Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur China kembali mengalami kontraksi untuk bulan kedua berturut-turut pada Februari, mengindikasikan pelaku industri masih kesulitan mencetak laba di tengah lemahnya permintaan domestik dan investasi, meskipun ekspor tetap relatif tangguh.
Survei resmi yang dirilis Rabu (4/3/2026) menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur turun menjadi 49,0 pada Februari dari 49,3 pada Januari.
Data dari National Bureau of Statistics tersebut menjadi level terendah dalam empat bulan terakhir.
Baca Juga: Pentagon Umumkan Empat Tentara AS Tewas Pertama dalam Perang Iran
Angka PMI masih berada di bawah batas 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi, serta lebih rendah dari perkiraan median 49,1 dalam jajak pendapat Reuters.
Sementara itu, PMI non-manufaktur yang mencakup sektor jasa dan konstruksi naik tipis menjadi 49,5 dari 49,4 pada Januari, namun tetap berada di zona kontraksi.
Survei telah disesuaikan secara musiman untuk mencerminkan penutupan pabrik selama libur Tahun Baru Imlek yang berlangsung sembilan hari, dari 15 hingga 23 Februari tahun ini.
Namun para ekonom menilai model penyesuaian tersebut tidak sepenuhnya akurat sehingga penutupan luas tetap memengaruhi hasil survei.
Pada kuartal terakhir 2025, pembuat kebijakan menahan diri dari stimulus tambahan karena yakin ekonomi terbesar kedua dunia tersebut dapat mencapai target pertumbuhan sekitar 5%, didorong ekspor rekor dan upaya diversifikasi pasar dari Amerika Serikat sebagai respons atas tarif Presiden Donald Trump.
Namun, sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan akan tetap lemah pada kuartal pertama 2026 tanpa dukungan kebijakan tambahan.
Langkah seperti pemangkasan suku bunga secara terarah dan penurunan rasio cadangan wajib bank dinilai kecil kemungkinan mampu mendorong pertumbuhan secara signifikan, mengingat pelonggaran serupa sejak berakhirnya pandemi COVID-19 hanya memberikan dampak terbatas.
Baca Juga: CEO Goldman Sachs Nilai Pasar Butuh “Beberapa Pekan” Cerna Dampak Perang Iran
Perdana Menteri China Li Qiang dijadwalkan mengumumkan target pertumbuhan resmi 2026 pada pembukaan sidang tahunan parlemen nasional, Kamis (5/3).
Dalam jajak pendapat Reuters pada Januari, para ekonom memperkirakan pertumbuhan China melambat menjadi 4,5% tahun ini dan bertahan di level tersebut pada 2027.
Pekan lalu, Politbiro badan pengambil keputusan tertinggi Partai Komunis berjanji akan menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih proaktif dan efektif, dengan fokus pada stabilisasi lapangan kerja serta peningkatan permintaan domestik.
Pemerintah juga diperkirakan akan kembali menegaskan komitmen untuk menekan kelebihan kapasitas produksi saat Li Qiang menyampaikan laporan kerja pemerintah dan rencana lima tahun berikutnya, yang akan memuat prioritas kebijakan untuk tahun mendatang.













