kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.168.000   165.000   5,49%
  • USD/IDR 16.776   42,00   0,25%
  • IDX 8.232   -88,35   -1,06%
  • KOMPAS100 1.139   -9,43   -0,82%
  • LQ45 813   0,48   0,06%
  • ISSI 296   -9,48   -3,11%
  • IDX30 422   3,70   0,88%
  • IDXHIDIV20 501   7,26   1,47%
  • IDX80 126   -0,89   -0,70%
  • IDXV30 136   -1,76   -1,27%
  • IDXQ30 136   1,46   1,09%

Bitcoin Berpotensi Koreksi ke US$45.000? Analis Soroti Pola Mirip Bear Market 2022


Kamis, 29 Januari 2026 / 17:14 WIB
Bitcoin Berpotensi Koreksi ke US$45.000? Analis Soroti Pola Mirip Bear Market 2022
ILUSTRASI. Analis TradingShot memprediksi Bitcoin bisa anjlok hingga US$45.000 dalam beberapa bulan ke depan. Pola 2022 terulang, ketahui risiko investasi Anda. (Romain Costaseca/Hans Lucas via Reuters)


Sumber: Finbold News | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bitcoin (BTC) tengah berupaya merebut kembali area resistensi US$90.000. Namun, analisis terbaru dari seorang pakar trading menunjukkan bahwa aset kripto terbesar di dunia ini berpotensi mengalami koreksi signifikan dalam beberapa bulan ke depan.

Analisis dari TradingShot yang dipublikasikan di TradingView pada 28 Januari menyoroti kemiripan struktur pasar Bitcoin saat ini dengan pola bear market yang terjadi pada 2022. Berdasarkan perbandingan tersebut, Bitcoin dinilai berisiko turun hingga ke kisaran US$45.000.

Pola Pergerakan Bitcoin Dinilai Mengulang Siklus 2022

Dalam analisanya, TradingShot membandingkan grafik harian Bitcoin pada 2022 dengan struktur yang mulai terbentuk di 2026. Hasilnya menunjukkan bahwa reaksi harga terhadap sejumlah indikator moving average (MA) utama terlihat bergerak hampir identik, langkah demi langkah.

Baca Juga: Bitcoin Dekati Level Kritis, Risiko Masuk Siklus Bear Jangka Panjang Meningkat

Bitcoin diketahui telah mengalami penolakan (rejection) di level moving average 100 hari (MA100). Pola ini sangat mirip dengan penolakan yang terjadi pada Maret 2022, yang kemudian menjadi awal dari fase penurunan tajam menuju dasar bear market.

Saat ini, harga Bitcoin bergerak naik menuju pengujian ulang di area moving average 200 hari (MA200). Pada siklus 2022, MA200 menjadi batas akhir sebelum harga mengalami penurunan tajam dan berkepanjangan.

Pada periode tersebut, Bitcoin sempat stabil setelah tertolak di MA100, menguji ulang support, lalu reli menuju MA200 sebelum akhirnya berbalik turun drastis. Proyeksi untuk 2026 menunjukkan urutan yang sama, dengan potensi kegagalan di dekat area US$100.000, sejalan dengan posisi MA200 saat ini.

Level Harga Kunci Bitcoin yang Perlu Dicermati

Jika skenario penolakan di MA200 kembali terjadi, pola historis menunjukkan potensi penurunan bertahap melalui beberapa level support penting. Tahap pertama diperkirakan berada di sekitar US$70.000, kemudian turun ke kisaran US$51.000–US$52.000, dan pada akhirnya mengarah ke US$45.000.

Kedalaman koreksi ini mencerminkan proporsi penurunan yang terjadi pada titik terendah bear market 2022. Selain itu, keselarasan waktu antara kedua siklus menunjukkan bahwa potensi tekanan jual dapat mencapai puncaknya pada awal Oktober 2026.

Hal ini memperkuat pandangan bahwa pergerakan Bitcoin saat ini mengikuti pola siklus jangka panjang, bukan sekadar reaksi terhadap satu indikator teknikal.

Pengaruh Dolar AS dan Harga Emas

Prospek koreksi ini muncul di tengah kenaikan harga Bitcoin yang sempat menembus US$89.000 pada Rabu. Kenaikan tersebut didukung oleh melemahnya dolar AS serta lonjakan harga emas yang mencetak rekor baru di atas US$5.200 per ons.

Baca Juga: Profesor Ekonomi Senior Ini Sebut Bitcoin Bukan Safe Haven Tapi ‘Emas Palsu’

Dolar AS tercatat berada di dekat level terendah dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini mendorong minat investor terhadap aset alternatif seperti emas dan Bitcoin.

Meski demikian, Bitcoin masih bergerak dalam rentang terbatas di kisaran US$88.000–US$89.000, seiring pelaku pasar menanti keputusan kebijakan terbaru dari Federal Reserve (The Fed).

Para trader mencermati sinyal terkait potensi pemangkasan suku bunga. Suku bunga yang lebih rendah umumnya menguntungkan aset non-yielding seperti Bitcoin karena menurunkan daya tarik instrumen berbunga.

Analisis Teknikal Harga Bitcoin

Saat penulisan, Bitcoin diperdagangkan di level US$89.892, naik lebih dari 2% dalam 24 jam terakhir. Dalam skala mingguan, aset kripto ini masih mencatat kenaikan sekitar 1,4%.

Pada harga saat ini, Bitcoin berada hampir tepat di garis simple moving average (SMA) 50 hari di US$90.133. Posisi ini menunjukkan pasar sedang berada dalam zona keseimbangan jangka pendek, di mana harga belum menunjukkan arah yang jelas, baik untuk menembus lebih tinggi maupun kehilangan support.

Baca Juga: Aparat Korea Selatan Kaget: Bitcoin Sitaan US$48 juta Lenyap, Ini Risikonya

Sinyal yang lebih penting terlihat dari SMA 200 hari yang berada di level US$104.551, jauh di atas harga saat ini. Jarak ini mengindikasikan bahwa Bitcoin masih berada dalam fase koreksi atau konsolidasi jangka panjang, dengan tren besar masih tertekan selama harga belum mampu kembali menembus level tersebut.

Sementara itu, indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di angka 45,46. RSI di bawah 50 namun belum masuk area oversold menunjukkan momentum yang lemah hingga netral. Tekanan jual mulai mereda, tetapi pembeli juga belum mengambil kendali pasar.

Secara sederhana, kondisi ini menggambarkan bahwa Bitcoin saat ini lebih berada dalam fase “beristirahat” ketimbang memulai reli baru.

Selanjutnya: Bank Sentral Swedia Tahan Suku Bunga di Level 1,75%

Menarik Dibaca: Hujan Sangat Lebat di Daerah Ini, Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (30/1) Jabodetabek




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×