitas di sekitar perimeter pangkalan militer AS di Kuba, di tengah meningkatnya kekhawatiran Havana terhadap potensi eskalasi militer dari Washington.

Dalam pernyataannya di platform X, Southern Command menyebut Jenderal Donovan bertemu dengan delegasi militer Kuba, termasuk Wakil Menteri Pertahanan Kuba Roberto Legra Sotolongo. 

Baca Juga: Trump Perluas Sanksi AS Terhadap Pemerintah Kuba dan Afiliasinya

Pembahasan difokuskan pada keamanan perimeter, keselamatan personel militer dan keluarga, serta kesiapan operasional pangkalan Guantanamo.

Donovan juga melakukan peninjauan keamanan langsung di area perbatasan pangkalan tersebut.

Pertemuan ini menjadi salah satu yang paling jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir antara pejabat militer senior kedua negara, yang hubungan diplomatiknya masih tegang sejak lama.

Pemerintah Kuba menyatakan pertemuan berlangsung atas kesepakatan bersama dan kedua pihak sepakat menjaga jalur komunikasi militer tetap terbuka. 

Namun, di sisi lain, militer Kuba juga menegaskan kekhawatiran terhadap kemungkinan aksi militer AS.

Havana bahkan memperingatkan bahwa tindakan militer dapat memicu korban besar di kedua pihak, di tengah meningkatnya ketegangan politik di kawasan tersebut.

Baca Juga: Pakistan Jadi Mediator AS-Iran, Upayakan Stabilitas Pasokan Energi Global

Hubungan AS–Kuba kembali memanas dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah kunjungan Direktur CIA John Ratcliffe ke Havana pada awal Mei.

Presiden AS Donald Trump disebut semakin menjadikan Kuba sebagai salah satu fokus kebijakan luar negerinya di periode kedua, dengan dukungan kuat dari kelompok politik keras anti-Kuba di Florida.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyoroti Kuba sebagai ancaman keamanan nasional yang berada hanya sekitar 90 mil dari Florida.

Sementara itu, tensi kawasan juga dipengaruhi dinamika politik Amerika Latin, termasuk hubungan Kuba dengan Venezuela di bawah Presiden Nicolas Maduro, yang selama ini dikenal dekat dengan Havana.

Ketegangan ini bukan yang pertama. Sejak Revolusi 1959 yang dipimpin Fidel Castro, hubungan Washington–Havana kerap berada dalam posisi saling berhadapan.

Baca Juga: WNI Berhijab Jadi Tentara AS: Kenali Apa Itu Army National Guard

Kuba juga memperingatkan bahwa tekanan AS, termasuk kebijakan pembatasan energi, telah memperburuk kondisi ekonomi domestik yang rapuh, memicu pemadaman listrik berkepanjangan dan risiko krisis migrasi baru ke wilayah Amerika Serikat.

Meski pertemuan di Guantanamo menghasilkan kesepakatan untuk menjaga komunikasi, situasi di lapangan menunjukkan bahwa kedua negara masih berada dalam fase saling curiga, dengan potensi eskalasi yang belum sepenuhnya mereda.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×