Sumber: Yahoo Finance | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Meski dolar masih menjadi jangkar sistem keuangan global, para pelaku pasar kini semakin aktif mencari lindung nilai ke aset dan mata uang lain, seperti euro, franc Swiss, dan emas, seiring meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan, yang ironisnya banyak bersumber dari Amerika Serikat sendiri.
“Kami tidak menilai bahwa diversifikasi dari dolar akan berakhir dalam jangka menengah dan panjang,” kata Wizman.
Menurutnya, fase pelemahan dolar yang dipicu perubahan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan AS bisa berlangsung hingga satu dekade atau lebih.
Ia bahkan menilai, dengan arah kebijakan AS saat ini terhadap dunia, dolar tidak akan mampu mempertahankan statusnya sebagai mata uang cadangan global tanpa batas waktu.
Penguatan harga emas menjadi salah satu cerminan kekhawatiran tersebut. Sepanjang 2025, harga emas melonjak lebih dari 60%, salah satu reli terkuat dalam sejarah, dan masih naik lebih dari 70% dalam setahun terakhir meski sempat terkoreksi.
Logam lain seperti perak, platinum, tembaga, hingga baja juga terus menguat hingga awal 2026.
“Katalis utama di balik meningkatnya permintaan aset keras adalah dolar AS itu sendiri,” tulis Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Sloth Hansen.
Kekhawatiran terhadap stabilitas AS dan arus modal yang keluar ke pasar lain semakin memperlemah posisi dolar.
Tonton: Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun
Sejumlah mata uang utama seperti euro, pound sterling, dan franc Swiss juga menguat terhadap dolar dalam sebulan terakhir. Mata uang negara berkembang seperti real Brasil, peso Meksiko, dan rand Afrika Selatan turut mengalami penguatan.
Meski demikian, ekonom Bank of America menilai masih terlalu dini menyebut pergerakan ini sebagai tanda pelemahan struktural dolar. Dalam skenario pelemahan serius, dolar biasanya turun bersamaan dengan merosotnya valuasi aset keuangan AS secara luas.
Namun, mereka mengakui adanya tanda-tanda awal perubahan preferensi investor. Dolar dinilai masih berpotensi melemah lebih lanjut karena faktor fundamental seperti potensi kebijakan moneter yang lebih dovish dan dampak lanjutan perang dagang dengan Eropa serta China.
“Untuk saat ini, belum ada alternatif yang benar-benar mampu menggantikan dolar sebagai mata uang global, bahkan euro atau renminbi,” tulis Steven Kamin, mantan kepala keuangan internasional The Fed.
Ia menambahkan, AS masih memiliki pasar modal terdalam dan paling likuid di dunia.
Namun, jika beberapa tahun lalu sulit membayangkan dunia tanpa dominasi dolar, kini skenario tersebut semakin mudah dibayangkan dalam beberapa dekade mendatang.













