kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Rusia Turunkan Target Pertumbuhan Ekonomi hingga 2027 di Tengah Tekanan Global


Selasa, 12 Mei 2026 / 21:38 WIB
Rusia Turunkan Target Pertumbuhan Ekonomi hingga 2027 di Tengah Tekanan Global
ILUSTRASI. Kota Berpenduduk Terpadat di Dunia - Moscow, Rusia (DOK/bryla.pl )


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Pemerintah Rusia berupaya meredam kekhawatiran pasar setelah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk dua tahun mendatang. Kremlin pada Selasa menyatakan kondisi makroekonomi Rusia tetap stabil dan tidak memberi sinyal akan menghukum pejabat ekonomi atas melambatnya pertumbuhan.

Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, dalam wawancara dengan harian bisnis Vedomosti mengungkapkan pemerintah memangkas proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2026 menjadi hanya 0,4%, turun dari estimasi sebelumnya 1,3%. Proyeksi pertumbuhan 2027 juga dipotong menjadi 1,4% dari sebelumnya 2,8%.

Pengumuman itu muncul hanya beberapa pekan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memanggil pejabat ekonomi utama ke Kremlin dan menegur mereka terkait lambatnya pertumbuhan ekonomi, sembari meminta langkah baru untuk menopang perekonomian.

Baca Juga: Tesla Investasi Rp4 Triliun untuk Tingkatkan Produksi Baterai di Pabrik Berlin

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Putin terus memantau perkembangan ekonomi secara dekat. Menurutnya, Rusia masih dapat berbicara “dengan percaya diri” mengenai stabilitas makroekonomi meski pasar global bergejolak akibat konflik di Timur Tengah.

“Berkat langkah-langkah yang dijalankan pemerintah, kita dapat dengan yakin berbicara tentang stabilitas makroekonomi dan rencana yang menjanjikan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara bertahap dari tahun ke tahun,” ujar Peskov.

Ia juga menyebut pertemuan lanjutan antara Putin dan pejabat ekonomi diperkirakan berlangsung pekan ini.

Ekonomi Rusia yang bernilai sekitar US$ 3 triliun menghadapi tekanan akibat perang di Ukraina, sanksi Barat, serta tingginya suku bunga. Pada kuartal pertama tahun ini, ekonomi Rusia tercatat mengalami kontraksi 0,3%, penurunan kuartalan pertama sejak awal 2023.

Kontraksi dipicu kenaikan pajak pada awal tahun dan diskon besar terhadap ekspor minyak Rusia akibat sanksi Barat.

Meski demikian, Novak menilai konsumsi domestik masih akan menjadi penggerak utama ekonomi. Ia menyoroti pertumbuhan sektor e-commerce Rusia yang meningkat 2,5 kali lipat sepanjang 2022–2024, serta potensi besar sektor pariwisata dan “experience economy” yang menawarkan pengalaman interaktif bagi konsumen.

Dalam langkah yang dinilai mengejutkan, Novak mengatakan pemerintah mempertahankan asumsi harga minyak sebesar US$ 59 per barel untuk perhitungan pendapatan anggaran 2026.

Baca Juga: Perusahaan AS Banjiri Pasar Obligasi, Penerbitan Tembus Rekor US$ 110 Miliar

Harga tersebut merupakan batas acuan (cut-off price) yang menentukan porsi pendapatan minyak yang dialokasikan ke dana cadangan negara, National Wealth Fund.

Pemerintah juga memperkirakan harga minyak akan berada di kisaran US$ 50 per barel selama tiga tahun ke depan, meskipun sejumlah analis sebelumnya memperkirakan Rusia dapat memperoleh keuntungan dari kenaikan harga minyak akibat ketegangan antara AS, Israel, dan Iran.

Pendekatan konservatif ini dipandang sebagai upaya pemerintah menjaga dana cadangan agar tidak cepat terkuras dan menyimpan potensi keuntungan minyak untuk menghadapi kondisi ekonomi yang lebih sulit di masa depan.

Sejumlah analis menilai revisi proyeksi ekonomi ini juga bertujuan menekan belanja negara agar tidak semakin membengkak. Defisit anggaran Rusia dalam empat bulan pertama tahun ini telah mencapai 2,5% dari PDB, jauh di atas target tahunan sebesar 1,6%.

Analis Raiffeisen menyebut proyeksi yang lebih konservatif dapat menjadi alat untuk memperkuat konsolidasi anggaran pemerintah.

Novak mengatakan tingkat pengangguran Rusia diperkirakan tetap berada di kisaran 2,3%–2,4%, level terendah dalam sejarah modern negara tersebut. Namun kondisi pasar tenaga kerja yang sangat ketat justru dianggap menjadi hambatan pertumbuhan.

Analis menilai data tersebut menunjukkan bank sentral Rusia kemungkinan belum akan terburu-buru memangkas suku bunga acuannya yang saat ini berada di level 14,5%.

Menurut analis Alfa Wealth, kombinasi antara proyeksi pertumbuhan yang lebih rendah dan tingkat pengangguran yang tetap rendah mengindikasikan kebijakan moneter ketat akan terus dipertahankan dalam jangka menengah.

“Kondisi ini tentu tidak memberikan banyak optimisme,” tulis Alfa Wealth dalam catatannya.

Baca Juga: Biaya Perang AS di Iran Tembus US$29 Miliar, Naik US$4 Miliar dari Perkiraan


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×