Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Pasar saham Asia melemah pada Kamis (4/6/2026) seiring meningkatnya kembali konflik antara AS dan Iran yang memicu aksi risk-off di kalangan investor global, meskipun harga minyak sempat turun dari level tertingginya setelah gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 1,6%, sementara kontrak berjangka S&P 500 melemah 0,4%. Pasar Korea Selatan turun hingga 2,6% setelah libur, sedangkan indeks Nikkei 225 Jepang merosot 1,4%.
“Pasar keuangan kembali ke mode risk-off karena AS dan Iran kembali saling tembak,” tulis analis Westpac. Di Wall Street, indeks S&P 500 turun 0,7% pada perdagangan sebelumnya, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik meski data ekonomi AS menunjukkan sektor jasa yang lebih kuat dari perkiraan.
Baca Juga: China Larang Empat Anggota Parlemen Selandia Baru Masuk Usai Kunjungan ke Taiwan
Harga minyak sempat naik sekitar 2% pada sesi sebelumnya akibat eskalasi konflik, namun kembali melemah. Brent turun 0,7% ke US$ 97,14 per barel seiring dimulainya kembali perdagangan setelah kesepakatan gencatan senjata Israel-Lebanon, meski implementasinya masih bergantung pada penghentian total aktivitas kelompok militan Hizbullah di wilayah selatan Lebanon.
Di pasar saham, saham Broadcom anjlok lebih dari 13% dalam perdagangan lanjutan setelah gagal memenuhi ekspektasi pendapatan kuartal kedua, menambah kekhawatiran bahwa momentum sektor chip AI mulai melambat.
Di pasar mata uang, yen Jepang menguat tipis ke 159,91 per dolar AS, menjauh dari level 160 yang dianggap sebagai ambang potensi intervensi. Pemerintah Jepang menyatakan akan berkoordinasi dengan Bank of Japan terkait kebijakan moneter, di tengah spekulasi kenaikan suku bunga bulan ini.
Sementara itu, dolar AS stabil di level 99,45 setelah reli tiga hari, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di 4,489%. Emas naik 0,9% ke US$ 4.473,61 per ons, sementara Bitcoin turun 1,2% ke $64.118, setelah sempat jatuh ke level terendah empat bulan akibat penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil.













