Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana menutup lima kantor perwakilan diplomatik di sejumlah negara, termasuk Konsulat AS di Medan, Sumatera Utara. Rencana tersebut menjadi bagian dari kebijakan efisiensi birokrasi yang dijalankan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Informasi mengenai rencana penutupan itu muncul setelah Kementerian Luar Negeri AS menyampaikan pemberitahuan kepada Kongres AS mengenai perubahan jaringan perwakilan diplomatik di luar negeri.
Mengutip Reuters, Selasa (4/8), sejumlah sumber yang mengetahui isi pemberitahuan tersebut mengatakan penutupan masih berada dalam tahap perencanaan dan belum diumumkan secara resmi kepada publik.
Selain Konsulat AS di Medan, empat kantor lain yang masuk daftar penutupan adalah perwakilan diplomatik di St. George's, Grenada; Nagoya, Jepang; Douala, Kamerun; serta Winnipeg, Kanada.
Saat ini, AS memiliki tiga kantor konsulat di Indonesia, yakni di Medan, Surabaya, dan Bali. Dari ketiganya, hanya kantor di Medan yang masuk dalam rencana penutupan.
Tonton: PGUN, Emiten Haji Isam Laba Turun Tajam
Bagian dari efisiensi pemerintahan Trump
Rencana tersebut dinilai sebagai langkah yang tidak lazim dalam kebijakan luar negeri AS karena mencerminkan pengurangan kehadiran diplomatik Washington di berbagai negara.
Penutupan lima kantor itu tidak dikaitkan dengan situasi geopolitik tertentu. Langkah tersebut disebut menjadi bagian dari agenda efisiensi pemerintahan Donald Trump yang berupaya memangkas ukuran birokrasi federal.
Sejak awal 2025, pemerintahan Trump dilaporkan telah mengkaji penutupan hampir selusin kantor diplomatik AS di luar negeri sebagai bagian dari agenda "America First".
Bahkan, Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih sebelumnya juga mendorong usulan yang lebih besar, yakni menutup hingga 30 kantor perwakilan diplomatik AS di berbagai negara.
Sejumlah pejabat pemerintahan AS menilai beberapa kantor diplomatik berukuran kecil tidak lagi memiliki nilai strategis yang sebanding dengan biaya operasionalnya.
Baca Juga: Tiga Federasi Cabut Dukungan, Posisi Gianni Infantino di FIFA Terancam
Menuai kritik
Rencana tersebut mendapat kritik dari kalangan Partai Demokrat serta sejumlah mantan pejabat kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS.
Mereka menilai pengurangan jaringan diplomatik, ditambah penyusutan peran Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), berpotensi melemahkan posisi kepemimpinan AS di tingkat global.
Selain itu, berkurangnya kehadiran diplomatik Washington dinilai dapat membuka ruang bagi negara pesaing seperti China dan Rusia untuk memperluas pengaruhnya di berbagai kawasan.
Meski demikian, hingga kini Kementerian Luar Negeri AS belum mengonfirmasi secara resmi rencana penutupan lima kantor tersebut.
Dalam tanggapan kepada Reuters pada Minggu (2/8), kementerian hanya menyatakan pihaknya terus mengevaluasi jaringan diplomatik agar tetap berjalan secara efisien dan efektif, serta memastikan seluruh perubahan mengikuti prosedur pemberitahuan kepada Kongres AS.
Baca Juga: Perang Iran Panaskan Harga Minyak, Laba Raksasa Minyak Arab Saudi Ini Melambung 44%
Marco Rubio sempat singgung penghematan
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya juga menyampaikan bahwa langkah penghematan diperlukan untuk menyesuaikan ukuran organisasi dengan kebutuhan saat ini.
Kalangan konservatif di AS selama ini menilai Kementerian Luar Negeri memiliki struktur birokrasi yang terlalu besar sehingga perlu dilakukan efisiensi.
Dari lima kantor yang direncanakan ditutup, Konsulat AS di Medan menjadi salah satu dari tiga kantor konsulat. Dua konsulat lainnya berada di Nagoya, Jepang, dan Winnipeg, Kanada.
Sementara itu, kantor AS di St. George's, Grenada, berstatus kedutaan besar, sedangkan kantor di Douala, Kamerun, merupakan kantor cabang kedutaan (embassy branch office).
Konsulat maupun kantor cabang kedutaan umumnya bertugas melayani kepentingan diplomatik dan konsuler AS di wilayah di luar ibu kota negara tempat kedutaan besar berada.
China masih memiliki perwakilan di Medan
Rencana penutupan Konsulat AS di Medan juga menandai perubahan arah kebijakan diplomatik Washington.
Pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, AS justru membuka sejumlah kantor perwakilan baru di kawasan Pasifik sebagai bagian dari penguatan kehadiran di wilayah yang menjadi arena persaingan pengaruh dengan China.
Sementara itu, China diketahui masih memiliki kehadiran diplomatik di Medan, Nagoya, dan St. George's. Sebaliknya, negara tersebut tidak memiliki kantor diplomatik yang beroperasi di Douala maupun Winnipeg.
Apabila direalisasikan, penutupan lima kantor tersebut akan menjadi salah satu pengurangan jaringan diplomatik AS secara serentak yang paling jarang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/08/04/063912665/reuters-kemenlu-as-akan-tutup-konsulat-di-medan-indonesia?page=all#page2.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
