kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

Bitcoin Rontok 45%, Dekati Dasar Bear Market


Rabu, 11 Februari 2026 / 12:24 WIB
Bitcoin Rontok 45%, Dekati Dasar Bear Market
ILUSTRASI. Meski sinyal dasar kuat, Bitcoin masih berpotensi turun ke US$40.000. Cek indikator MA 200 minggu dan RSI! (Dok/Octa)


Sumber: Cointelegraph | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan harga Bitcoin (BTC) hingga 45% dari puncaknya di US$126.000 membuat pelaku pasar kembali menyoroti indikator on-chain untuk mengidentifikasi di mana potensi dasar (bottom) harga kripto terbesar ini akan terbentuk.

Salah satu indikator yang kini menjadi perhatian adalah Mayer Multiple, yang dinilai memberi sinyal bahwa fase dasar harga Bitcoin bisa segera tercapai.

Dalam unggahan di platform X pada Selasa, analis On-Chain College menyebut skor Mayer Multiple Bitcoin telah turun ke level yang “biasanya hanya terlihat pada koreksi pasar bearish yang sangat dalam.”

Mayer Multiple mengukur perbandingan harga Bitcoin saat ini dengan rata-rata pergerakan harga 200 hari (200-day moving average/MA). Rasio yang dihasilkan digunakan sebagai sinyal beli atau jual. Pencipta indikator ini, Trace Mayer, menetapkan bahwa angka di bawah 2,4 sudah masuk wilayah “beli”.

Baca Juga: Gubernur The Fed Waller Nilai Euforia Kripto Mulai Meredup, Ini Alasan Lengkapnya

Berdasarkan data perusahaan analitik on-chain Glassnode, per Senin lalu Mayer Multiple Bitcoin tercatat di angka 0,65, berada di bawah batas “oversold” di level 0,8. Level ini terakhir terlihat pada Mei 2022, saat pasar kripto berada di fase tekanan berat.

“Bitcoin kini secara resmi berada di bawah pita hijau Mayer Multiple Z-Score, yang biasanya hanya muncul dalam koreksi bear market yang sangat dalam,” tulis On-Chain College.

Ia menambahkan bahwa meski fase dasar harga bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan, posisi Bitcoin saat ini berada dalam periode historis yang identik dengan “hari-hari tergelap” pasar bearish.

Secara historis, level Mayer Multiple serendah ini sering kali menandai peluang akumulasi jangka panjang terbaik bagi investor.

Analis CryptosRus menambahkan bahwa Mayer Multiple di level 0,6 berarti Bitcoin diperdagangkan sekitar 40% di bawah MA 200 harinya.

“Kondisi ini tidak terjadi saat koreksi normal. Ini hanya muncul ketika pasar mengalami kapitulasi penuh,” ujarnya.

Analis On-Chain Mind juga menyatakan bahwa secara historis, posisi di bawah level ini adalah saat yang ideal untuk mulai melakukan akumulasi. Pendiri Capriole Investments, Charles Edwards, bahkan menyebut kondisi ini sebagai salah satu sinyal beli terbaik sepanjang sejarah Bitcoin.

Namun demikian, level ekstrem rendah pada Mayer Multiple tidak selalu langsung bertepatan dengan titik terendah harga BTC. Pada pertengahan 2022, indikator ini sempat menyentuh 0,47, tetapi harga Bitcoin masih turun lagi hingga 58% dalam empat bulan berikutnya sebelum mencapai dasar di US$15.500.

Di Mana Titik Dasar Sebenarnya?

Meski indikator on-chain memberi sinyal kuat bahwa Bitcoin mendekati fase dasar, perdebatan masih berlangsung mengenai apakah harga di bawah US$60.000 sudah merupakan titik terendah.

Salah satu acuan penting lainnya adalah MA 200 minggu (200-week MA), yang saat ini berada di kisaran US$58.000. Level ini secara historis kerap menjadi benteng pertahanan terakhir Bitcoin saat pasar berada dalam fase bearish ekstrem.

Baca Juga: Manajer Hedge Fund Populer Prediksi Bitcoin Akan Anjlok ke Level US$ 0 (Nol)

Posisi tersebut sekitar 15% di bawah harga saat ini. Dalam sejarahnya, BTC jarang turun jauh di bawah MA 200 minggu, kecuali pada 2020 dan 2022, dengan rata-rata penurunan sekitar 30%.

Artinya, dalam skenario yang lebih ekstrem, Bitcoin masih berpotensi turun untuk menguji ulang level US$58.000, bahkan bisa merosot hingga zona US$40.000 jika tekanan jual berlanjut.

Target ini dinilai masuk akal berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI), yang saat ini berada di level 37 dan masih memiliki ruang turun sekitar 55%. Jika skenario ini terjadi, harga Bitcoin dapat terdorong ke kisaran bawah US$40.000.

Namun, analis Jelle menyebut bahwa secara historis, penurunan RSI jarang sedalam itu. Jika RSI turun sekitar 40% dari level 37—sejalan dengan dua titik dasar sebelumnya—maka harga Bitcoin berpotensi menyentuh area sekitar US$52.000 sebelum musim panas.

“Ada konfluensi teknikal yang cukup kuat di area tersebut sehingga layak untuk dicermati secara serius,” ujarnya.

Sejumlah analis menilai bahwa skenario ini menyerupai pola pasar bearish tahun 2022, di mana Bitcoin menemukan “dasar sebenarnya” di sekitar US$50.000 sebelum akhirnya berbalik arah.

Selanjutnya: Puasa Lebih Berkah: Kemenag Ingatkan 5 Hal Penting Jelang Ramadan 2026

Menarik Dibaca: Cara Mencegah Hidden Hunger pada Anak, Orang Tua Perlu Perhatikan Ini




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×