Sumber: Yahoo Finance | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Gedung Putih menyatakan ingin mempertahankan dolar Amerika Serikat (AS) yang kuat. Namun, para investor tampaknya belum sepenuhnya percaya.
Melansir Yahoo Finance, pada 2025, dolar AS mencatat penurunan tahunan terbesar dalam delapan tahun terakhir. Meski dalam beberapa hari terakhir sempat menguat, indeks dolar masih turun sekitar 1% sejak awal tahun ini, melanjutkan penurunan tajam sekitar 9% sepanjang 2025.
“Secara fundamental, kami menilai lonjakan ketidakpastian kebijakan yang terjadi belakangan ini akan cukup bertahan lama sehingga membuat dolar sulit kembali ke level sebelumnya,” tulis para analis valuta asing Goldman Sachs dalam catatan kepada klien.
Menurut mereka, investor memasuki awal tahun dengan ekspektasi adanya dukungan yang lebih kuat bagi siklus ekonomi. Namun, serangkaian ancaman tarif baru justru mengguncang ekspektasi tersebut.
Saat Presiden AS Donald Trump pertama kali mengumumkan kebijakan tarif “Liberation Day” pada April tahun lalu, dolar AS, yang selama ini dianggap sebagai pilar utama ekonomi global, langsung melemah lebih dari 5%. Hampir setahun berlalu, mata uang tersebut belum mampu menutup kerugian tersebut.
Selama beberapa dekade, dolar AS dikenal sebagai mata uang cadangan dunia dan kerap disebut sebagai “exorbitant privilege” yang dimiliki Amerika Serikat. Status ini membuat dolar dan aset berbasis dolar sering menjadi aset aman (safe haven) saat pasar global bergejolak.
Baca Juga: Google Terbitkan Obligasi 100 Tahun, Fenomena Langka Sejak 1997
Namun, kondisi itu mulai dipertanyakan.
“Jika status dolar sebagai mata uang cadangan bergantung pada peran AS sebagai penjamin keamanan global dan tatanan berbasis aturan, maka peristiwa dalam setahun terakhir ini menyimpan benih pergeseran alokasi aset menjauhi dolar dan pencarian alternatif,” ujar Thierry Wizman, analis global dan strategi nilai tukar di Macquarie Bank.
Pasar juga tengah mencermati potensi perubahan arah kebijakan moneter AS menyusul pencalonan Kevin Warsh sebagai pengganti Ketua The Fed Jerome Powell. Warsh, mantan gubernur Federal Reserve yang dikenal berpandangan hawkish, sempat mendorong penguatan dolar sesaat. Namun, sentimen tersebut cepat memudar.
Presiden Trump menegaskan bahwa ia tidak akan menunjuk Warsh jika yang bersangkutan berniat menaikkan suku bunga. Trump menilai tingkat suku bunga saat ini terlalu tinggi dan yakin The Fed akan menurunkannya.
Baca Juga: Goldman Sachs Peringatkan Potensi Aksi Jual Saham US$ 80 Miliar, Kripto Terancam?













