kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.032   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.236   49,76   0,80%
  • KOMPAS100 817   5,56   0,69%
  • LQ45 621   2,39   0,39%
  • ISSI 215   1,38   0,65%
  • IDX30 350   1,18   0,34%
  • IDXHIDIV20 430   0,35   0,08%
  • IDX80 93   0,50   0,54%
  • IDXV30 118   0,33   0,28%
  • IDXQ30 112   0,18   0,16%

Perusahaan Petrokimia Korsel YNCC Nyatakan Force Majeure, Imbas Blokade Selat Hormuz


Kamis, 05 Maret 2026 / 09:25 WIB
Perusahaan Petrokimia Korsel YNCC Nyatakan Force Majeure, Imbas Blokade Selat Hormuz
ILUSTRASI. Selat Hormuz (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Perusahaan petrokimia Korea Selatan, Yeochun NCC (YNCC), memangkas produksi dan menyatakan force majeure terhadap pasokan produknya karena tidak dapat menerima bahan baku nafta akibat blokade Selat Hormuz.

Informasi tersebut disampaikan oleh sumber yang mengetahui situasi tersebut serta melalui surat perusahaan yang ditinjau Reuters Kamis (5/3/2026).

Baca Juga: China Bangun “Masyarakat Ramah Kelahiran”, Perkuat Sistem Jaminan Sosial

Dalam suratnya, YNCC menyatakan bahwa blokade Selat Hormuz menyebabkan keterlambatan signifikan pengiriman nafta, bahan baku utama perusahaan, yang seharusnya tiba pada Maret.

“Blokade Selat Hormuz telah menyebabkan keterlambatan signifikan dalam kedatangan nafta, bahan baku utama kami, yang dijadwalkan dikirim pada Maret,” tulis YNCC.

Perusahaan juga menyatakan akan mengoperasikan seluruh fasilitas produksinya pada kapasitas minimum mulai 4 Maret.

YNCC menolak memberikan komentar ketika dihubungi Reuters.

Baca Juga: Harga Minyak Naik 2% Kamis (5/3), Meluasnya Konflik Iran dan Penutupan Selat Hormuz

Sebelumnya, produsen petrokimia Indonesia Chandra Asri juga menyatakan force majeure akibat gangguan pasokan bahan baku dari Timur Tengah.

Produsen petrokimia di Asia kawasan produsen terbesar dunia kini bersiap menghentikan sebagian operasi dan menurunkan tingkat utilisasi pabrik seiring terganggunya rantai pasok energi dari Timur Tengah akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.


Tag


TERBARU

[X]
×