Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Bank of Japan akan kembali menaikkan suku bunga pada bulan ini. Tapi jika terjadi eskalasi tajam dalam konflik di Timur Tengah yang dapat mengguncang pasar keuangan global. Hal tersebut disampaikan oleh tiga sumber yang mengetahui pembahasan internal bank sentral Jepang.
Kenaikan harga energi akibat gejolak di kawasan tersebut telah memperburuk tekanan inflasi di Jepang, sehingga menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kebijakan moneter lebih ketat.
Para pembuat kebijakan BOJ disebut akan memantau perkembangan situasi di Timur Tengah hingga menit-menit terakhir sebelum mengambil keputusan dalam rapat kebijakan dua hari yang berakhir pada 16 Juni.
Baca Juga: Saham Asia Terkoreksi, Investor Beralih ke Aset Aman di Tengah Ketegangan AS–Iran
Pelaku pasar saat ini memperkirakan sekitar 80% kemungkinan BOJ akan menaikkan suku bunga jangka pendek dari 0,75% menjadi 1% pada pertemuan tersebut. Jika terjadi, ini akan menjadi level tertinggi suku bunga Jepang sejak 1995.
Pergeseran kebijakan ini juga diperkuat oleh pernyataan Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, yang dalam pidatonya pada hari Rabu memberi sinyal lebih tegas bahwa bank sentral kini lebih fokus pada pengendalian inflasi, sekaligus membuka peluang kenaikan biaya pinjaman yang lebih sering ke depan.
“Selama tidak terjadi eskalasi parah dalam konflik, BOJ kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga pada Juni,” ujar salah satu sumber yang mengetahui pandangan internal bank, yang sejalan dengan dua sumber lainnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah serangkaian sinyal hawkish dari BOJ dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan risiko inflasi akibat konflik Iran juga sempat mendorong imbal hasil obligasi Jepang ke level tertinggi hampir 30 tahun.
Selain itu, anggota dewan BOJ seperti Kazuyuki Masu dan Junko Koeda juga telah memperingatkan meningkatnya tekanan harga, yang menandakan mereka berpotensi mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan Juni.
Lonjakan inflasi grosir turut menjadi perhatian karena menunjukkan perusahaan semakin agresif meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen, yang berpotensi membuat inflasi konsumen melampaui target 2% BOJ.
BOJ sebelumnya telah mengakhiri program stimulus besar-besaran yang berlangsung selama satu dekade pada 2024. Sejak itu, bank sentral mulai menaikkan suku bunga secara bertahap, termasuk pada Desember lalu, dengan keyakinan bahwa Jepang semakin dekat untuk mencapai inflasi yang stabil di target 2%.
Baca Juga: China Larang Empat Anggota Parlemen Selandia Baru Masuk Usai Kunjungan ke Taiwan
Namun, kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah kini menjadi tantangan baru: di satu sisi mendorong inflasi naik, tetapi di sisi lain membebani ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada impor bahan bakar.
Dengan kondisi global yang masih tidak pasti, keputusan BOJ pada pertengahan Juni diperkirakan akan menjadi salah satu langkah kebijakan paling krusial tahun ini.













