Sumber: Finbold News | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Profesor ekonomi senior Johns Hopkins University, Steve Hanke, kembali menegaskan pandangannya bahwa Bitcoin (BTC) bukanlah aset lindung nilai (safe haven) yang sesungguhnya.
Menurut Hanke, performa pasar terbaru justru memperkuat keyakinannya bahwa Bitcoin lebih tepat disebut sebagai “fool’s gold” atau “emas palsu”, ketimbang penyimpan nilai yang andal seperti emas.
Pernyataan tersebut muncul di tengah lonjakan harga emas yang menembus rekor tertinggi baru di atas US$ 5.000 per ons. Sementara itu, Bitcoin tertinggal jauh, diperdagangkan di kisaran atas US$ 80.000 setelah sebelumnya anjlok tajam dari puncaknya pada 2025.
Baca Juga: Aparat Korea Selatan Kaget: Bitcoin Sitaan US$48 juta Lenyap, Ini Risikonya
Dalam unggahannya di platform X pada 25 Januari, Hanke membagikan grafik perbandingan yang menunjukkan emas naik sekitar 48% dalam periode yang sama, sedangkan Bitcoin justru turun sekitar 21,6%.
Kenaikan stabil emas mencerminkan permintaan kuat terhadap aset lindung nilai, sementara Bitcoin tetap menunjukkan volatilitas tinggi dengan fase penurunan berkepanjangan.
Menurut Hanke, perbedaan kinerja ini menunjukkan bahwa ketika investor memprioritaskan perlindungan nilai modal, mereka memilih emas, bukan Bitcoin.
Reli emas dipicu risiko geopolitik dan aksi bank sentral
Reli emas menuju rekor tertinggi baru didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik global, kekhawatiran inflasi yang masih persisten, serta aksi pembelian agresif oleh bank sentral, terutama dari negara-negara berkembang.
Faktor-faktor ini semakin memperkuat posisi emas sebagai aset defensif yang diterima luas secara global.
Baca Juga: Bitcoin Anjlok ke Bawah 92.000 Gara-Gara Trump, Lihat Proyeksi Support Berikutnya
Sebaliknya, Bitcoin dinilai lebih diperdagangkan layaknya aset spekulatif berisiko. Meski kini akses institusional terhadap Bitcoin semakin luas melalui kehadiran spot ETF, aset kripto tersebut masih berada di bawah level tren jangka panjangnya dan gagal mengikuti pergerakan emas saat pasar mengalami tekanan.
Kritik fundamental terhadap Bitcoin
Hanke telah lama mengkritik Bitcoin dari sisi fundamental. Ia berpendapat Bitcoin tidak memiliki nilai ekonomi intrinsik karena tidak menghasilkan pendapatan, tidak mewakili klaim atas aset produktif, serta tidak digunakan secara luas sebagai satuan hitung dalam sistem ekonomi.
Ia juga memperingatkan risiko jika pemerintah atau korporasi menyimpan Bitcoin sebagai aset cadangan. Menurutnya, hal tersebut justru dapat menambah volatilitas dan menyebabkan alokasi modal yang tidak efisien.
Hanke menolak anggapan bahwa Bitcoin dapat disamakan dengan emas digital. Baginya, kelangkaan semata tidak cukup untuk menciptakan nilai tanpa stabilitas, penggunaan moneter yang luas, atau dukungan ekonomi yang nyata.
Dalam pandangannya, harga Bitcoin lebih banyak didorong oleh spekulasi dan momentum pasar ketimbang oleh faktor fundamental yang kuat, berbeda dengan emas yang memiliki rekam jejak panjang sebagai penyimpan nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.













