kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.045.000   -77.000   -2,47%
  • USD/IDR 16.922   20,00   0,12%
  • IDX 7.646   -293,41   -3,70%
  • KOMPAS100 1.066   -44,74   -4,03%
  • LQ45 777   -28,93   -3,59%
  • ISSI 271   -11,68   -4,13%
  • IDX30 413   -13,98   -3,27%
  • IDXHIDIV20 504   -14,51   -2,80%
  • IDX80 120   -4,85   -3,89%
  • IDXV30 137   -4,32   -3,06%
  • IDXQ30 133   -4,13   -3,01%

Perang Iran Lumpuhkan 21.300 Penerbangan, Industri Aviasi Rugi Miliaran Dolar


Rabu, 04 Maret 2026 / 09:21 WIB
Perang Iran Lumpuhkan 21.300 Penerbangan, Industri Aviasi Rugi Miliaran Dolar


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Industri penerbangan dan pariwisata global kelimpungan menghadapi dampak konflik udara yang meningkat antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

Lebih dari 20.000 penerbangan dibatalkan dalam beberapa hari terakhir, sementara pemerintah berbagai negara bergegas mengevakuasi warganya dari kawasan Timur Tengah.

Sejumlah hub penerbangan utama di Teluk, termasuk Dubai International Airport bandara internasional tersibuk di dunia untuk penerbangan internasional masih ditutup atau beroperasi secara sangat terbatas selama empat hari berturut-turut.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih dari US$1 Rabu (4/3): Brent ke US$82,53 & WTI ke US$75,37

Data Flightradar24 menunjukkan sekitar 21.300 penerbangan dibatalkan di tujuh bandara utama, termasuk Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, sejak serangan dimulai.

Situasi ini mengacaukan perjalanan di kawasan yang selama ini berkembang sebagai pusat bisnis global dan tengah berupaya melakukan diversifikasi ekonomi dari ketergantungan pada minyak.

Konflik tersebut juga mempersempit koridor penerbangan jarak jauh antara Eropa dan Asia, sehingga mempersulit operasional maskapai global.

Maskapai-maskapai Teluk seperti Emirates, flydubai, dan Etihad Airways mulai mengoperasikan penerbangan terbatas sejak awal pekan ini, terutama untuk memulangkan penumpang yang terdampar.

Di Amerika Serikat, Delta Air Lines menghentikan sementara rute New York–Tel Aviv hingga 22 Maret dan menawarkan opsi penjadwalan ulang bagi pelanggan terdampak hingga 31 Maret.

Sementara itu, perusahaan kargo FedEx menyatakan menerapkan langkah kontinjensi untuk operasionalnya di Timur Tengah.

Pemerintah Uni Emirat Arab menyebutkan sebanyak 60 penerbangan telah diberangkatkan melalui koridor udara darurat, dengan rencana menambah lebih dari 80 penerbangan pada tahap berikutnya.

Amerika Serikat juga menyiapkan penerbangan militer dan charter untuk mengevakuasi warganya.

Baca Juga: Aktivitas Pabrik China Kontraksi Lagi Februari, PMI Turun ke Level Terendah 4 Bulan

Saham Maskapai Tertekan

Gejolak ini turut mengguncang pasar saham. Di Eropa, saham maskapai seperti Lufthansa dan Air France-KLM ditutup melemah 5% hingga 8%.

Di Asia, saham Japan Airlines anjlok 6,4%, sementara Korean Air merosot 10,3%, penurunan terbesar sejak Maret 2020.

Lonjakan harga minyak akibat konflik semakin menekan sektor ini. Harga minyak acuan global telah naik sekitar 30% sepanjang tahun ini, berpotensi meningkatkan biaya avtur yang merupakan komponen biaya terbesar kedua maskapai setelah tenaga kerja.

Sebagian besar maskapai AS sudah lama tidak melakukan lindung nilai (hedging) bahan bakar.

Dalam laporan tahunannya, Delta menyebutkan bahwa setiap kenaikan satu sen harga avtur per galon dapat menambah beban biaya tahunan sekitar US$40 juta.

Kenaikan 10% harga avtur diperkirakan bisa menambah biaya hingga US$1 miliar pada 2026.

Meski demikian, beberapa maskapai memiliki strategi lindung nilai yang lebih kuat. CEO Ryanair menyatakan perusahaannya telah melakukan hedging untuk 12 bulan ke depan pada kisaran US$67 per barel, sehingga fluktuasi harga minyak terbaru dinilai tidak akan berdampak signifikan pada kinerja perusahaan.

Baca Juga: Pentagon Umumkan Empat Tentara AS Tewas Pertama dalam Perang Iran

Ancaman bagi Pariwisata dan Kargo

Selain penerbangan penumpang, gangguan juga menjalar ke sektor kargo udara karena banyak maskapai penumpang mengangkut barang di ruang kargo pesawat mereka.

Analis memperkirakan jika konflik berlarut-larut, kawasan Timur Tengah berpotensi kehilangan miliaran dolar dari sektor pariwisata.

Permintaan terhadap rute alternatif melonjak, dengan harga tiket naik signifikan untuk jalur seperti Hong Kong–London.

Ketidakpastian ini memperlihatkan betapa rentannya industri aviasi global terhadap ketegangan geopolitik di kawasan yang menjadi simpul utama konektivitas dunia.




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×