Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Sejauh ini, dampak awal di pasar keuangan masih relatif terbatas.
Kontrak berjangka suku bunga menunjukkan ekspektasi bahwa Federal Reserve masih akan memangkas suku bunga dua kali tahun ini, dengan kemungkinan pertama pada pertemuan akhir Juli.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS sempat turun, reaksi umum ketika investor mencari aset aman saat krisis global. Namun pada Senin imbal hasil kembali naik, mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi dan risiko ekonomi.
Nilai tukar dolar AS juga menguat terhadap mata uang utama dunia, sementara indeks saham besar AS seperti Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 bergerak campuran.
Analis dari Citigroup menilai perkembangan geopolitik kemungkinan tidak akan secara signifikan mengubah rencana kebijakan suku bunga bank sentral.
Namun mantan ketua Federal Reserve, Janet Yellen, memperingatkan konflik ini dapat meningkatkan inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi AS. Kondisi tersebut bisa membuat bank sentral lebih berhati-hati untuk menurunkan suku bunga.
Skenario terburuk bagi ekonomi global
Ekonom dari Natixis menyebut risiko ekstrem kini meningkat.
Skenario paling ringan adalah konflik mereda cepat dan pemerintahan baru di Iran mampu menstabilkan kawasan. Dalam kondisi ini, dampak terhadap harga minyak dan ekonomi global bisa cepat mereda.
Namun skenario yang lebih buruk adalah konflik meluas dan mengganggu jalur perdagangan global serta rantai pasok internasional.
Dalam situasi tersebut, harga minyak bisa melampaui US$ 120 per barel, biaya asuransi pengiriman melonjak, jalur pelayaran terganggu, dan jaringan produksi global terdampak. Ekonomi AS bahkan berpotensi mengalami pertumbuhan negatif, pengangguran meningkat, dan defisit fiskal membesar.
Tonton: Perang AS-Iran, Harga BBM Berpotensi Naik Lagi, Ekonomi Indonesia Rawan Tertekan
Di sisi lain, analis dari perusahaan investasi The Carlyle Group memperkirakan peluang keberhasilan AS mengganti rezim Iran hanya sekitar 30%.
Sebaliknya, ada kemungkinan besar, sekitar 70% atau lebih, bahwa Iran akan merespons dengan strategi konflik asimetris jangka panjang, seperti serangan siber, aksi teror, atau operasi melalui kelompok proksi di berbagai negara.
Strategi ini berpotensi meluas hingga negara-negara produsen energi lain, termasuk Irak, produsen minyak terbesar kedua di OPEC.
Para analis juga memperingatkan bahwa dampak konflik bisa menjalar ke berbagai titik energi dunia.
“Fokus Amerika Serikat mungkin ada di Iran, tetapi siapa yang melindungi fasilitas LNG di Mozambik?” tulis para analis tersebut, menyoroti potensi dampak global yang lebih luas.













